Wednesday, 31 October 2018
[Menjadi Single Tasking]
Seseorang yang punya banyak fikiran random sepertiku perlu perjuangan keras untuk mengerjakan satu tugas dalam satu waktu tertentu alias single tasking.
Padahal kita semua tahu, bahwa fokus dan disiplin bakal buat kamu lebih optimal bahkan bisa meraih hasil yang outstanding dalam sebuah pekerjaan.
Kadang, lamanya saya mengerjakan tugas lebih banyak karena saya berusaha keras untuk mengalihkan berbagai jenis distraksi.
Misalnya, semacam pikiran-pikiran random yang suka seliweran di otak tanpa mau permisi terlebih dahulu.
Seperti : Eh, Tiba-tiba muncul pertanyaan-pertanyaan dari tugas yg sedang dikerjakan, lalu ingin cari tahu. Eh, tiba-tiba udah scrolling data dan berita, lalu tiba-tiba pengen nulis fakta-fakta yang dia dapat. Lalu tiba-tiba sudah teleportase nongkrongin kerjaan yang lain!
Yang lebih parah lagi tiba-tiba secara tidak sadar sudah mantengin kucing lagi goyang-goyang di instagram!
Itu tuuuuhh rasanya pengen tepok jidad!
Dulu tipe belajar ku juga random banget. Misal, ada 2 tugas matematika dan bahasa inggris. Maka saya akan mengerjakan 5 menit matematika, 5 menit selanjutnya bahasa inggris.
What the +@/(=@+(+=!!!.
Apa hasilnya?
Ya, kegarap semua. Tapi kalau pola ini diterapkan ke pekerjaan yang lain akan lebih banyak menjadikan pekerjaan kita tidak selesai secara utuh. Kadang, bikin stressnya karena saya ternyata sedikit perfeksionist, sehingga kalau ada pekerjaan tidak sesuai dengan yg saya karepin bikin badmood luar dalam. Padahal salah siapa? Ya salah saya sendiri kenapa nggak fokus ngerjain tugasnya!!! (#Uhuk! Kalem, Meg)
Saya tidak memungkiri bahwa pada beberapa hal, menjadi multitasking itu penting dan perlu. Di ranah yang sifatnya teknis banget misal. Ada keuntungan efisiensi waktu dan semacamnya. Hanya, tidak tepat rasanya jika pola multitasking ini diterapkan di pekerjaan-pekerjaan yg memang perlu effort secara pemikiran.
So, mari rubah kebiasaan lamamu, ya, Meg. 😙
Nah, cara saya transisi dari pola multitasking ke single tasking ini adalah dengan menggunakan sistim ''TIME BOXING!"
Akan saya bahas di postingan selanjutnya.
Friday, 26 October 2018
Ruang Khusus Menggalau & Aset Prahara
Patah hati, luka, kecewa, marah, bingung, sedih, galau, dan segala jenis prahara lainnya barangkali akan selalu mampir dalam siklus kehidupan kita.
Kemarin, saat scrolling story di wa, ada status menarik dari adek kelas. Yang kurang lebih begini intinya :
Yang namanya hidup pasti bakal ketemu sama masalah. Kalau nggak mau, ya sudahi saja. Eh, bentar! Tapi jangan dink! Siapa yang jamin kalau kita mati masalah kita juga berhenti? Malah jangan-jangan, kita bakal ketemu persoalan yang berkali-kali lipat lebih rumit?Gitu bukan? #heu
Tapi sepertinya semuanya sepakat, ya, kalau hari tak selamanya siang dan hidup tak melulu tentang riang.
Saya pun demikian. Selalu ada fase untuk bersinggungan dengan masalah. Tapi, setelah belajar untuk bertumbuh dengan cara yang lebih manusiawi, saya tidak lagi tega menjudges diri saya dengan :
"Iyalah sedih! Dirasa, sih!"
"Iyalah capek! Dirasa, sih!"
"Halaah, gitu ajaa. Lemah!"
Saat saya siuman, saya paham bahwa pernyataan tersebut bukan menghilangkan sedih ataupun lelah. Ia hanya menunda kehadirannya. :)
So, mari kembali ke topik, heu. Bahwa prahara kehidupan tak akan pernah bisa kita elakan. Tapi masalahnya, kita selalu ingin menghindar dari hal-hal yang di rasa nggak enak, bukan?
Jadi, kali ini saya ingin berbagi pengalaman. Bagaimana menjadikan jengkol yang keras lagi pait bisa jadi penambah nafsu makan.
