Saturday, 30 August 2014

HAQIQI



Disini bukan tempat berhenti.
Apa yang tesaji pada alam ini,
bukan sekadar untuk dinikmati,
namun untuk ditafakuri dan disyukuri.

Disini bukan tempat bersenang-senang.
Sudah tahu perjalanan masih panjang,
namun terus mengumbar nafsu supaya kenyang,
padahal amalan belum juga matang.


Jangan kira kehidupan berterusan,
hingga diri terbuai kenikmatan.
Esok ketika tiada kesempatan,
jangan sesalkan diri sebab kelalaian.

Sukses mendaki puncak tertinggi serasa dunia milik sendiri.
Kedudukan dan kemewahan membuat lupa diri.
Padahal bola menggelinding pasti berhenti.
Pengembalian kita pada tempat yang haqiqi.

DUNIA


"...
Rapuhnya aku Kau Maha Tahu
Pagi, siang, malam dunia yang ku tuju
Saat ku jatuh baru ku sadar
Kau lah segalanya
... "
Sepenggal dari lirik lagu Edcoustic yang berjudul 'Tujuh Surga'. Membaca sekilas liriknya kita mengerti sedikit makna dari lagu tersebut.Ya, inilah dunia yang sangat kita cintai. Apa yang kita kejar setiap waktu dari dunia ini melainkan hanya kenikmatan? Kenikmatan yang semata-mata untuk pemenuhan nafsu kita belaka.
Lihatlah! Seberapa tinggi usia kita, seberapa lama waktu yang telah tercecer begitu saja. Tahun-tahun berlalu bagaikan sekejap mata. Karena diri telah asyik terbuai oleh kebahagiaan dari harta yang kita kumpulkan. Padahal siang dan malam terus mengikis umur kita.
Ingatlah! Bukan seberapa banyak harta yang kita dapatkan akan dihitung, namun seberapa penuh tabungan amal kita akan dihisab.
Kita sering menyesal karena kekurangan harta, namun tak peduli dengan umur kita yang terus berkurang.
Siang hari kita telah berlelah mengerjar duniawi, apakah malam akan terlewat begitu saja? Tanpa ada muhasabah? Tanpa ada penghambaan kepada yang memiliki dunia itu sendiri?
Lalu dimanakah kita meletakkan posisi pergantian alam? Adakah hari perhitungan sudah terjadwal dalam hati?
"Dunia sebenarnya mimpi, sedang akherat adalah yang sebenarnya, sementara pertengahannya adalah kematian."

YA SAJADAH


Sajadah ya Sajadah ...
Denganmu sujud-sujud tafakur
Tempat bersimpuh jiwa
yang retak rekah pun terengah

Sajadah ya Sajadah ...
Bertabur debu penggugur
Menelusup lewat sembah-sembah
Sejuk membungkus hati yang gundah


Sajadah ya Sajadah ...
Pelabuhan jiwa yang lelah
Wadah pikiran yang resah
Pelipur rasa gulanah

Engkau ya Sajadah ...
Tenang tergelar
Memangku pedih, luka dan nanar
Merengkuhnya menjadi tegar

Engkau ya Sajadah ...
Secawan rindu
Tempat menampung air hujanku
Saksi setiap haru biruku

FACEBOOK


Aduhai ...
Fajar menggelar!
Waktunya pasang topeng anggun digelar!
Update!

Aduhai ...
Mentari merebak seujung tombak!
Geraknya cepat sebelum sang Tuan berlagak!
Update!


Aduhai ...
Panas menyeruak, nafas memburu!
Hiruk-pikuk jalanan sumpek jadi satu!
Update!

Aduhai ...
Luruh peluh berderai!
Dikejarnya waktu pun tak sampai!
Awas singa Tuan menyeringai!
Jadilah gaji sebulan, setengah dicerai!
Update!

Aduhai ...
Diseret langkah kaki malas!
Tagihan hutang bikin lemas!
Pasang status bilang ikhlas!
Update!

Aduhai ...
Senja di timur menengadah!
Niat ke Masjid pasang wajah!
Mampir di beranda ngajak ibadah!
Barulah sadar waktu habis bilang "dadah! ... "

Sajak Tanpa Rasa



Aku butuh hatiku
Untuk mengayuh dayungku
Mengukir sajak-sajak berkecipak

Aku butuh hatiku
Untuk mendayung sampanku
Melaju di atas bait-bait berombak


Aku butuh hatiku
Untuk mengarungi samuderaku
Agar teratur laju kapal yang bertutur

Aku butuh hatiku
Untuk menahkodai bahteraku
Agar tak hilang tujuan
diombang-ambing gelombang

Aku butuh hatiku
Karena sajakku tanpa rasa
hurufnya pun tak bermakna

Wahai hati,
Merapatlah Engkau ke dermaga
karena Aku butuh hatiku

Gadis Kecil


Gadis kecil jongkok di emperan toko.
Lengannya rekat-erat memeluk kedua-dua kaki yang usang,
kepalanya menunduk khusyuk dalam munajah hati yang kelam,
mulutnya khikmat melafalkan isak sendu,
sedang telinganya merdu mendengarkan melodi pilu.
Gelegar petir menyeru "Akulah ibumu ...!"


Gadis kecil jongkok di emperan toko.
Larut dalam nyanyian hujan,
hanyut dalam harmoni bening yang pecah di sela bebatuan,
menjadikannya hancur dan melebur bersama abu,
jadilah hidupnya kelabu.
Selaksa air keruh terbahak "kah kah kah kah"

Gadis kecil jongkok di emperan toko,
lelap dalam dunia lukanya

Hatikulah, Engkau!

Tak usah lagi!
Kau tanyakan tentang ruang
Agar kuasa Kau rajai
keping demi keping hati
Sungguh,
tiada lagi celah
untukmu bertakhta
Karena seluruh hatiku
telah melebur menjelma Engkau

Takdir

Saya tidak akan meminta Allah menghapus penderitaan di muka bumi , jika kebahagiaannya hanya akan membuat lupa diri. Biar ia silih berganti sebagaimana takdir yang telah ditetapkan.

Yey, Jadi Anak Sekolahan Lagi! (Special buat teman-teman yang ngimpi bangku kuliah)

I'm Mega


Haii saya Mega. Dan selamanya adalah Mega. Kalau toh besok saya jadi presiden saya tetap Mega! Bukan SBY, Prabowo atau Jokowi, apalagi Megawati :D Hehehe (tapi saya kagak mau lah kalau harus jadi presiden). 

Saya itu paketan. Kelebihan yang saya punya itu satu paket dengan kekurangan yang saya miliki. Jadi saya berharapnya sih kalian mau menerima semuanya, enggak setengah-setengah. Apalagi saya kan bukan mainan yang dijual terpisah -____-

[Definisi] Selesai Dengan Diri Sendiri