Tuesday, 25 December 2018

Kebaikan Seorang Pengkhilaf




Dalam kaca mata seorang pengkhilaf seperti saya, bersedekah akan lebih mudah ketimbang dengan benar-benar bersyukur secara utuh.  Meskipun keduanya sensible esensinya mungkin sama.

Dalam kaca mata seorang pengkhilaf seperti saya, segala kebaikan yang nampak akan jauh lebih mudah di lakukan dari pada melakukannya dalam kerahasiaan. 

Kebaikan seperti bersedekah, memberi ke tetangga, membantu kerabat, mendengarkan keluh kesah orang lain adalah jenis kebaikan yang nampak. Boleh jadi kesemua itu sudah menjadi rutinan hal yang di lakukan.
Tapi siapa tahu? Bahwa melakukannya dalam kerahasiaan adalah kepayahan. Menyembunyikannya dari tangan yang lain itulah yang paling sulit.

Dalam kaca mat pengkhilaf seperti saya, kebaikan rahasia yang paling sulit untuk di lakukan.
Seperti bersyukur secara utuh, atas semua yang dimiliki atau tidak, yang kita dapat atau belum, yang telah datang atau yang sudah menghilang.
Seperti ridho atas segala sesuatu yang telah terjadi, yang tengah terjadi, dan yang akan terjadi.  Ridho atas segala takdir yang tetap maupun yang tetap bisa di rubah.
Kebaikan seperti memaafkan orang lain meski tak diminta. Mengikhlaskan hutang seseorang. Menghapus kecewa dalam diri.
Kebaikan seperti menahan perasaan amarah, sedih bahkan bahagia yang terlalu membuncah. Atau kebaikan seperti tak berprasangka kepada orang lain. Adalah jenis kebaikan yang sulit untuk dilakukan.

Padahal, sebuah kebaikan akan lebih bernilai jika tak hanya lahir kita yang melakukannya . Tetapi juga batin kita.
#ntms

Friday, 14 December 2018

MENG-UPAH DIRI



Salah satu bentuk upah terbaik yang bisa engkau hadiahkan untuk dirimu sendiri adalah : dengan memastikan bahwa dirimu hari ini lebih baik dari hari yang lalu.

Sederhana saja, seperti dengan memastikan bahwa kamu menjaga dirimu lebih baik dari kemarin adalah salah satu bentuk apresiasi yang sangat berarti.

Tak perlu yang muluk-muluk. Mulai dari hal simpel seperti memastikan bahwa pagi ini kamu tak melewatkan sarapan pagi. Minum air putih yang cukup. Atau dengan memberi jarak
diri baik-baik dari segala rupa micin.

Tak perlu terlalu keras terhadap diri. Pastikan saja bahwa kamu telah memberi cinta yang layak untukmu sendiri. Karena saat engkau mampu memberikan kebahagiaan untuk dirimu, engkau pun akan lebih mampu memberikan cinta terbaik untuk sekelilingmu. Termasuk keluargamu.

Sejatinya, aku tak pernah benar-benar sedang bersaing dengan dirimu. Melainkan aku sedang berlomba dengan diriku yang kemarin. 

Sunday, 9 December 2018

Temali Cinta Keluarga Ibrahm [Episode I]



Namrud dan Babilonia
Angin siang itu berhembus, menyapu rata semenanjung arab yang meranggas, membawa kabar berita dari timur, tentang tangga menuju langit yang dibangun dengan tujuan untuk menemui Tuhannya Ibrahim. Kabar itu tersiar panas, sepanas Jazirah Arab di siang hari yang gundul itu, tak ada yang mampu menahan laju anginnya yang membara di tanah tandus nan gersang, ia melesat dengan iringan suara bising dari palu, bodem, linggis, yang saling beradu jotos sepanjang waktu. Sementara angin itu sendiri bersumber dari nafas penderitaan, nafas yang termehek-mehek dari budak-budak nestapa yang seribu tahun usianya hanya untuk membangun tangga menuju langit itu.
Ialah Namrud Bin Kan'an. Tirani raksasa dari Babilonia. Kerajaan yang pernah menguasai sebagian besar wilayah Asia Barat danTimur Tengah, sekiranya di 2000 tahun SM.
Maha besar Allah yang telah menganugerahi Namrud dengan kecerdasan yang adiluhung. Raja yang telah dianugerahi dengan daya intelektual yang tinggi dan menjadi ahli dalam berbagai bidang seperti arsitektur, matematika dan ilmu falak. Disamping itu, Namrud mahir dalam perhitungan matematika dalam konstruksi bangunan-bangunan besar, jembatan, kuil, istana dan bendungan. Antara lain kontribusinya adalah konstruksi sistem saluran irigasi di lembah Tigris dan Euphrates.
Namun kecerdasan yang dianugerahkan oleh Tuhannya tak pernah ia gunakan untuk bersyukur kepada sang pemberi. Bahkan dengan angkuh ia menyangkal peringatan yang dibawa oleh Ibrahim, dengan ilmu falaq yang ia kuasai ia mempengaruhi pemikiran rakyatnya dan mengaku dirinyalah sebagai Tuhan yang paling agung. Dengan kecerdasan adiluhungnya ia membangun bangunan-bangunan megah untuk membuat takjub siapapun. Dan rakyatnya yang jahiliyah dengan begidik sembah sujud kepada si Namrud.
Maka kehidupan di Babilonia kala itu begitu bak dengan huru-hara. Manusia menghambakan diri kepada manusia. Memuja kesemenaan dan berhala. Tunduk kepada syahwat dan gemerlap duniawi. Yang melarat makin sekarat, yang serakah makin membuncah. Ah, tak akan kau temui tangan yang saling menguatkan, bahu yang saling menopang, semua orang beringas. Saling memangsa satu sama lain.
Duhai Raja Namrud yang terlampau sombong! Untuk menantang dan ingin menemui Tuhannya Ibrahim, dengan kecanggihan arsitektur yang ia miliki, Namrud mendirikan sebuah tangga menuju langit, tangga spiral yang mengelilingi menara babel yang dibangunnya begitu megah. Bangunan pencakar langit pertama di dunia. Puncaknya hilang diantara rerimbunan awan. Tak ada sepasang mata yang mampu menjangkau puncak menara, pandangannya menggantung, gelap, melayang seperti pandangan mata para budak pembuatnya yang tak jelas kemana arah kehidupannya. 
Maka saat rakyat Babilonia siang itu dimabuk kepayang oleh keserakahan dan gemerlap duniawi, Tuhannya Ibrahim dengan semudah mengucapkan huruf "Kaf' meruntuhkan kiamat dari puncak menara langit itu. Semuanya berduyun rangsek ke bumi. Mungkinkah pembangunan menara Babel ini salah alamat? Bukannya menuju kahyangan namun ia menyundul neraka? Sehingga kiamat meruntuhkan istanah dalam sekali hirupan nafas yang begitu pendek. Sependek nafas yang terengap-engap dari para budak nestapa yang membangunnya.
Duhai Namrud, Tirani Raksasa Babilonia, ingatlah, masih ada yang Maha Perkasa di alam semesta ini. Bukankah Tuhan melalui Ibrahim telah memberikan banyak peringatan?
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintah (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan : "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," Orang itu berkata, "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata, "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang - orang yang zalim." (QS. Al-Baqarah [2] : 258).
Duhai Namrud, Tirani Raksasa Babilonia, ingatlah, masih ada yang Maha Perkasa di alam semesta ini. Bukankah Tuhan melalui Ibrahim telah memberikan peringatan?
Bersambung... 

Thursday, 6 December 2018




If, if, if. 
If itu temannya setan. 

Keluarga Biasa



"Meg, Gw pindah rumah"
Sebuah chat masuk.  Seperti biasa, pengantar topiknya lugas dan tanpa basa-basi.  Chat itu datang dari seseorang yang saya kenal pertama kali saat bekerja di salah satu stasiun radio.

Sudah tertebak kemana topik chat siang ini akan berlayar.  Seputaran kerumahtanggaan, finansial, dan kawan-kawannya.

Pertanyaan klasik pun saya ajukan.
"Pindah ke mana, Say?"

Kami larut dalam obrolan siang ini.  Tanpa perlu wawancara serius, teman saya yang satu ini akan mengalir dengan sendiri untuk menceritakan tanpa perlu keluar dari teritori privasi.

"Alhamdulillah.  Mayan deket dari kota dan terjangkau ya, Saay" begitu responku.

Tak selang beberapa lama chat itu terbalas. 
"Kata Mas Bojo, yang penting dekat dengan masjid atau mushola, Ga."

Masyaa Allah, Barokallohu fiik. Batinku.