"What? Jengkol? &%$#@! Bisa nggak sih, Meg, cari analogi yang lain?".
Haaahh sak karepkuuu! wkwkwk.
Ialah :
Saya selalu menyediakan ruang khusus untuk menggalau secara rutin. Biasanya sebelum terpejam dan tepar di atas matras.
Saya akan bermonolog ria dengan warna-warni perasaan yang sedang saya rasakan. Mengajaknya berdialog. Alih-alih membenarkan, saya lebih sering mengajaknya berdebat. Sebagai seseorang yang sedikit-sedikit pakai intuisi, perasaan, dan punya empati yang lumayan, kadang membuat saya kebabalasan. Jadi, dengan membangun ruang perdebatan ini akan memaksa saya untuk mengkritisi perasaan dan pemikiran saya sendiri.
Kalau udah overload, tidak ada cara lain menguraikan perasaan dan fikiran ini selain dengan menuliskannya: membuat benang kusut di hati dan kepala menjadi pola yang lebih mudah untuk terbaca. (Biasanya gitu, heu) Jika tidak, ngalamat bakal sering mendistraksi pekerjaan-pekerjaan yang lain. Hiksss
Tiap kamis malam misalnya, adalah waktu khusus untuk Me-Time. Di sini saya mengajak 'rapat' diri saya sendiri. Diskusi untuk mencari solusi probematika yang lagi viral di kehidupan si Nona Hujan. wkwkwk.
Lebih banyak menyediakan ruang untuk mendengarkan, karena ini berkaitan dengan kualitas kehidupan saya agar tetap seimbang dan terjaga kewarasannya. Kalau berhasil menelisik, maka akan muncul wawasan baru dari setiap permasalahan yang ada.
Saya punya keinginan untuk mendiskusikan wawasan ini ke orang terdekat. Cuma sampai sekarang belum bisa rutin, heu. Semoga nanti kalau udah ada -dia- , ya. #Uhuk!
Selanjutnya, ketika sedang kacau dengan emosi-emosi yang membuat saya stuck. Saya selalu harus memastikan bahwa I am still on the move. Cari kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan gerak fisik. Sesederhana mencuci piring atau nyapu lantai. Merasakan terapi dari air yang mengaliri kulit dan tangan. Sebab, tak selamanya situasi mendukung kita untuk mengeluarkan emosi saat itu juga, kan?.
Tapi, adakalanya cara di atas juga tidak berhasil. Ragam emosi terus saja meneror dan menghantui, maka, saya meminta diri untuk menyerah. Inilah saatnya sejenak menjeda. Memberi waktu 5 menit untuk duduk bersandar dan terkadang menangis, tanpa tahu alasan pasti mengapa saya menangis. Yang jelas hal itu cukup manjur meredam emosi yang sudah gaduh seperti genderang mau perang. Menangis sambil mengerjakan tugas lebih baik dari pada tidak mengerjakan sama sekali, bagi saya.
Demikianlah pengalaman saya. Dari beberapa hal tersebut selalu ada SATU yang WAJIB untuk dihadirkan. Ia merupakan katalisator yang tidak boleh tidak ada. Sebab, katalisator ini berperan untuk mengkonversikan luka menjadi asa, mengalihkan frustasi menjadi ambisi. Katalisator ini yang bertugas menciptakan kekuatan, untuk mewujudkan pengharapan.
Ialah Allah SWT.
Maka tiap kali saya bermonolog, saya tak boleh lupa mengajak Allah untuk masuk dalam fikiran-fikiran saya. Ketika saya rapat dengan diri sendiri, saya tak boleh lupa mengundang Allah untuk memberikan saya jalan keluar. Ketika saya menangis, maka saya sedang ingin pulang dan luruh dalam dekapan yang Maha.
Bagaimanapun, saya bersyukur bahwa prahara ini bisa menjadi aset pembangun jiwa, pikiran, dan raga yang tangguh. Saya bersyukur bahwa prahara ini bisa menjadi aset berharga yang semakin menguatkan keberhamabaan diri saya kepada Tuhan. Saya bersyukur, sebab, prahara ini merupakan aset yang bisa menciptakan sebuah karya bermanfaat untuk ku persembahkan pada-Nya.
Wednesday, 24 October 2018
Laa ilaaha illallah.
Udah pada tahu kan ya? Kejadian yang menggaduhkan sebagian umat Muslim di Indonesia. Bahkan, beberapa Muslim dunia ikut merespon kejadian ini.
