Saya mendapat dua perspective dari caption di atas.
Pertama, barangkali sebagian orang di sekitar kita hanya melihat kita dari kulitnya saja.
Mereka mungkin tidak mau tau seberapa keras kita sudah berjuang, mati-matian, berpeluh, sekuat tenaga.
Mereka tidak mau tau
pertimbangan-pertimbangan kita yang menjadi ihwal dalam pengambilan keputusan.
Mereka tidak tau dan tidak mau tahu bagaimana kita telah berproses sedemikian rupa.
Ahh, yang seperti ini bolehkah kiranya diabaikan saja? Jangan mengharap pengakuan mereka, nanti pada akhirnya mereka sendiri akan tahu mengapa hati kita begitu keras memperjuangkan.- pikirku
Kedua, barangkali sebagian orang di sekitar kita hanya melihat kita dari kulitnya saja. Sama. Seperti yang di atas. Tak ada bedanya.
Satu-satunya hal yang membedakan terletak pada cara kita merespon.
Sore itu Prof. Yuli Fajar Susetyo, seorang psikolog, dosen UGM sekaligus penulis buku itu mengisahkan seorang Bobby Fishcher di sebuah seminar.
Kamu tau siapa Bobby? Dia adalah pecatur tingkat dunia yang punya kebiasaan unik di tengah-tengah pertandingan.
Bobby akan melipir dari kursi panasnya di tengah-tengah waktu, lalu berdiri beberapa langkah dari meja papan catur.
Ia bediam sejenak layaknya penonton sambil memperhatikan bagaimana formasi catur miliknya dan rivalnya.
Tak lama kemudian Bobby akan kembali ke kursi panasnya dengan manuver yang tak pernah terduga sebelumnya.
Let's see! Betapa Bobby telah memberi perspektif baru untuk kita lewat permainan caturnya.
Hal ini membuatku berfikir, bagaimana menjadi penonton, seseorang yang tidak pernah terlibat sama sekali dengan kehidupan kita, bisa melihat celah kosong (blind spot) pada diri kita.
Jika kita sedang sehat, pandangan-pandangan mereka sebenarnya adalah kritik yang membangun bagi diri kita. Naas, kadang. Hati kita tidak selalu lapang dalam menerima perspektif yang sedikit mengilukan. 😔

No comments:
Post a Comment