Saya cukup kenal baik dengan istri dan suaminya.
Mereka orang-orang biasa, dengan penampilan biasa.
Bukan seseorang yang akhey-ukhtey look-like-banget yang lengket dengan simbol-simbol islamis. Jilbabny biasa. Pakaiannya biasa. Meski kadang rok masih sekip dan lebih sering pakai jeans.
Namun, keduanya istimewa. Sebab, mereka adalah sepasang suami-istri biasa yang sama-sama bertekad untuk menjadi lebih baik. Meski perlahan tapi terlihat pasti.

Seperti bagaimana mereka  sangat menjaga shalat mereka untuk istiqamah dikerjakan di awal waktu.
Sedang suaminya juga berusaha keras untuk mendirikan shalatnya yang lima berjamaah di masjid. Hal ini pun berdampak  saat mereka memustuskan untuk mencari tempat tinggal baru.

Angin sakinah tengah menaungi keluarga ini.
Saya cukup sadar akan revolusi yang terjadi pada diri teman saya yg satu ini.  Gadis sumatra yang dulu cukup liar pikirannya, sehingga membuat ia terlihat memiliki kepribadian yang keras dan tak mudah untuk dipatuhkan, kini, semenjak menikah, ia bertransformasi menjadi perempuan yang begitu lunak.

Saya kira bukan karena lidah suaminya yang dingin.  Tapi karena prinsip luar biasa dari keluarga biasa ini: untuk sama-sama menjadi lebih baik setiap harinya dan ingin menggapai ridho Allah swt.
Barokallohu fiikum

Tuesday, 27 November 2018

Selangkah Menjejak ke Surga



Pernah nggak kamu ngalamin hal ini?
Di mana kamu merencanakan  suatu agenda kebaikan, tapi karena kamu bingung minta ijinnya, takut dimarahin, malu bilang sama orang tua, akhirnya rencana kebaikanmu itu kamu cancel dan kamu lepaskan begitu saja?

Padahal kebaikan itu bukan hanya untuk dirimu, tapi boleh jadi sarana untuk lebih mendekatkan orang tua ke surganya Allah. :(

Pernah nggak? Apa sering? #heu

Ssstt..  Dulu, saya pernah mengalami hal demikian.  Mandeg melakukan rencana kebaikan karena terbentur oleh ijin orang tua.
Akhirnya, setelah sadar bahwa hal seperti ini tak boleh dipasrahkan terus menerus, jadilah saya coba untuk cari solusi. Setidaknya saya telah berusaha agar selangkah saya menjejak ke surga tidak hilang begitu saja.

Begini cara saya...

Saya mulai dengan lebih peka terhadap respon-respon yang diberikan orang tua ketika kita sedang ngobrol dengan mereka.
Semisal, belum selesai menjelaskan, ortu lebih dulu sering menanggapi dan akhirnya maksud yang ingin kita sampaikan jadi tidak terdelivery dengan baik.
Maka saya coba cari akal jika hal demikian nanti terjadi kembali.
Semisal dengan mengingatkan,

"Pak, Bu.  Mega belum selesai menjelaskan.  Ijinin buat menjelaskannya sampai akhir ya, minta tolong untuk didengarkan  dulu dengan baik. Boleh nggak? :)"  atau dengan versi keseharian.

Pastikan kita memperhatikan adab-adab berkomunikasi, ya.
Berkata dengan kata yang menyenangkan dan mudah untuk dipahami orang tua kita. Bahasa yg baik. Menatap lawan bicara kita.  Dan salurkan pula energi yg ingin kita sampaikan.  (Misal, kamu ingin menyampaikan maksud baik, ya, salurkan energi positifmu).
Kalau orang tua kita sedang bicara dan sebaliknya, pastikan fokus kita buat mereka.  Hentikan sejenak aktivitas-aktivitas lainnya seperti scrolling wa dll.

Selanjutnya adalah saya memakai rumus ini :
1. Kita tahu yang kita mau.
2. Kita kejar yang kita mau.
3. Kita berikan ruang dan filter pendapat orang lain.
4. Kita berikan ruang untuk takdir atau ketetapanNya.
Empat hal tersebut satu paket.  Jadi, tidak untuk ditinggalkan salah satunya.
So, yuk cek penjelasannya satu-satu.

Point pertama.
Kita tahu yang kita mau.
Ini hal mendasar yang perlu kamu cek berulang-ulang sebelum dikomunikasikan dengan orang tua.

Kenapa kamu mau ini? Kenapa tidak yg lain saja? Bahkan, kenapa harus yang ini? Gimana caranya?

Persiapakan penjelasan terbaik. Jangan sampai ketika ditanya balik, kamu sendiri bingung.  Ahh ketauan deh kalau kita kurang matang dalam memutuskan  dan memperhitungkan.

Btw, saya juga pernah gagal di point pertama. Udah sering di skak mat karena terburu-buru bilang sebelum di persiapkan penjelasannya matang-matang.  Akhirnya cuma bisa diam. - - " Tapi its oke. Di kesempatan yang lain, saya akan berusaha bergaining sekali lagi.

Nah, kita meluncur ke point yang ke dua.
Kejar yang kita mau
Ini point yang cukup nano-nano.
Kita harus bersiap atas segala kemungkinan. Dan hanya ada 3 kemungkinan di sini.
Tiga kemungkinan tersebut adalah :
1. Yes
2. No
3. Oke kita kompromi.

Nah, kalau udah yes, orang tua ridho, insyaa Allah tinggal jalan ya.  Tinggal gimana kita menghadapi kemungkinan ke 2 dan ke 3.

FYI, mengkomunikasikan kebaikan tidak pernah menjanjikan bahwa jalannya akan mulus. Perjalanan saya mengkomunikasikan berbagai keputusan dengan orang tua yang menurut saya itu baik, banyak yang kemudian harus dilalui
degan air mata. Heu

Ora popo, jangan gugup ketika belum apa-apa ortu sudah bilang NO!
Kalem aja, dan arahkan untuk beralih ke kemungkinan yg ke 3, yaitu: Yuk, kita kompromi.

Coba ingat-ingat lagi rumus di awal :
1. Tau yang kita mau
2. kejar yang kita mau (kita komunikasikan dengan penjelasan terbaik yang sudah kita siapkan)
3. Filter pendapat orang lain (Nah, di sini waktunya kamu bergaining. Minta alasan atau pertimbangan orang tua mengapa mereka berkata tidak, kali aja memang ada benarnya) selanjutnya adalah
4. Terima ketetapanNya.  Yes! Tugas kita hanya  ikhtiar, soal hasil, mutlak urusan Allah. :)


Monday, 19 November 2018

Mencintaimu dengan Sederhana


Saya telah belajar dari kehilangan.
Bahwa selayaknya, kita hanya boleh mencintai sesuatu dengan sederhana. Dengan cukup.
Hadir sesuai kebutuhan dan memberi jarak sesuai kebutuhan.
Sehingga tak kan ada bahagia yang berlebih.

Tak perlu memberi cinta yang berlimpah-limpah.  Membuat ia tak bisa berpaling dari kita. Cukup mencintainya dengan sederhana.
Sehingga tak kan ada rasa sakit yang teramat ketika pada akhirnya pertemuan kita telah sampai pada batas ujungnya. Yaitu Perpisahan.

Puisi Aku Ingin - Karya Sapardi Djoko Damono. (yg katanya diciptakan ketika sdang patah hati)

Wednesday, 31 October 2018

[Menjadi Single Tasking]



Seseorang yang punya banyak fikiran random sepertiku perlu perjuangan keras untuk  mengerjakan satu tugas dalam satu waktu tertentu alias single tasking. 
Padahal kita semua tahu, bahwa fokus dan disiplin bakal buat kamu lebih optimal bahkan bisa meraih hasil yang outstanding dalam sebuah pekerjaan.

Kadang, lamanya saya mengerjakan tugas lebih banyak karena saya berusaha keras untuk mengalihkan berbagai jenis distraksi.
Misalnya, semacam pikiran-pikiran random yang suka seliweran di otak tanpa mau permisi terlebih dahulu.
Seperti : Eh, Tiba-tiba muncul pertanyaan-pertanyaan dari tugas yg sedang dikerjakan, lalu ingin cari tahu. Eh, tiba-tiba udah scrolling data dan berita, lalu tiba-tiba pengen nulis fakta-fakta yang dia dapat.  Lalu tiba-tiba sudah teleportase nongkrongin kerjaan yang lain!
Yang lebih parah lagi tiba-tiba secara tidak sadar sudah mantengin kucing lagi goyang-goyang di instagram!
Itu tuuuuhh rasanya pengen tepok jidad!