Kok aku malah ngerasa merinding ya. Kayak, Allah tuh kasih momentum gini sebagai peringatan buat kita semua, untuk : mencerna lagi, memaknai lagi lafal
Nyess rasanya ketika melihat story orang-orang yang merasa :"Laa ilaaha illallah"
"Gw Gak Terima Kalimat Tauhid dibegitukan!"
Terlepas siapapun yang mengucapkan. Tak peduli emang dia terkenal relijius banget di keseharian atau yg ibadahnya kadang malah sekip. Duhai rasanya... Bukankah itu sinyal bahwa keberhambaan terhadap Tuhannya terusik.
Barangkali, kejadian ini bisa jadi pintu untuk kita. Membuka ruang kontemplasi untuk : mengkritisi pemahaman kita selama ini.
PR untuk menggali lagi, Udah sampai mana sih? udah segimana sih kita menjadikan Allah sebagai sebenar-benar ilahku? Sebenar-benar cinta sejatiku? Atau jangan-jangan selama ini kita hanya mengilahkan perhatian makhluk.
Udah segimana kita menjadikan secuil ilmu dan kemampuan yg Allah titipkan ke kita untuk semakin menguatkan Tauhid kita?
"Kayak pas Al-Maidah : 51, ya, Meg." Replay teman saya saat random-thoughts ini saya posting di WA .
Hehehe. Iyess. Bener banget! Kayak kejadian Al-Maidah : 51.
Betapa setelah itu orang-orang berbondong-bondong untuk mencari tahu dan memahami firman Allah yang satu ini. (Maasyaa Allah, jadi pada baca quran dan tafsir semuanya.)
Semoga kita jangan sampai hanya terbawa euforia topik yg lagi viral saja ya.
Tapi mampu membangun ruang muhasabah untuk diri kita sendiri. Kasian, ikut emosi tanpa ada usaha untuk lebih memahami. Yuk, sama-sama belajar lagi.
Tuesday, 23 October 2018
Mandiri
Dulu aku terbiasa sendiri. Menjadi mandiri adalah keahlianku. Hingga kau tiba dan meruntuhkan keangkuhanku.
Ah bagaimana bisa aku merasa payah saat membutuhkanmu
-Azifah Najwa
Minta Maaf
Minta Maaf
"Kamu ngapain sih minta maaf?"
Beberapa kali pertanyaan itu diajukan padaku.
Entah sejak kapan aku mempunyai kebiasaan ini.
Meminta maaf saat selesai menjalankan semua aktivitas :
Bukan cuma kepadamu, ke orang lain, tapi juga ke diriku sendiri.
Minta maaf bukan saja perkara siapa yang salah siapa yang benar.
Atau sekadar melepaskan segala sesuatu yang mengganjal di hati :
Tentang sikap yang berulang kali membuatmu tak enak hati,
marah namun selalu kau tutupi.
Dan seringkali terucap kata yang membuatmu kecewa dan patah hati.
Kita manusia biasa. Barangkali khilaf berulah dan salah mengeja makna.
Minta Maaf.
Ia menjadi rambu-rambu, mengingatkan kita untuk putar balik.
Menilik lagi yang sudah terjadi.
Membangun ruang kontemplasi.
Sebab, ada hal yang lebih penting dari sekadar mengucap maaf :
Ialah penyelesaian, jalan keluar, ada pertanggungjawaban
Friday, 19 October 2018
Mana Yang Lebih Baik?
Mana yang lebih baik, Jilbab Lebar Yang Akhlaqnya Cetek Atau Yang Biasa-Biasa Aja Tapi Pikirannya Melek?
Well, ini jenis pertanyaan yang sering kali muncul baik lewat DM atau pas lagi melingkar asyik bareng teman-teman atau adek-adek.
"Mbak, aku nggak pede kalau jilbaban lebar. Soalnya aku masih gini aja. Takut di bilang munafiq. Mbok cuma menang simbol aja"
"Mbak, gimana pandangan mbak mega sama orang yang jilbabnya lebar tapi akhlaqnya kurang baik sama tetangga. Pikirannya nggak terbuka. Dll"
Qiqiqiqi. Kadang aku merasa kasian tuh sama orang-orang jilbab lebar Kenapa? Karena perspektif orang lain mengatakan bahwa seharusnya mereka yang berjilbab lebar adalah orang yang tidak boleh melakukan kesalahan ini itu. Tidak begini dan tidak begitu. Nggak boleh kayak gini dan kayak gitu.
