Thursday, 22 September 2016
Satu Hal Yang Mendekatkan Jarak
Aku dan kamu itu berpasangan. Namun jangan lupa bila perjumpaan kita
satu paket dengan perpisahannya. Seperti halnya aku adalah amanah
bagimu, kamu pun adalah amanah bagiku.
Aku dan kamu hanyalah titipan untuk masing-masing diri kita. Ada masanya pertemuan kita akan dijeda untuk sementara waktu. Dan pada masanya titipan itu kembali diambil untuk selamanya.
Namun satu hal yang tak berbeda di antara keduanya. Ia adalah hal yang selalu mendekatkan jarak antara kita. Baik saat kita sudah dekat maupun tak terjangkau. Ialah doa.
Aku dan kamu hanyalah titipan untuk masing-masing diri kita. Ada masanya pertemuan kita akan dijeda untuk sementara waktu. Dan pada masanya titipan itu kembali diambil untuk selamanya.
Namun satu hal yang tak berbeda di antara keduanya. Ia adalah hal yang selalu mendekatkan jarak antara kita. Baik saat kita sudah dekat maupun tak terjangkau. Ialah doa.
Jejak Rindu
Rinduku padamu tak membuat hati ini terasa sempit, sehingga tak perlu tersendat-sendat menarik nafas atau termehek-mehek menahan perih. Dan tak butuh tersedu-sedu karena sembilu. Hanya, rinduku padamu membuatku tersipu-sipu, senyam-senyum, sendirian. Terima kasih untuk jejak rindu yang kau tinggalkan. Ia selalu indah untuk dikenang.
Wednesday, 14 September 2016
Dear Diary
Kamu tahu, Dik, mengapa kita perlu mengabadikan moment-moment dalam hidup kita?
Suatu masa nanti, saat kita bingung ke mana langkah ini akan diarahkan, ketika hati terasa kering, buntu mencari benih-benih semangat, dan pikun akan tujuan awal, maka, kita mempunyai tempat untuk berbalik. Pulang.
Sebagai kamar untuk menumpu segala penat. Sebagai wadah untuk menjeda payah. Sebagai kitab untuk sekali lagi kita selami.
Ijinkan jiwa kita mencium harum kenangan, saat ghirah kita sedang berkibar raya. Mencadangkan energi, biar sekali lagi tak kehabisan stok.
Mari dibuka lagi lembaran-lembaran lalu. Bertegur sapa dengan jiwa kita yang penuh akan gelora kala dulu.
Saturday, 10 September 2016
Friday, 9 September 2016
Friday, 2 September 2016
Lepas Terbenam Musim Panen Padi, Terbitlah Musim Layang-Layang.
Hingga sekarang aku tak pernah bosan menyukai layang-layang. Meski
seingatku, tak sekalipun sejak dahulu kecil aku mampu membuatnya hilir
mudik di angkasa, seperti halnya milik yang lain.
Setiap kali abangku berhasil membuat layang-layangnya terlihat perkasa di udara, aku selalu tak sabar untuk menggantikannya sebagai pemegang kendali. Alhasil, layang-layang yang sebelumnya terlihat gagah mengangkasa, tak lama kemudiang surut dan layu. Ahrrrgg.. entahlah apa yang salah., jengkel sekali rasanya, rasa iri pun tak lepas menggelitiki hati.
Meski begitu, aku tak langsung melipir dibuatnya. Pesona layang-layang dan euforia para tuannya selalu mampu membuat aku ikut anjrut-anjrut kegirangan. Aku tetap bahagia meski hanya sebagai penonton setia, dan turut berduka saat mendapati layangang abangku tak mampu mengudara -- mungkin ini perasaan anak kecil yang masih polos, gampang terbawa suasana dan sukanya ikut-ikutan--
Mengejar layang-layang? sedari pertama aku sudah bertanya-tanya, kenapa sih, mereka senang sekali mengejar layang-layang putus? Toh, layangannya rusak dan tak dapat diterbangkan lagi. Ahh.. sudahlah. Bagiku, bukan layang-layangnya, tapi berlari-lari di atas batang jerami sisa panen padi musim ini, salah satu hal yang aku sukai. Sesekali aura kompetisi turut menghinggapi hati para pengejarnya. Menambah meriah suasana senja kala itu.
Subscribe to:
Comments (Atom)
-
Aduhai ... Fajar menggelar! Waktunya pasang topeng anggun digelar! Update! Aduhai ... Mentari merebak seujung tombak! Geraknya cepa...
-
" Seberapa yakinkah kita bahwa obsesi kita dapat mengantarkan kita pada keberartian, pada kepuasan batin sebagai seorang hamba yang...
-
Ada hal yang ditunggu, namun tak kunjung berlabuh. Ada yang diharapkan, namun tak juga kesampaian. Pula ada yang tak terduga Allah dat...