Dulu tipe belajar ku juga random banget.  Misal, ada 2 tugas matematika dan bahasa inggris.  Maka saya akan mengerjakan 5 menit matematika, 5 menit selanjutnya bahasa inggris. 
What the +@/(=@+(+=!!!.
Apa hasilnya?
Ya, kegarap semua.  Tapi kalau pola ini diterapkan ke pekerjaan yang lain akan lebih banyak menjadikan pekerjaan kita tidak selesai secara utuh.  Kadang, bikin stressnya karena saya ternyata sedikit perfeksionist, sehingga kalau ada pekerjaan tidak sesuai dengan yg saya karepin bikin badmood luar dalam.  Padahal salah siapa? Ya salah saya sendiri kenapa nggak fokus ngerjain  tugasnya!!! (#Uhuk! Kalem, Meg)

Saya tidak memungkiri bahwa pada beberapa hal, menjadi multitasking itu penting dan perlu. Di ranah yang sifatnya teknis banget misal.  Ada keuntungan efisiensi waktu dan semacamnya.  Hanya, tidak tepat rasanya jika pola multitasking ini diterapkan di pekerjaan-pekerjaan yg memang perlu effort secara pemikiran. 


So, mari rubah kebiasaan lamamu, ya, Meg.  😙
 Nah, cara saya transisi dari pola multitasking ke single tasking ini adalah dengan menggunakan sistim ''TIME BOXING!"

Akan saya bahas di postingan selanjutnya.

Friday, 26 October 2018

Ruang Khusus Menggalau & Aset Prahara



Patah hati, luka, kecewa, marah, bingung, sedih, galau, dan segala jenis prahara lainnya barangkali akan selalu mampir dalam siklus kehidupan kita.
Kemarin, saat scrolling story di wa, ada status menarik dari adek kelas. Yang kurang lebih begini intinya :

Yang namanya hidup pasti bakal ketemu sama masalah. Kalau nggak mau, ya sudahi saja. Eh, bentar! Tapi jangan dink! Siapa yang jamin kalau kita mati masalah kita juga berhenti? Malah jangan-jangan, kita bakal ketemu persoalan yang berkali-kali lipat lebih rumit?
Gitu bukan? #heu
Tapi sepertinya semuanya sepakat, ya, kalau hari tak selamanya siang dan hidup tak melulu tentang riang.
Saya pun demikian. Selalu ada fase untuk bersinggungan dengan masalah. Tapi, setelah belajar untuk bertumbuh dengan cara yang lebih manusiawi, saya tidak lagi tega menjudges diri saya dengan :

"Iyalah sedih! Dirasa, sih!"
"Iyalah capek! Dirasa, sih!"
"Halaah, gitu ajaa. Lemah!" 

Saat saya siuman, saya paham bahwa pernyataan tersebut bukan menghilangkan sedih ataupun lelah. Ia hanya menunda kehadirannya. :)

So, mari kembali ke topik, heu. Bahwa prahara kehidupan tak akan pernah bisa kita elakan. Tapi masalahnya, kita selalu ingin menghindar dari hal-hal yang di rasa nggak enak, bukan?
Jadi, kali ini saya ingin berbagi pengalaman. Bagaimana menjadikan jengkol yang keras lagi pait bisa jadi penambah nafsu makan.
 "What? Jengkol?  &%$#@!   Bisa nggak sih, Meg, cari analogi yang lain?".
Haaahh sak karepkuuu! wkwkwk.

Ialah :
Saya selalu menyediakan ruang khusus untuk menggalau secara rutin. Biasanya sebelum terpejam dan tepar di atas matras.
Saya akan bermonolog ria dengan warna-warni perasaan yang sedang saya rasakan. Mengajaknya berdialog. Alih-alih membenarkan, saya lebih sering mengajaknya berdebat. Sebagai seseorang yang sedikit-sedikit pakai intuisi, perasaan, dan punya empati yang lumayan, kadang membuat saya kebabalasan. Jadi, dengan membangun ruang perdebatan ini akan memaksa saya untuk mengkritisi perasaan dan pemikiran saya sendiri.
Kalau udah overload, tidak ada cara lain menguraikan perasaan dan fikiran ini selain dengan menuliskannya: membuat benang kusut di hati dan kepala menjadi pola yang lebih mudah untuk terbaca. (Biasanya gitu, heu) Jika tidak, ngalamat bakal sering mendistraksi pekerjaan-pekerjaan yang lain. Hiksss

Tiap kamis malam misalnya, adalah waktu khusus untuk Me-Time. Di sini saya mengajak 'rapat' diri saya sendiri. Diskusi untuk mencari solusi probematika yang lagi viral di kehidupan si Nona Hujan. wkwkwk.
Lebih banyak menyediakan ruang untuk mendengarkan, karena ini berkaitan dengan kualitas kehidupan saya agar tetap seimbang dan terjaga kewarasannya. Kalau berhasil menelisik, maka akan muncul wawasan baru dari setiap permasalahan yang ada.
Saya punya keinginan untuk mendiskusikan wawasan ini ke orang terdekat. Cuma sampai sekarang belum bisa rutin, heu. Semoga nanti kalau udah ada -dia- , ya. #Uhuk!

Selanjutnya, ketika sedang kacau dengan emosi-emosi yang membuat saya stuck. Saya selalu harus memastikan bahwa I am still on the move. Cari kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan gerak fisik. Sesederhana mencuci piring atau nyapu lantai. Merasakan terapi dari air yang mengaliri kulit dan tangan. Sebab, tak selamanya situasi mendukung kita untuk mengeluarkan emosi saat itu juga, kan?.

Tapi, adakalanya cara di atas juga tidak berhasil. Ragam emosi terus saja meneror dan menghantui, maka, saya meminta diri untuk menyerah. Inilah saatnya sejenak menjeda. Memberi waktu 5 menit untuk duduk bersandar dan terkadang menangis, tanpa tahu alasan pasti mengapa saya menangis. Yang jelas hal itu cukup manjur meredam emosi yang sudah gaduh seperti genderang mau perang. Menangis sambil mengerjakan tugas lebih baik dari pada tidak mengerjakan sama sekali, bagi saya.

Demikianlah pengalaman saya. Dari beberapa hal tersebut selalu ada SATU yang WAJIB untuk dihadirkan. Ia merupakan katalisator yang tidak boleh tidak ada. Sebab, katalisator ini berperan untuk mengkonversikan luka menjadi asa, mengalihkan frustasi menjadi ambisi. Katalisator ini yang bertugas menciptakan kekuatan, untuk mewujudkan pengharapan.

Ialah Allah SWT.
Maka tiap kali saya bermonolog, saya tak boleh lupa mengajak Allah untuk masuk dalam fikiran-fikiran saya. Ketika saya rapat dengan diri sendiri, saya tak boleh lupa mengundang Allah untuk memberikan saya  jalan keluar. Ketika saya menangis, maka saya sedang ingin pulang dan luruh dalam dekapan yang Maha.

Bagaimanapun, saya bersyukur bahwa prahara ini bisa menjadi aset pembangun jiwa, pikiran, dan raga yang tangguh. Saya bersyukur bahwa prahara ini bisa menjadi aset berharga yang semakin menguatkan keberhamabaan diri saya kepada Tuhan. Saya bersyukur, sebab, prahara ini merupakan aset yang bisa menciptakan sebuah karya bermanfaat untuk ku persembahkan pada-Nya.





Wednesday, 24 October 2018

Laa ilaaha illallah.


Udah pada tahu kan ya? Kejadian yang menggaduhkan sebagian umat Muslim di Indonesia. Bahkan, beberapa Muslim dunia ikut merespon kejadian ini.

Kok aku malah ngerasa merinding ya. Kayak, Allah tuh kasih momentum gini sebagai peringatan buat kita semua, untuk : mencerna lagi, memaknai lagi lafal
"Laa ilaaha illallah"
Nyess rasanya ketika melihat story orang-orang yang merasa  :

"Gw Gak Terima Kalimat Tauhid dibegitukan!" 
 
Terlepas siapapun yang mengucapkan. Tak peduli emang dia terkenal relijius banget di keseharian atau yg ibadahnya kadang malah sekip. Duhai rasanya... Bukankah itu sinyal bahwa keberhambaan terhadap Tuhannya terusik.

Barangkali, kejadian ini bisa jadi pintu untuk kita. Membuka ruang kontemplasi untuk : mengkritisi pemahaman kita selama ini.
PR untuk menggali lagi, Udah sampai mana sih?  udah segimana sih kita menjadikan Allah sebagai sebenar-benar ilahku? Sebenar-benar cinta sejatiku? Atau jangan-jangan selama ini kita hanya mengilahkan perhatian makhluk.
Udah segimana kita menjadikan secuil ilmu dan kemampuan yg Allah titipkan ke kita untuk semakin menguatkan Tauhid kita?

"Kayak pas Al-Maidah : 51, ya, Meg." Replay teman saya saat random-thoughts ini saya posting di WA .

Hehehe. Iyess.  Bener banget! Kayak kejadian Al-Maidah : 51.
Betapa setelah itu orang-orang berbondong-bondong untuk mencari tahu dan memahami firman Allah yang satu ini. (Maasyaa Allah, jadi pada baca quran dan tafsir semuanya.)
Semoga kita jangan sampai hanya terbawa euforia topik yg lagi viral saja ya. 
Tapi mampu membangun ruang muhasabah untuk diri kita sendiri. Kasian, ikut emosi tanpa ada usaha untuk lebih memahami. Yuk, sama-sama belajar lagi.

