Patah hati, luka, kecewa, marah, bingung, sedih, galau, dan segala jenis prahara lainnya barangkali akan selalu mampir dalam siklus kehidupan kita.
Kemarin, saat scrolling story di wa, ada status menarik dari adek kelas. Yang kurang lebih begini intinya :
Yang namanya hidup pasti bakal ketemu sama masalah. Kalau nggak mau, ya sudahi saja. Eh, bentar! Tapi jangan dink! Siapa yang jamin kalau kita mati masalah kita juga berhenti? Malah jangan-jangan, kita bakal ketemu persoalan yang berkali-kali lipat lebih rumit?
Gitu bukan? #heu
Tapi sepertinya semuanya sepakat, ya, kalau hari tak selamanya siang dan hidup tak melulu tentang riang.
Saya pun demikian. Selalu ada fase untuk bersinggungan dengan masalah. Tapi, setelah belajar untuk bertumbuh dengan cara yang lebih manusiawi, saya tidak lagi tega menjudges diri saya dengan :
"Iyalah sedih! Dirasa, sih!"
"Iyalah capek! Dirasa, sih!"
"Halaah, gitu ajaa. Lemah!"
Saat saya siuman, saya paham bahwa pernyataan tersebut bukan menghilangkan sedih ataupun lelah. Ia hanya menunda kehadirannya. :)
So, mari kembali ke topik, heu. Bahwa prahara kehidupan tak akan pernah bisa kita elakan. Tapi masalahnya, kita selalu ingin menghindar dari hal-hal yang di rasa nggak enak, bukan?
Jadi, kali ini saya ingin berbagi pengalaman. Bagaimana menjadikan jengkol yang keras lagi pait bisa jadi penambah nafsu makan.
"What? Jengkol? &%$#@! Bisa nggak sih, Meg, cari analogi yang lain?".
Haaahh sak karepkuuu! wkwkwk.
Ialah :
Saya selalu menyediakan ruang khusus untuk menggalau secara rutin. Biasanya sebelum terpejam dan tepar di atas matras.
Saya akan bermonolog ria dengan warna-warni perasaan yang sedang saya rasakan. Mengajaknya berdialog. Alih-alih membenarkan, saya lebih sering mengajaknya berdebat. Sebagai seseorang yang sedikit-sedikit pakai intuisi, perasaan, dan punya empati yang lumayan, kadang membuat saya kebabalasan. Jadi, dengan membangun ruang perdebatan ini akan memaksa saya untuk mengkritisi perasaan dan pemikiran saya sendiri.
Kalau udah overload, tidak ada cara lain menguraikan perasaan dan fikiran ini selain dengan menuliskannya: membuat benang kusut di hati dan kepala menjadi pola yang lebih mudah untuk terbaca. (Biasanya gitu, heu) Jika tidak,
ngalamat bakal sering mendistraksi pekerjaan-pekerjaan yang lain. Hiksss
Tiap kamis malam misalnya, adalah waktu khusus untuk
Me-Time. Di sini saya mengajak 'rapat' diri saya sendiri. Diskusi untuk mencari solusi probematika yang lagi viral di kehidupan si Nona Hujan. wkwkwk.
Lebih banyak menyediakan ruang untuk mendengarkan, karena ini berkaitan dengan kualitas kehidupan saya agar tetap seimbang dan terjaga kewarasannya. Kalau berhasil menelisik, maka akan muncul wawasan baru dari setiap permasalahan yang ada.
Saya punya keinginan untuk mendiskusikan wawasan ini ke orang terdekat. Cuma sampai sekarang belum bisa rutin, heu. Semoga nanti kalau udah ada -dia- , ya. #Uhuk!
Selanjutnya, ketika sedang kacau dengan emosi-emosi yang membuat saya
stuck. Saya selalu harus memastikan bahwa
I am still on the move. Cari kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan gerak fisik. Sesederhana mencuci piring atau nyapu lantai. Merasakan terapi dari air yang mengaliri kulit dan tangan. Sebab, tak selamanya situasi mendukung kita untuk mengeluarkan emosi saat itu juga, kan?.
Tapi, adakalanya cara di atas juga tidak berhasil. Ragam emosi terus saja meneror dan menghantui, maka, saya meminta diri untuk menyerah. Inilah saatnya sejenak menjeda. Memberi waktu 5 menit untuk duduk bersandar dan terkadang menangis, tanpa tahu alasan pasti mengapa saya menangis. Yang jelas hal itu cukup manjur meredam emosi yang sudah gaduh seperti genderang mau perang. Menangis sambil mengerjakan tugas lebih baik dari pada tidak mengerjakan sama sekali, bagi saya.
Demikianlah pengalaman saya. Dari beberapa hal tersebut selalu ada
SATU yang
WAJIB untuk dihadirkan. Ia merupakan katalisator yang tidak boleh tidak ada. Sebab, katalisator ini berperan untuk mengkonversikan luka menjadi asa, mengalihkan frustasi menjadi ambisi. Katalisator ini yang bertugas menciptakan kekuatan, untuk mewujudkan pengharapan.
Ialah Allah SWT.
Maka tiap kali saya bermonolog, saya tak boleh lupa mengajak Allah untuk masuk dalam fikiran-fikiran saya. Ketika saya rapat dengan diri sendiri, saya tak boleh lupa mengundang Allah untuk memberikan saya jalan keluar. Ketika saya menangis, maka saya sedang ingin pulang dan luruh dalam dekapan yang Maha.
Bagaimanapun, saya bersyukur bahwa prahara ini bisa menjadi aset pembangun jiwa, pikiran, dan raga yang tangguh. Saya bersyukur bahwa prahara ini bisa menjadi aset berharga yang semakin menguatkan keberhamabaan diri saya kepada Tuhan. Saya bersyukur, sebab, prahara ini merupakan aset yang bisa menciptakan sebuah karya bermanfaat untuk ku persembahkan pada-Nya.