Yaa.. Kita sih seneng yak kalau emang bisa begitu. Tapi gimana yak? Kita juga manusia biasa yang senantiasa berniat untuk berproses. Bukan emaknya malaikat. #heu 😅
Sebagai orang ndesa, kayaknya sekup perkenalan saya enggak sempit-sempit amat. Walau mungkin, tetap saja tidak seluas teman-teman di lingkaran keseharian saya yang lain. I mean, ada banyak jenis manusia yang saya sebut sebagai kenalan.
Saya tidak mengeksklusifkan diri dan tidak hanya mau kenal dengan orang yang hanya punya standard tertentu.
Kalau boleh dibilang sepertinya dari yang jenis punk atau preman sampai yanv cadaran, hampir semua ada.
Daaaan... It's amazing to know them
Banyak yang penampilannya biasa-biasa aja, enggak akhey ukhtey -look-a-like- banget lah, yak. Tapi super juara kalau udah soal akhlaq. Empatinya jossh gandos! Solutif bingiit. Dan pikirannya melek!!!
Sebaliknya, ada yang imejnya religious sangat, semua simbol pakaian, hijab, dll : islamis banget. Pengetahuan agamanya baday! Tapi belum bisa gotong royong sama tetangga. Masih suka ngomongin orang, lebay, grusa-grusu. Yoo ngono2 kuwi.
So, mana yang lebih baik?!
Pandangku, yang lebih baik adalah siapa saja yang tak henti untuk terus memperbaiki diri.
Setiap hari, ia tak jemu untuk selalu berknovasi dan menjadi lebih baik dari dirinya yang kemarin.
Aku sadar. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Ada yang lebih di sebelah sini, sedang di sebalah yang lain masih pincang.
Kita hanya bisa berikhtiar dan berproses untuk mencapai kualitas dan versi terbaik dari diri kita.
Barangkali, kita bisa saling belajar. Yang akhlaqnya baik bisa mulai memperkuat diri dengan memperbaiki kualitas ibadah. Sebaliknya, yang ritual ibadahnya kenceng bisa memperindah diri dengan senantiasa perbaiki akhlaq.
Karena, bukankah setiap orang punya wilayah strugglenya masing-masing? Iya nggak sih? 😬
---------------
كَلا إِنَّ الإنْسَانَ لَيَطْغَى * أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى
”Ketahuilah ! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,karena melihat dirinya serba cukup” [QS. Al-‘Alaq : 6-7].
Wednesday, 10 October 2018
Latifah
Latifah.
Teman sedari piyik!
Kita suka dolan bareng, tapi kita punya khas ketertarikkan masing-masing.
Kalau aku ndak tahan kerja diam di ruangan, si Latifah suka mencak-mencak kalau harus ke lapangan.
Inget banget nih, dulu pas udah lama gak ketemu terus si Latifah datang, belum juga masuk, di luar dia udah sorak-sorak kegirang sambil tereak!
"Enakkan kerja di ruangannnn kan????!!!"
Coba, kurang somplak apa lagi nih , bocah?😑
Sudah tertebak kemana obrolan siang yang lumayan bikin jidad kemringetan waktu itu akan di bawa.
Topik utamanya tidak pernah berubah sejak kami duduk di SLTA. Kecuali kalau dia sudah merasa puas dan merdeka buat ngece! (meski becanda).
"Kamu tambah imutt ya, Meg. Ireng Mutlak! 🤣"
Waktu itu dia masih fresh graduate, kinyis-kinyiss baru diterima di perusahaan perbankan.
Aku faham perasaan merdeka di hatinya karena dulu aku juga sempat masuk di perusahaan yg sama. Tapi metu karena suatu alasan. Dan itu bikin Latifah geregetan. 😗
"Nanti kalau aku udah perawatan kamu tersaingi loh, Peh! " 🙃
Latifah kumat lagi, dia mencak-mencak.
" Jangan, Meg. Jangan! Aku dulu ya yg nikaah, pleaseee!"
=#%(=@--#+(/#=
Sontak kami ngekel berjamaah.
Entah pertemanan jenis apa kami ini.
Teman sedari piyik!
Kita suka dolan bareng, tapi kita punya khas ketertarikkan masing-masing.
Kalau aku ndak tahan kerja diam di ruangan, si Latifah suka mencak-mencak kalau harus ke lapangan.
Inget banget nih, dulu pas udah lama gak ketemu terus si Latifah datang, belum juga masuk, di luar dia udah sorak-sorak kegirang sambil tereak!
"Enakkan kerja di ruangannnn kan????!!!"