Tuesday, 23 October 2018

Mandiri



Dulu aku terbiasa sendiri. Menjadi mandiri adalah keahlianku. Hingga kau tiba dan meruntuhkan keangkuhanku.

Ah bagaimana bisa aku merasa payah saat membutuhkanmu

-Azifah Najwa

Minta Maaf


Minta Maaf

"Kamu ngapain sih minta maaf?"
Beberapa kali pertanyaan itu diajukan padaku.

Entah sejak kapan aku mempunyai kebiasaan ini.
Meminta maaf saat selesai menjalankan semua aktivitas :
Bukan cuma kepadamu, ke orang lain, tapi juga ke diriku sendiri.

Minta maaf bukan saja perkara siapa yang salah siapa yang benar.
Atau sekadar melepaskan segala sesuatu yang mengganjal di hati :
Tentang sikap yang berulang kali membuatmu tak enak hati,
marah namun selalu kau tutupi.
Dan seringkali terucap kata yang membuatmu kecewa dan patah hati.

Kita manusia biasa. Barangkali khilaf berulah dan salah mengeja makna.

Minta Maaf. 
Ia menjadi rambu-rambu, mengingatkan kita untuk putar balik.
Menilik lagi yang sudah terjadi.
Membangun ruang kontemplasi. 

Sebab, ada hal yang lebih penting dari sekadar mengucap maaf :
Ialah penyelesaian, jalan keluar, ada pertanggungjawaban

Friday, 19 October 2018

Mana Yang Lebih Baik?



Mana yang lebih baik, Jilbab Lebar Yang Akhlaqnya Cetek Atau Yang Biasa-Biasa Aja Tapi Pikirannya Melek?

Well, ini jenis pertanyaan yang sering kali muncul baik lewat DM atau pas lagi melingkar asyik bareng teman-teman atau adek-adek.

"Mbak, aku nggak pede kalau jilbaban lebar. Soalnya aku masih gini aja. Takut di bilang munafiq. Mbok cuma menang simbol aja"
"Mbak, gimana pandangan mbak mega sama orang yang jilbabnya lebar tapi akhlaqnya kurang baik sama tetangga. Pikirannya nggak terbuka. Dll"

Qiqiqiqi. Kadang aku merasa kasian tuh sama orang-orang jilbab lebar  Kenapa? Karena perspektif orang lain mengatakan bahwa seharusnya mereka yang berjilbab lebar adalah orang yang tidak boleh melakukan kesalahan ini itu. Tidak begini dan tidak begitu. Nggak boleh  kayak gini dan kayak gitu. 
Yaa.. Kita sih seneng yak kalau emang bisa begitu.  Tapi gimana yak? Kita juga manusia biasa yang senantiasa berniat untuk berproses.  Bukan emaknya malaikat. #heu 😅

Sebagai orang ndesa, kayaknya sekup perkenalan saya enggak sempit-sempit amat.  Walau mungkin, tetap saja tidak seluas teman-teman di lingkaran keseharian saya yang lain. I mean, ada banyak jenis manusia yang saya sebut sebagai kenalan.
Saya tidak mengeksklusifkan diri dan tidak hanya mau kenal dengan orang yang hanya punya standard tertentu.
Kalau boleh dibilang sepertinya dari yang jenis punk atau preman sampai yanv cadaran, hampir semua ada.
Daaaan...  It's  amazing to know them

Banyak yang penampilannya biasa-biasa aja, enggak akhey ukhtey -look-a-like- banget lah, yak. Tapi super juara kalau udah soal akhlaq. Empatinya jossh gandos! Solutif bingiit. Dan  pikirannya melek!!!

Sebaliknya, ada yang imejnya religious sangat, semua simbol pakaian, hijab, dll : islamis banget. Pengetahuan agamanya baday! Tapi belum bisa gotong royong sama tetangga. Masih suka ngomongin orang, lebay, grusa-grusu.  Yoo ngono2 kuwi.

So, mana yang lebih baik?!

Pandangku, yang lebih baik adalah siapa saja yang tak henti untuk terus memperbaiki diri.
Setiap hari, ia tak jemu untuk selalu berknovasi dan menjadi lebih baik dari dirinya yang kemarin.

Aku sadar. Tidak ada yang sempurna di dunia ini.  Ada yang lebih di sebelah sini, sedang di sebalah yang lain masih pincang.
Kita hanya bisa berikhtiar dan berproses untuk mencapai kualitas dan versi terbaik dari diri kita.

Barangkali, kita bisa saling belajar. Yang akhlaqnya baik bisa mulai memperkuat diri dengan memperbaiki kualitas ibadah. Sebaliknya, yang ritual ibadahnya kenceng bisa memperindah diri dengan senantiasa perbaiki akhlaq.

Karena, bukankah setiap orang punya wilayah strugglenya masing-masing? Iya nggak sih? 😬

---------------

كَلا إِنَّ الإنْسَانَ لَيَطْغَى * أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى

”Ketahuilah ! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,karena melihat dirinya serba cukup” [QS. Al-‘Alaq : 6-7].

Wednesday, 10 October 2018

Latifah

Latifah. 

Teman sedari piyik!
Kita suka dolan bareng, tapi kita punya khas ketertarikkan masing-masing.
Kalau aku ndak tahan kerja diam di ruangan, si Latifah suka mencak-mencak kalau harus ke lapangan. 

Inget banget nih, dulu pas udah lama gak ketemu terus si Latifah datang, belum juga masuk, di luar dia udah sorak-sorak kegirang sambil tereak!
"Enakkan kerja di ruangannnn kan????!!!"
Coba, kurang somplak apa lagi nih , bocah?😑

Sudah tertebak kemana obrolan siang yang lumayan bikin jidad kemringetan waktu itu akan di bawa. 
Topik utamanya tidak pernah berubah sejak kami duduk di SLTA.  Kecuali kalau dia sudah merasa puas dan merdeka buat ngece! (meski becanda).

"Kamu tambah imutt ya, Meg.  Ireng Mutlak! 🤣"

Waktu itu dia masih fresh graduate, kinyis-kinyiss baru diterima di perusahaan perbankan.
Aku faham perasaan merdeka di hatinya karena dulu aku juga sempat masuk di perusahaan yg sama.  Tapi metu karena suatu alasan. Dan itu bikin Latifah geregetan.  😗

"Nanti kalau aku udah perawatan kamu tersaingi loh, Peh! " 🙃

Latifah kumat lagi, dia mencak-mencak.

" Jangan, Meg. Jangan! Aku dulu ya yg nikaah, pleaseee!"

=#%(=@--#+(/#=

Sontak kami ngekel berjamaah. 
Entah pertemanan jenis apa kami ini.

Thursday, 4 October 2018

Bangku Penonton



Saya mendapat dua  perspective dari caption di atas.

Pertama, barangkali sebagian orang di sekitar kita  hanya melihat kita dari kulitnya saja.
Mereka mungkin tidak mau tau seberapa keras kita sudah berjuang, mati-matian, berpeluh, sekuat tenaga.
Mereka tidak mau tau
pertimbangan-pertimbangan kita yang menjadi ihwal dalam pengambilan keputusan.
Mereka tidak tau dan tidak mau tahu bagaimana kita telah berproses sedemikian rupa.

Ahh, yang seperti ini bolehkah kiranya diabaikan saja? Jangan mengharap pengakuan mereka, nanti pada akhirnya mereka sendiri akan tahu mengapa hati kita begitu keras memperjuangkan.- pikirku

Kedua, barangkali sebagian orang di sekitar kita hanya melihat kita dari kulitnya saja. Sama. Seperti yang di atas. Tak ada bedanya.
Satu-satunya hal yang membedakan terletak pada cara kita merespon.

Sore itu Prof. Yuli Fajar Susetyo, seorang psikolog, dosen UGM sekaligus penulis buku itu mengisahkan seorang Bobby Fishcher di sebuah seminar.
Kamu tau siapa Bobby? Dia adalah pecatur tingkat dunia yang punya kebiasaan unik di tengah-tengah pertandingan.
Bobby akan melipir dari kursi panasnya di tengah-tengah waktu,  lalu berdiri beberapa langkah dari meja papan catur.
Ia bediam sejenak layaknya penonton sambil memperhatikan bagaimana formasi catur miliknya dan rivalnya.
Tak lama kemudian Bobby akan kembali ke kursi panasnya dengan manuver yang tak pernah terduga sebelumnya.

Let's see! Betapa Bobby telah memberi perspektif baru untuk kita lewat permainan caturnya.
Hal ini membuatku berfikir, bagaimana menjadi penonton,  seseorang yang tidak pernah terlibat sama  sekali dengan kehidupan kita, bisa melihat celah kosong (blind spot) pada diri kita.
Jika kita sedang sehat, pandangan-pandangan mereka sebenarnya adalah kritik yang membangun bagi diri kita.  Naas, kadang.  Hati kita tidak selalu lapang dalam menerima perspektif yang sedikit mengilukan.  😔

Tuesday, 2 October 2018

CITA - CITA : DIKEJAR ATAU MENGALIR SAJA?



