Ditulis Pada 13/08/2019
"Gimana mau menyelesaikan permasalahan umat, kalau kamu masih riweuh sama diri sendiri?"Begitu [mantan] mas'ul saya ngomong sambil cekikikan. Namun, tanpa ia tahu, kalimatnya telah membuat hati saya terhimpit sesak.
Lain kesempatan, seorang adik menemui saya, meminta saya untuk mengisi salah satu majelis di sekolahnya.
"Ya, Mba ya. Please. Sharing sama adek-adek di sekolah" pintanya.
Saya menghela nafas, menolak langsung permintaannya. Alasan klasik. Merasa tak pantas, merasa tak cukup ilmu, merasa belum selesai dengan diri sendiri hingga rasanya tak pantas jika harus menyelesaikan permasalahan oranglain. Adik itu berlalu, saya melihat gurat sesal di wajahnya. Tapi justru saat itu malah saya yang paling merasa menyesal dengan keadaan diri saya.
Lalu hari berikutnya, giliran Murobbi saya yang ngasih taklimat buat ngisi majelis. Saya menampik.
"Ya nggak mungkin,lah, Mbak. Mbak kan yang paling paham gimana aku. Aku kan belum selesai dengan diriku sendiri."
"Loh, emang selesai dengan diri sendiri iku parameternya apa sih?" tanya Murobbi saya.
Saya terdiam, pertanyaan Murobbi saya berulang kali terngiang. Membuahkan kesadaran bahwa selama ini ketidakpahaman diri mengenai -Parameter & Konsep Selesai Dengan Diri Sendiri- membuat semua jadi terasa buram. Lalu muncullah berderet-deret pertanyaan,
Jadi, apa saya harus lanjutkan melangkah atau balik arah? Apa saya di titik minus, nol atau siap untuk melejitkan diri? Kalau parameternya sudah terceklist semua, langkah bijak apa yg seharusnya saya ambil?
Seakan tak mengijnkan saya untuk sejenak kabur, pertanyaan-pertanyaan itu terus memaksa diri agar segera mencari tahu jawabannya. Rasanya ruang hati ini makin terasa sempit, nafas makin termegap-megap, kepala penuh dan pening luar biasa. Hingga seperti tak ada lagi tempat yang lebih nyaman di dunia ini selain menyungkurkan kepala dalam sujud-sujud yang panjang. Dan usai shalat malam itu, saya teringat tentang garputala yang pernah diceritakan kepadaku. Disitulah point penting yang menjadi titik tolak kesadaran:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.(QS Al-Ankabut 2-3)
Demikianlah firman Allah. Saat kita selesai dengan diri sendiri, bukan lantas kita menjadi manusia utuh yang sempurna -Bukan-. Selesai dengan diri sendiri bukan maksudnya jalan kita menjadi mulus bagaikan jalan tol -Bukan-. Selesai dengan diri sendiri bukan tamat dan happily ever after, kata Mbak Kar. Sebab, setelah itu kita akan terus diuji... akan terus diuji... akan terus diuji...
Setelah kita menyadari dengan sepenuh hati, Siapa diri kita? Asalnya dari mana? Apa istimewanya kita dibanding makhluk lain? Kita punya apa aja? Kenapa kita diciptakan? Yang bener mana, kita tuh sempurna atau nggak? Kita harus merasa lemah atau merasa kuat sih? Kita boleh saja mengatakan bahwa kita telah beriman.
Namun, definisi selesai dengan diri sendiri di sini adalah titik kesadaran bahwa orang-orang yang telah mengenal dirinya dan penciptanya, semestinya 'bersiap-siap'. Karena sebenarnya, perjalanan mereka di mulai dari bersiap-siap itu. Sebab, ujian demi ujian akan datang untuk menaikkan level keimanannya dan untuk membuktikan apakah mereka termasuk orang yang benar dalam perkataannya [menganggap diri mereka beriman].