Coba, kurang somplak apa lagi nih , bocah?😑
Sudah tertebak kemana obrolan siang yang lumayan bikin jidad kemringetan waktu itu akan di bawa.
Topik utamanya tidak pernah berubah sejak kami duduk di SLTA. Kecuali kalau dia sudah merasa puas dan merdeka buat ngece! (meski becanda).
"Kamu tambah imutt ya, Meg. Ireng Mutlak! 🤣"
Waktu itu dia masih fresh graduate, kinyis-kinyiss baru diterima di perusahaan perbankan.
Aku faham perasaan merdeka di hatinya karena dulu aku juga sempat masuk di perusahaan yg sama. Tapi metu karena suatu alasan. Dan itu bikin Latifah geregetan. 😗
"Nanti kalau aku udah perawatan kamu tersaingi loh, Peh! " 🙃
Latifah kumat lagi, dia mencak-mencak.
" Jangan, Meg. Jangan! Aku dulu ya yg nikaah, pleaseee!"
=#%(=@--#+(/#=
Sontak kami ngekel berjamaah.
Entah pertemanan jenis apa kami ini.
Thursday, 4 October 2018
Bangku Penonton
Saya mendapat dua perspective dari caption di atas.
Pertama, barangkali sebagian orang di sekitar kita hanya melihat kita dari kulitnya saja.
Mereka mungkin tidak mau tau seberapa keras kita sudah berjuang, mati-matian, berpeluh, sekuat tenaga.
Mereka tidak mau tau
pertimbangan-pertimbangan kita yang menjadi ihwal dalam pengambilan keputusan.
Mereka tidak tau dan tidak mau tahu bagaimana kita telah berproses sedemikian rupa.
Ahh, yang seperti ini bolehkah kiranya diabaikan saja? Jangan mengharap pengakuan mereka, nanti pada akhirnya mereka sendiri akan tahu mengapa hati kita begitu keras memperjuangkan.- pikirku
Kedua, barangkali sebagian orang di sekitar kita hanya melihat kita dari kulitnya saja. Sama. Seperti yang di atas. Tak ada bedanya.
Satu-satunya hal yang membedakan terletak pada cara kita merespon.
Sore itu Prof. Yuli Fajar Susetyo, seorang psikolog, dosen UGM sekaligus penulis buku itu mengisahkan seorang Bobby Fishcher di sebuah seminar.
Kamu tau siapa Bobby? Dia adalah pecatur tingkat dunia yang punya kebiasaan unik di tengah-tengah pertandingan.
Bobby akan melipir dari kursi panasnya di tengah-tengah waktu, lalu berdiri beberapa langkah dari meja papan catur.
Ia bediam sejenak layaknya penonton sambil memperhatikan bagaimana formasi catur miliknya dan rivalnya.
Tak lama kemudian Bobby akan kembali ke kursi panasnya dengan manuver yang tak pernah terduga sebelumnya.
Let's see! Betapa Bobby telah memberi perspektif baru untuk kita lewat permainan caturnya.
Hal ini membuatku berfikir, bagaimana menjadi penonton, seseorang yang tidak pernah terlibat sama sekali dengan kehidupan kita, bisa melihat celah kosong (blind spot) pada diri kita.
Jika kita sedang sehat, pandangan-pandangan mereka sebenarnya adalah kritik yang membangun bagi diri kita. Naas, kadang. Hati kita tidak selalu lapang dalam menerima perspektif yang sedikit mengilukan. 😔
Tuesday, 2 October 2018
CITA - CITA : DIKEJAR ATAU MENGALIR SAJA?
Pagi ini datang lagi pertanyaan dari seorang teman. Seperti gambar di atas. Chat itu saya screenshoot dan saya lempar pertanyaannya untuk publik melalui status WA. Dan hasilnya ada tiga jenis respon yang masuk, yaitu :
1. Tanya balik 😑
2. Dikejar Saja. 🔥 Jawaban ini lebih banyak datang dari mereka yang posisinya masih sekolah atau kuliah. Idealismenya masih josh! 👊🏽
3. "Sing penting ikhtiar, tapi jalannya ya ikut arus lah, Meg. Sambil melihat kode Alam". 😆 - Latifah. Respon sejenis datang dari yang sudah mulai kerja, #heu :). Mungkin mereka sudah sedikit merasakan babak belurnya menjalani kehidupan. Sehingga perlahan ada yang mulai pasrah, bergaining dengan alam, ada juga statement menyerah. 🙂
So, let me share pandangan saya mengenai hal yan satu ini.