Pagi ini datang lagi pertanyaan dari seorang teman. Seperti gambar di atas. Chat itu saya screenshoot dan saya lempar pertanyaannya untuk publik melalui status WA. Dan hasilnya ada tiga jenis respon yang masuk, yaitu :
1. Tanya balik  😑
2. Dikejar Saja. 🔥 Jawaban ini lebih banyak datang dari mereka yang posisinya masih sekolah atau kuliah. Idealismenya masih josh! 👊🏽
3. "Sing penting ikhtiar, tapi jalannya ya ikut arus lah, Meg. Sambil melihat kode Alam".  😆 - Latifah. Respon sejenis datang dari yang sudah mulai kerja, #heu :). Mungkin mereka sudah sedikit merasakan babak belurnya menjalani kehidupan. Sehingga perlahan ada yang mulai pasrah, bergaining dengan alam, ada juga statement menyerah. 🙂

So, let me share pandangan saya mengenai hal yan satu ini.
Ngomongin soal cita-cita emang nggak pernah ngebosenin, yak.  😄
Ia adalah barisan doa-doa yang membuat kita semakin percaya bahwa kita hanya hamba biasa yang  sepenuhnya hanya bisa bergantung sama Tuhan. Bahkan kemampuan kita berusaha pun datangnya dari Tuhan. :)

Jadi, sebenarnya, pembatas cita-cita dan realita itu hanya dua :
1. Ikhtiar
2. Takdir Tuhan. 

Pandangku, aturan main seseorang yang berani memiliki cita-cita hanya ada 2 :
Pertama. Kita bisa bercita-cita setinggi langit, tapi untuk membuatnya menjadi nyata tidak bisa dengan seenak jidad duduk di tempat.
Kedua. Kita boleh jadi sudah sangat keras berikhtiar, tapi jangan melupakan  bahwa Tuhan sudah menggariskan takdir terbaikNya untuk kita. 
Itu saja aturan mainnya. Hehehe
Kalau dalam Al Quran tugas kita kan yang penting kan berproses, ya.  Eksekusinya kita serahkan ke Allah.
Jadi, kalau kita berani buat bercita-cita, Dua aturan main tadi satu paket.  Tidak bisa ditinggalkan salah satunya. 

"Haa njuk, terus piwe?" respon teman saya.

Nek pandangku, Sebenarnya yang terpenting dari cita-cita itu kan esensinya, ya. Bukan sekadar menjadi apa? Tapi mengapa? Dan untuk apa?
Misal (ngawang aja ini contohnya) : Aku pengen jadi Reporter.
Kenapa? Karena reporter adalah profesi paling strategist untuk mengungkap fakta-fakta dan kebenaran, biar tidak ada kebenaran yg ditutup-tutupi, dsb. dsb. #heu 😅

Tugasku emang berikhtiar piwe carane dadi reporter.  Tapi jangan melupakan esensi dari mengapa  dan untuk apa kita ingin jadi reporter tadi.
Kita kan masih bisa menyampaikan kebenaran walau nggak jadi reporter kan ya? Jadi menurutku justru esensi ini yang perlu terus kita kawal dan kita kejar, gimana caranya agar esensi dari cita-cita tadi bisa tetap kita dapat walau kita belum bisa menjadi seperti yg kita inginkan. #heu 😅
Misal lainnya mungkin : Kenapa aku kudu jadi orang kaya.  Kenapa kudu jadi pengusaha. Kenapa harus bangun sekolah. Wkwkwk dsb. dsb. Silakan ditanyakan pada diri sendiri.

Kini, dengan sedikit demi sedikit informasi yang masuk, merangkai cita-cita tak sesederhana karena saya ingin menjadi.  Meski pada kenyataannya, ketika ada sharing session tentang impian dan harapan, hampir selalu cita-cita saya yang sepertinya paling sederhana, tak pernah seambisius lingkaran pertemanan saya. Dan pada dasarnya segala jenis cita-cita itu sangat sederhana bagi Allah.
Nah, jadi bukan karena itu. Tapi bagaimana kita bisa mengarahkan cita-cita kita dalam rangka untuk memenuhi tugas-tugas yang Allah kasih ke kita. 😊
Iya, Allah menciptakan manusia kan pasti ada alasannya? Pasti ada Misi yang musti kita laksanakan? 😊 iya kan?
Sampai di sini dulu. Kita berikan jeda untuk bertanya dengan diri sendiri.

Itu sih kalau menurutku.
Ini 4 rumus yg jadi SOPku : hehe
1. Tau yang kita mau (apa, mengapa, untuk apa?).
2. Kejar yang kita mau
3. Beri ruang pendapat orang lain dan filter
4. Beri ruang untuk taqdir Tuhan. 



'
Jadilah engkau seorang sekailpun kakinya di bawah gunung, tetapi cita-citanya di atas bintang tsuraya dan zuha

Sunday, 23 September 2018

Cukup itu Lebih dari Cukup



Salah satu cara saya quality time dengan Bapak saya adalah dengan mengajak Bapak makan di luar. Siang itu,  Bapak nawarin untuk makan di Bakso langganan favoritnya.  And.. Yummyy! Sejak saat itu saya jadi ikut-ikutan suka makan bakso di sana.  Tapi sekarang, saya lupa kapan terakhir kali saya makan di tempat itu.  Bertahun-tahun jualan bakso,  ketika saya mau mampir untuk makan di sana, selalu saja kehabisan, selalu saja sudah tutup.  Pikirku, kenapa nggak buat lebih banyak bahan bakso saja, sih? biar lebih banyak untungnya?.

Hal yang sama terjadi ketika saya bertemu dengan seorang penjual tempe di desa binaan.  Si Ibuk ini jualan tempenya selalu habis setiap hari. Ketika ditawarkan untuk menscale up usahanya, merekrut tenaga kerja, memperbesar jumlah produksi dan meluaskan pasar, si Ibuk bilang,

"alhamdulillah  mbak, segini saja sudah cukup. Kami tak ingin terlalu berlebihan."

 Hmmm...  Saya merenung.  Sepertinya ini memang value yang  mereka pegang.   'Cukup' itu sendiri bagi mereka lebih dari cukup. Saya menghargai itu.  Terlepas dari opini, ketika si Ibuk penjual tempe itu bila bisa memscale up usahanya, maka ia akan membuka lapangan pekerjaan baru bagi orang lain, dan memberi lebih banyak manfaat, tidak hanya untuk keluarga tetapi tetangga-tetangganya, itu value yang lain.

*****

Eh..  Tapi alhamdulillah sih, sekarang si Ibuk ini perlahan udah mau dibina buat semakin menumbuhkan usaha tempenya.  Hehe. Sudah ada tetangga yang direkrut jadi karyawan juga. :)
Yang terpenting ada value yg ibuk penjual ini bawa ketika ia mau menscale up usahanya.

Thursday, 30 August 2018

Saya Senang Berkereta Api


Beberapa kali saya mendapatkan pertanyaan yang sama, seperti saat saya mengobrol dengan seseorang. 

"Mbaknya Trainer, kok sering naik kereta api?"
*&$%#@?  
"Loh, apa hubungannya, Pak? hehehe"
Ternyata si Bapak ini kemarin baru saja naik kereta api untuk yang pertama kali sak keluarga. Wah, hehehe jangan-jangan gara-gara sering liat statusku pas lagi di kereta ya, Pak? Ketahuan banget deh suka apdet status.

Tapi emang bener sih, satu tahun terakhir ini dari yang semula lebih sering naik motor kalau keluar kota sekarang memilih untuk naik kereta. Mungkin karena sudah semakin berumur, udah kayak embah-embah yang masuk anginan kalau kena udara dikit. Dulu sih pertimbangannya agar mobilitas lebih mudah kalau naik motor. Tapi sekarang kan udah ada Bang Ojol. hehehe

Bagi saya pribadi sih, kereta adalah tempat peristirahatan yang sederhana. Apalagi kalau sehabis ada aktivitas kejar tayang. Perjalanan di kereta bisa jadi tempat unik, nyaman, dan waktu efektif untuk tidur.😅

Puluhan bahkan ratusan orang beristirahat dalam luas ruang yang cukup jembar. Massal bergerak di satu titik, tapi disisi lain, privat di tumpuan kursi masing-masing. 

Satu sama lain mengobrol, beberapa diantaranya terlelap, ada yang tak mau ketinggalan untuk cekrak-cekrek dan apdet status, mainan ponsel, mengerjakan pekerjaan baik suka atau terpaksa, memikirkan sesuatu, melamunkan seseorang yang di sayang, atau mempertanyakan dirinya sendiri. -- di mana kereta ini akan singgah? ke mana hati ini akan berlabuh? apa tujuan hidup yang sedang aku kejar?
 (wahh.. naik kereta ternyata ribed, ya, Meg. wkwkwk) 

Bagi saya, ruang terbuka, kendaraan umum, orang massal, adalah sumber ilmu yang sangat luas. Ada  sedemikian banyak pembelajaran yang bisa kita dapat. Baik saat itu atau nanti-nanti kalau sudah lewat. Dari anak-anak, kakek-kakek, orang tua, pemuda.Yang keliatan kaya, atau sederhana,yang seperti orang kantoran, atau pekerja lepas, yang bersama keluarga, ada berjalan sendirian. Yang bercerita atau khusyuk dalam diam. Di masjid, di lapangan, di pasar bahkan toilet umum. Masing-masing menyajikan pelajaran yang berbeda.

Sangat menyenangkan belajar dari mereka.

Semua yang datang akan kembali pulang. Entah setelah itu hilang atau terabadikan dalam kenangan.




Friday, 24 August 2018

Menjadi Manusia(wi)




Dulu sy mendikte diri supaya tidak boleh ngeluh.  Karena beranggapan itu adalah sifat orang yang lemah.
Berulangkali saya memberi sugesti yang berlawanan dengan apa yg saya rasakan.

Setiap sedih dateng, respon saya,
"iyalah sedih. Dirasa, sih!" 
kalau cape,
"iyalah cape. Dirasa, sih!"

Berfikir bahwa masih banyak orang yg jauh lebih besar masalahnya. Saya terus menjalani hidup dengan konsep yang saya ciptakan sendiri. Setiap hari. Seperti robot. Tanpa rasa.

Tapi..  makin lama njalaninya rasanya makin berat.

Hingga pada suatu saat, saya capek!
Secape-capenya! Boleh jadi rasa cape yang saya rasakan adalah akumulasi dari rasa cape yang selama ini coba saya sembunyikan. Barangkali dalam kata lain, rasa cape yang saya tunda kehadirannya.

Baru setelah itu saya sadar. Saya bukan berusaha positif. Tapi denial, mencoba kabur dari sedih. Dan terlalu mengecilkan masalah sendiri.
Efeknya? Saya jadi sebel ndengerin orang lain ngeluh!

"yaelaa..  gitu aja capek!"

Saya membandingkan dg masalah sendiri dan merasa seharusnya sy yg paling berhak mengeluh.

Ternyata setelah mengecilkan masalah sendiri tanpa sadar saya juga mengecilkan masalah orang lain.Hingga akhirnya saya ingin tobat saja. Saya ingin jadi manusia saja. 

Gagal ya sedih, berhasil ya seneng, cape ya ngeluh.

Ppfft...  Ternyata rasanya enteng menjadi manusia yang manusiawi.
(*asal tidak berlebihan. Yang berlebihan nggak baik buat kesehatan)

Dan buanglah sampah pada tempatnya. 

Eh, maksudnya mengeluhlah ke orang yang tepat!

Saya penasaran, bagaimana rasanya mengeluh di sosmed.  Akhirnya saya coba. Beberapa kali saya coba. Berharap ada yang respon, bilang semangat, ngasih solusi, tapi nyatanya ndak ada.  Malah mungkin mereka illfeel (soalnya likersnya makin dikit)  😂

Jadi sebenarnya apa ya yang dicari? Saya tidak bermaksud menghakimi yang sering curhat di medsos. Cuma pengen tahu aja kenapa?  Apakah lantas ada perasaan lega dan masalah selesai?
Siapa tau ada insight lain. Jadi..  Sebenernya saya juga sedang curhat.  😂

Setelah fase drama (lebay), denial, normal, barangkali juga teman-teman menemui fase
"yo wes lah! Pasrah!"
😂😂😂

source  : nkcthi

Makhluk 'Terserah'


"Jadi nanti mau ngumpul di mana, nih?"
"terserah"
"kamu mau makan apa?"
"terserah". 
"Iya atau enggak, nih?"
"terserah"


Haaaiiisssshh
 😪

Dulu, sering banget njawab 'terserah' kalau dikasih pilihan semacam di atas.  Tapi giliran nanya balik dan di kasih jawaban 'terserah' kok rasanya gemes, ya?
Ehehe. Mau nggak mau akhirnya jadi ngaca, deh.

Nggak tau sih, makin berumur rasanya pengen lebih efisiensi waktu aja.  :)
Mungkin dengan kasih referensi opini yg jelas kita bisa saling meringankan dan lebih hemat waktu.  Kalau iya, kita next. Kalau enggak, kita cari jalan lain. 

Yang jadi masalah kadang kata 'terserah' nya itu abal-abal. 

"Kalau nanti ke warung seblak, gimana? "
"ihhhhh....  Aku nggak doyan!"
"katanya terserah? 😐"


Hahahahahhahaha.  Siapa yang kayak gini, cung! ☝🏽

Akhirnya perlahan sy coba ubah sikap. 
"Terus mau di mana?"
Kalau rasanya nggak tau pasti, paling tidak  sy akan deskripsikan. 
"Pengen di tempat yang tenang, terbuka, adem. Enak buat mikir.  Enak buat kerja, bla bla bla. Kalau di sini, gimana?"

Jadi sy mencoba untuk memberi referensi opiniku. Walaupun ruang pendapat orang lain dan takdir itu tetep wajib di kasih tempat. 
Kalau misal ngasih jawaban 'terserah' berarti saya bertanggung jawab untuk menerima keputusan apapun. 

Semisal soal makanan.  Karena emang dasarnya, sy tidak pilih-pilih makanan, kata terserah ini kadang masih suka keceplosan. 
"Terserah"
Hahaha kasian temanku jadi bingung.  Masalah sy mau makan apa aja dia harus mikirin.  Wkwkwk walau emang kalau soal makanan emang  terserah, sih, bisa makan apa aja.  Jadi, biasanya aku bakal bilang
"kamu mau makan apa? Aku samain menunya kayak punyamu, ya. Aku omnivora, kok" 😅

Iya.  Jadi begitulah. 
Kalau kata mbak Tris,
Ku tahu yang ku mau.
Ku kejar yang ku mau.
Ku saring pendapatmu.
Ku terima yang dikehendakiNya

Tuesday, 31 July 2018

Hampir Mati

Pernahkah kau menakar kadar cinta dalam hatimu, Kepada-Nya?

Atau mungkin, sekarang kau tersadar, bahwa kau tak bisa merasakan apa-apa.  Bahkan walau  sekadar 'terkejut' tahu nuranimu tengah beku.
Hatimu meranggas. Langkahmu lunglai. Fikiranmu runyam. Tak tahu apa yang sedang kau cari. 

Nampaknya kalbumu sedang kebal. Tersekat oleh dinding-dinding maksiat. 
Terputus selaras dzikir dan doa yang turut terhenti. 

Kemari ...
Tilik lagi imanmu.
Boleh jadi, sepertiga malam mu sering terlewat.
Barangkali ada hak orang lain yang belum tertunaikan.
Atau mungkin kau ambil lagi sebagian dari jatah mereka. 
Lupa diri. Tak terkendali. Nafsu dunia merajai hati. 

Kau tersadar.
Hatimu kosong, jiwamu hampa.  Ia hampir mati.
Nelangsa melawan kemarau yang sedemikian lama. 😖

Kembalilah ...
Belum terlambat.
Sirami lagi agar ia mampu bertahan untuk hidup.
Basuh lagi dengan cinta-Nya.
Hidupkan lagi sepertiga malamnya.
Alirkan lagi energi kebahagiaan.
Hiduplah lagi dengan fitrahmu.

Cinta kita sering kali ala kadarnya. 
Namun kasih Allah tak terbatas.

Rasa Rumit



"Bulek Nangis" begitu kataku ketika menceritakan kepada Bapak saat aku datang ke pernikahan anak perempuan Bulek di Banjarnegara.

Bapak diam sejenak.

"Alm. Ibukmu juga nangis pas mbak lela nikah." Kata Bapak beberapa saat kemudian.

Nampaknya fikiran kami sama-sama dibawa ke masa 6 tahun silam. 
Masih jelas betul bagaimana harunya alm. Ibuk melepaskan anak perempuan pertamanya.
Hampir sama seperti Bulek saat bertemu denganku.  Ia memelukku erat. mengeluarkan segala perasaan di hati yang cukup rumit melalui air mata.
Anak perempuan satu-satunya, pada hari itu resmi menggenapi separuh agamanya. Pada hari itu pula surganya beralih kepada suaminya.  Dan pada hari  itu pula perjalanan ibadah terbesar di mulai. Baktinya kepada suaminya nanti yang akan mengantarkan Bapak-Ibunya ke surga. 

Aku terdiam. Mulutku bungkam. Hanya bisa menyalurkan energi melalui pelukkan bulek yang aku balas. 