Ngomongin soal cita-cita emang nggak pernah ngebosenin, yak. 😄
Ia adalah barisan doa-doa yang membuat kita semakin percaya bahwa kita hanya hamba biasa yang sepenuhnya hanya bisa bergantung sama Tuhan. Bahkan kemampuan kita berusaha pun datangnya dari Tuhan. :)
Jadi, sebenarnya, pembatas cita-cita dan realita itu hanya dua :
1. Ikhtiar
2. Takdir Tuhan.
Pandangku, aturan main seseorang yang berani memiliki cita-cita hanya ada 2 :
Pertama. Kita bisa bercita-cita setinggi langit, tapi untuk membuatnya menjadi nyata tidak bisa dengan seenak jidad duduk di tempat.
Kedua. Kita boleh jadi sudah sangat keras berikhtiar, tapi jangan melupakan bahwa Tuhan sudah menggariskan takdir terbaikNya untuk kita.
Itu saja aturan mainnya. Hehehe
Kalau dalam Al Quran tugas kita kan yang penting kan berproses, ya. Eksekusinya kita serahkan ke Allah.
Jadi, kalau kita berani buat bercita-cita, Dua aturan main tadi satu paket. Tidak bisa ditinggalkan salah satunya.
"Haa njuk, terus piwe?" respon teman saya.
Nek pandangku, Sebenarnya yang terpenting dari cita-cita itu kan esensinya, ya. Bukan sekadar menjadi apa? Tapi mengapa? Dan untuk apa?
Misal (ngawang aja ini contohnya) : Aku pengen jadi Reporter.
Kenapa? Karena reporter adalah profesi paling strategist untuk mengungkap fakta-fakta dan kebenaran, biar tidak ada kebenaran yg ditutup-tutupi, dsb. dsb. #heu 😅
Tugasku emang berikhtiar piwe carane dadi reporter. Tapi jangan melupakan esensi dari mengapa dan untuk apa kita ingin jadi reporter tadi.
Kita kan masih bisa menyampaikan kebenaran walau nggak jadi reporter kan ya? Jadi menurutku justru esensi ini yang perlu terus kita kawal dan kita kejar, gimana caranya agar esensi dari cita-cita tadi bisa tetap kita dapat walau kita belum bisa menjadi seperti yg kita inginkan. #heu 😅
Misal lainnya mungkin : Kenapa aku kudu jadi orang kaya. Kenapa kudu jadi pengusaha. Kenapa harus bangun sekolah. Wkwkwk dsb. dsb. Silakan ditanyakan pada diri sendiri.
Kini, dengan sedikit demi sedikit informasi yang masuk, merangkai cita-cita tak sesederhana karena saya ingin menjadi. Meski pada kenyataannya, ketika ada sharing session tentang impian dan harapan, hampir selalu cita-cita saya yang sepertinya paling sederhana, tak pernah seambisius lingkaran pertemanan saya. Dan pada dasarnya segala jenis cita-cita itu sangat sederhana bagi Allah.
Nah, jadi bukan karena itu. Tapi bagaimana kita bisa mengarahkan cita-cita kita dalam rangka untuk memenuhi tugas-tugas yang Allah kasih ke kita. 😊
Iya, Allah menciptakan manusia kan pasti ada alasannya? Pasti ada Misi yang musti kita laksanakan? 😊 iya kan?
Sampai di sini dulu. Kita berikan jeda untuk bertanya dengan diri sendiri.
Itu sih kalau menurutku.
Ini 4 rumus yg jadi SOPku : hehe
1. Tau yang kita mau (apa, mengapa, untuk apa?).
2. Kejar yang kita mau
3. Beri ruang pendapat orang lain dan filter
4. Beri ruang untuk taqdir Tuhan.
'
Jadilah engkau seorang sekailpun kakinya di bawah gunung, tetapi cita-citanya di atas bintang tsuraya dan zuha
Subscribe to:
Comments (Atom)
-
Aduhai ... Fajar menggelar! Waktunya pasang topeng anggun digelar! Update! Aduhai ... Mentari merebak seujung tombak! Geraknya cepa...
-
" Seberapa yakinkah kita bahwa obsesi kita dapat mengantarkan kita pada keberartian, pada kepuasan batin sebagai seorang hamba yang...
-
Ada hal yang ditunggu, namun tak kunjung berlabuh. Ada yang diharapkan, namun tak juga kesampaian. Pula ada yang tak terduga Allah dat...