Aku memandangi putri bulekku yang usianya sekitar 4 tahun di atasku.  Lalu beberapa saat kemudian kenangan-kenangan dahulu secara acak muncul di fikiranku.
Pasang surut kehidupan rumah tangga Bapak dan Ibukku tiba-tiba terkenang. Aku semakin paham, mengapa hampir setiap Ibuk yang aku jumpai baik dipernikahan sanak famili, teman, dan lainnya matanya sembab karena menangis. Walau mungkin tangisannya disembunyikan.
Pernikahan adalah peribadahan besar, maka ujiannya pun besar.  Setiap orang tua paham betul apa-apa yang kelak akan dihadapi oleh anaknya setelah akad terikrarkan. Wajarlah bila mereka tak kuasa menahan perasaan-perasaan rumit yan membuncah dalam dadanya.

Tiba-tiba aku baper.  Bukan karena aku masih jomblo, bukan. [bersambung  ...]

Saturday, 21 July 2018

Kaya Rasa


Setiap kesulitan yang kamu alami, timbul tenggelamnya hidup yang kamu lewati, akan menjadikanmu sosok yang kaya rasa. Jadi, nikmati saja alurnya, belajarlah darinya.

Di masa depan, hal itu  akan sangat berguna ketika kamu sedang dalam siklus hidup yang sama. Atau barangkali kamu bisa menjadi jalan keluar bagi permasalahan orang-orang di sekitarmu.

Saya percaya guru terbaik dalam hidup itu adalah pengalamanmu sendiri. Ia membuat kita dapat merasakan bagaimana emosi yang timbul dari suatu kejadian. Ia membuat akal kita bekerja lebih taktis dalam memecahkan persoalan. Sebab, akal dan rasa biarkanlah keduanya beriringan. Mereka yang membuat kita dapat memanusiakan manusia.

 Kamu ... akan semakin matang.

Wednesday, 11 July 2018

[P. A. M. I. T]


Kamu tentu paham untuk urusan perpisahan aku yang paling tidak professional. Terlebih beberapa hari terakhir begitu banyak orang yang memutuskan untuk pergi.
Kalau ternyata aku sedih, itu pertanda bahwa Aku telah menyisihkan satu ruang di hatiku untuk kau tempati.

Bagaimana pun setiap perjumpaan selalu satu paket dengan perpisahan. Nyatanya, aku tak dapat menahanmu untuk tetap tinggal, maka cara terbaik menyikapi pamit dari mu adalah dengan melapangkan hati.

Teriring doa dariku untukmu. Semoga Tuhan senantiasa menjagamu dan melimpahi dirimu dengan keberkahan.


Friday, 29 June 2018

Berproses [Jilid III]



Barangkali ada banyak hal yang memang akan terlewati seiring berjalannya waktu.
Tanpa kita harus mengahadapi,
Tanpa harus mengatasi.
Kita hanya duduk dan berharap hari itu akan berlalu.  Dan memang, berlalu.

Tapi pasti, proses saat kita menunggu akan terasa begitu
mendebarkan,
tak karuan,
hati tak nyaman,
pikiran tak tentram,
lalu berharap hal ini agar cepat-cepat menghilang.
Iya, kan?

Berproses bukan hanya soalan berapa lama waktu yang sudah kita lalui.
Andai begitu, usia akan sebanding lurus dengan kadar kedewasaan seseorang. Nyatanya, tak selalu.

Berproses adalah bagaimana cara kita melalui hari itu.
Berproses adalah bagaimana cara kita menghadapi persoalan.
Berproses selalu membuat kita belajar dan bertumbuh.

Maka, menghadapi persoalan hanya dengan menunggu sang waktu menggulirkan hari tak akan pernah membuat masalah kita benar-benar selesai.
Ia hanya berlalu dan suatu saat akan kembali menghampirimu.
Lalu apakah kau akan kembali duduk cemas sembari menunggu?
Kalau begitu teruskan saja hingga kecemasanmu menikammu dengan perlahan.

Sunday, 24 June 2018

Berproses [Jilid II]



Kamu tahu? Bahwa harapan dan kenyataan kita hanya dibatasi oleh garis ikhtiar dan taqdir.

Kabar gembiranya, Allah tidak hanya melihat hasil. Namun lebih kepada proses.

"Dan katakanlah, Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." - (QS. At-Taubah 9: Ayat 105)

Maka, berproseslah.  Berikan ikhtiar terbaikmu semata-mata karena Allah mencintai orang yang berusaha.
Jangan mencemaskan ketetapan yang sudah Allah gariskan.
Cemaskan dan fikirkan saja bagaimana agar setiap proses yang kita jalani mendapatkan ridho dari Allah.
Cemaskan dan fikirkan saja apakah kita menuai keberkahan dalam setiap proses yang kita ikhtiarkan atau tidak?

Perkara hasil? sudah jelas bahwa ketetapan Tuhan merupakan sebuat ketepatan yang mutlak.

Berproses [Jilid I]



Berproseslah dengan tenang.
Selayaknya Ibu yang damai mengandung anaknya 9 bulan.*

Tak mengapa bila memang harus terjaga lebih lama.
Tak mengapa bila harus menahan nyeri saban hari.

Berproseslah...
Tak jadi soal bila memang harus
berlari lebih jauh.
Tak jadi soal bila memang harus berusaha lebih keras.

Tetaplah berproses...
Tak peduli bila memang diri ini membutuhkan waktu lebih banyak dari yang lain.
Untuk dapat mengerti, untuk memahami arti.

Kamu tak perlu menuntut dirimu sama cepatnya seperti yg lain.
Tak perlu menuntut sama hebatnya seperti yg lain.

Setidaknya kembalikan semua niatan kepada pemiliknya.
Agar selama apapun waktu yang kita perlukan untuk berproses
menjadi salah satu bentuk dzikir yang terus mengalir.

Tetaplah berproses...
Dan jangan berhenti.
Biar Tuhan saja yang menjadi penentu kapan proses ini harus menepi

*kutipan : Menyimpul Sepi

Wednesday, 6 June 2018

Pulang

Ada yang mencemburui kata ‘pulang’
Sebab akhir-akhir ini namanya begitu riuh menggema oleh penghuni depan rumah
Sedang hatinya sepi, menunggu yang pergi tak  kunjung kembali.
Maka alasan setiap kali kakinya bertolak
Adalah tekad utuk turut bisa  berkata
: Aku pulang

Catatan 4 tahun silam. Diposting ulang di ;
Surakarta, 06/06/2018
Yang merindukan Bapak, Abang  dan Mbakyu kesayangan.

Sunday, 13 May 2018

Satu Arah [Jilid 1]



Bersama dia. Saya bahagia menjadi pendengar sebagaimana ia bahagia menceritakan.
Kami tak sama. Meski banyak orang yang suka ketuker2 ketika memanggil nama kami.

Dia suka stand up, aku lebih banyak seriusnya. Dia jalan nyantai, aku sukak lari-lari 😓
Dia suka nekad,  sampai bikin aku nggak kuwad! 😣

Bayangin aja dalam hal yang remeh-temeh saja kita sering berbeda.  Seperti seberapa sering aku ngeluh
"Za! Cepetan napah?!"
Atau seberapa banyak dia komplen
"Meg! Pelan-pelan dong! Capek tauuk!"

Dia suka backpackeran ke Barat, aku jalan sendirian ke timur.

But,  it's life.  Bukankah saban hari kita banyak dibenturkan dengan bermacam perbedaan. Tapi perbedaan itulah  yang sebenarnya kita pelajari dalam hidup. Bagaimana sebuah hubungan persahabatan, pernikahan, kekerabatan, kekeluargaan bisa bertahan, adalah pada saat seluruh unit didalamnya belajar dari perbedaan masing-masing.

Wa are different. But, We learn from each other.

Meski pada kenyataannya belajar itu nggak seenak coklat.  Atau mendoan barangkali.
Kadang sukak jadi sebel tanpa alasan sama dia. Saat orang lain terang-terangnya mbandingin Aku dan Dia. (udah kayak judul pelm aja).  Dan pasti sebaliknya.
But, itu kode buat masing-masing kita.
Biar kita ngerem dikit, belajar melek, boleh jadi ada yang terseok-seok saat mereka mencoba mengimbangi kita sepihak.
Itu kode buat kita, biar kita belajar peka. Boleh jadi kita nyante2 saat dia sedang susah payah   melakukan sesuatu untuk kebaikan bersama.

Itu kode buat kita.
Agar kita belajar tentang ketersalingan.  Saling cerita, saling dengar, saling mengimbangi, saling memahami.

Itu kode buat kita agar kita belajar untuk menghargai cara pandang masing-masing, perasaan masing-masing, bahkan hal-hal kecil yang boleh jadi tak terlintas difikiran kita.  Apa misalnya?  (kalau ada yang tanya baru aku jawab deh.  Hehe)

Aku dan Dia.
Kita berbeda.
Dia kutub utara, aku kutub selatan, karena itulah kita menyatu.

Dia ke Barat. Aku ke Timur.
Namun sejatinya, kita sedang menuju arah yang sama.
Pada suatu titik, kita saling bertemu.
Untuk itulah kami bisa berjalan beriringan. Tanpa perlu memaksa aku menjadi dia, atu dia seperti aku.

Karena kita
Satu Arah.

Saturday, 12 May 2018

Menulis. Menerjemahkan Fikir.


Seseorang yang menulis, tujuannya tak melulu agar orang lain paham dengan cara berfikirnya.
Terkadang, seseorang menulis hanya untuk memahami dirinya sendiri.
Untuk menguraikan apa-apa yang berbelit-belit di fikirannya.
Untuk menerjemahkan sesuatu yang memblundet di otaknya, menjadi pola yang lebih terartur, sederhana dan mudah untuk dibaca.
Dari situ ia mulai memahami apa yang sebenarnya sedang ia fikirkan,
apa yang ia inginkan, apa yang musti dilakukan, dan apa yang memang perlu didiamkan.

Responsif



responsif/res·pon·sif/ /résponsif/ a cepat (suka) merespons; bersifat menanggapi; tergugah hati; bersifat memberi tanggapan (tidak masa bodoh)

Kamu tahu? Aku sedang berusaha keras untuk menjadi biasa-biasa saja ketika kamu muncul.
Tidak terburu dan berlarut-larut untuk menanggapi apa-apa yang kamu bicarakan.
Sekuat hati berusaha untuk mendiamkanmu dan berharap agar kamu cepat-cepat berlalu.

Tuesday, 1 May 2018

Ketetapan Ketepatan I



Dulu saya pernah berandai-andai.
Andai rumahku di kota,  akses akan lebih mudah dijangkau, nggak perlu subuh - subuh berangkat ke kota, nggak usah lewat malam sampai ke rumah. Sendiri lagi #wkwkwk
Nggak perlu 2 kali sehari ngisi Bensin full, butget pasti lebih ngirit 😬 dan  segala keenggakperluan  yg lain.

Eh, makin ke sini makin sadar, seharusnya yang nggak perlu itu ya berandai-andai itu sendiri.  Iyalah, Allah baiknya itu tepat, kasih tempat berteduh di desa, biar pas pulang saya bisa sebenar-benarnya istirahat.
Allah baiknya tepat banget, kalau ke kota saya di kasih kesempatan untuk berada di tengah hiruk-pikuk orang, saat pulang adalah saat aku bisa Q-Time-an sama keluarga dan diri sendiri.
Berhubung fokus saya mudah teralihkan, Allah kasih sebaik-baik tempat untuk  konsentrasi saat belajar.  Dan masih banyak lagi ketepatan atas kebaikan yang Allah berikan.
Nikmat Allah bejibun, syukur saya yang sering diitung-itung.

Thursday, 26 April 2018

Hujan dan Doa Kita



Kamu tahu mengapa hujan sering kali membuat kita baper?
Mungkin karena tanpa kita sadari, 
kita sama-sama saling mendoakan.
Lalu boleh jadi Tuhan menyampaikan doa kita 
melalui aroma hujan yang sama-sama kita hirup.
Dan akhirnya salam yang kita panjatkan sama-sama 
menyentuh relung hati kita masing-masing.



Ibnu Qudamah dalam Al Mughni[1]mengatakan, ”Dianjurkan untuk berdo’a ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ ثَلَاثٍ : عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ ، وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ ، وَنُزُولِ الْغَيْثِ

“Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan : [1] Bertemunya dua pasukan, [2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan [3] Saat hujan turun.”[2]

Sumber : https://rumaysho.com/1695-turun-hujan-berdoa.html

Monday, 23 April 2018

Bagaimana Bila Keadaanmu Sama?


Pagi ini beberapa chat masuk.  Serentak mengatakan
"Maaf, mbak. Hari ini aku nggak bisa jadi bantu" kurang lebih begitu kalimatnya.
Disusul dengan alasan masing-masing yang saat itu belum dapat kuterima.

Aku hanya membaca pesan-pesan itu. Perasaanku sedang tak menentu. Tak bijak rasanya ketika harus menanggapinya dalam keadaan hati yg tak stabil.

Seketika pikiranku ambyar.  Beberapa jadwal yang saling berkejaran menuntut untuk diselesaikan.
 Waktu yang sudah diatur sedemikian rupa, jadi kacau tak karuan.
Belum lagi grup yang satu ribut  karena kurang orang.
Satu makhluk di depanku juga sudah mulai mecucu dan berkomat-kamit
karena sadar bahwa semua tak lagi sesuai rencana.

Ahh..  Pelupuk mataku berembun.
Dalam keadaan seperti ini rasanya mengutuk semua orang boleh jadi dapat memuaskan amarah.
Memojokkan, memberi tekanan, menyalahkan, seharusnya aku mempunyai kewenangan untuk melakukan hal yang sama.

Aku berlalu.  Ku netralkan perasaan dan mulai berfikir, bahwa aku akan mengerjakan yang aku bisa. Memberikan ikhtiar terbaikku saja.
Meski sempat ada cemas, bagaimana bila nanti aku jadi mc sendiri, jadi pembicara sendiri, ngasih snack sendiri, dokumentasi sendiri,  ke sana ke mari sendiri. Dll.

Rasa-rasanya....

Namun, tiba-tiba terlintas di fikiranku ...

"Bagaimana bila kamu pun sama?"
harus menyelesaikan amanahmu seorang diri, sehingga mau tak mau membatalkan kesepakatan yang sudah kita sepakati.

"Bagaimana bila kamu pun sama?"
Harus berjuang seorang diri, karena satu dan lain hal yang di luar kendali.

"Bagaimana bila kamu pun sama?"

Astaghfirullah...  Laa hawla walaa quwwata illaa billah.

Aku melangkah.  Kali ini langkahku terasa lebih ringan. Hatiku pun mulai lapang. Dan pertolongan Allah berdatangan saat kita mengembalikan semua padaNya.

Hari Ini Aku Menyatakan Cinta



Boleh jadi deklarasi cintaku kali ini adalah deklarasi cinta paling tabah seumur masa.

Sebab baru kali ini aku menyatakan cinta tanpa syarat air mata.

Meski  bening-bening di pelupuk mata akhirnya retak dan pecah.
Setidaknya ia tak mengalir di hadapanmu, bukan?

Tadi...
Harusnya aku memelukmu erat saat perpisahan.
Namun nampaknya aku tak cukup berani dan percaya diri.
Ah...  Paling tidak aku telah mengungkapkan rasa kagum yang teramat lama kupendam.

Kamu tahu apa yang paling kusukai dari sebuah perpisahan?

Ialah kesempatan untuk bertemu lagi, lagi, dan lagi.
Dan di saat yang sama, aku akan mengungkapkan cintaku sekali lagi, lagi, dan lagi.

Tuesday, 10 April 2018

Kopi Malam



Cangkir-cangkir itu selalu setia menemani lingkaran kita.
Sensasi manis-pahitnya menjadi cagak kelopak-kelopak mata yang mulai layu.
Entah kandungan apa yang merasuki raga,
sehingga sendi-sendi yang sudah mulai pegal linu  kembali pulih bertenaga.
Mungkinkah serbuk 'Bismillah'  yang sempat ditaburkan sebelum kita menyeruputnya?

Malam ini kita kembali bertemu.
Berbincang hangat dengan ditemani kopi malam.
Ada jernih mimpi yang kita lihat dari secangkir air yang keruh itu.
Ada energi baru yang kita hirup selaras dengan aroma terapi kopi malam yang merebak.

Memang semestinya, pertemuan ini bisa menggubah semangat baru.
Memang semestinya, pertemuan ini bisa menjadi penegur,
agar niat kita yang compang-camping dapat kembali kita tenun.

Semangat Berdaya, kawan-kawanku.  Allohu yubarik lakum.

Thursday, 22 March 2018

Manifestasi Janji





A lastu birobbikum? 
Qooluu balaa syahidnaa*

Mari sadarkan hati.
Bahwa setiap desah nafas kita merupakan manifestasi sebuah janji,
yang akan ditanyakan oleh-Nya nanti.

'nanti' yang mungkin akan datang lebih cepat dari pada prediksi. 

Masihkah kita terus begini?
Sebab, seiring bertambahnya peristiwa yang kita alami,
bukankah sepatutnya pribadi kita bertransformasi?
Sebagai wujud kesyukuran atas kesempatan yang Allah datangkan
berkali-kali.

Setiap ikrar akan selalu dikejar,
Dituntut dan dimintai pertanggungjawaban.
Dan kita telah bersepakat kepada Tuhan.
Yang memberikan kita sebuah kepercayaan.
Menitipkan kepada kita waktu.
Waktu untuk sekali lagi memperbaiki pertaubatan
Yang berulang kali kita khianati.

*Q.S. Al-A'raf :172

[Definisi] Selesai Dengan Diri Sendiri