Friday, 19 October 2018

Mana Yang Lebih Baik?



Mana yang lebih baik, Jilbab Lebar Yang Akhlaqnya Cetek Atau Yang Biasa-Biasa Aja Tapi Pikirannya Melek?

Well, ini jenis pertanyaan yang sering kali muncul baik lewat DM atau pas lagi melingkar asyik bareng teman-teman atau adek-adek.

"Mbak, aku nggak pede kalau jilbaban lebar. Soalnya aku masih gini aja. Takut di bilang munafiq. Mbok cuma menang simbol aja"
"Mbak, gimana pandangan mbak mega sama orang yang jilbabnya lebar tapi akhlaqnya kurang baik sama tetangga. Pikirannya nggak terbuka. Dll"

Qiqiqiqi. Kadang aku merasa kasian tuh sama orang-orang jilbab lebar  Kenapa? Karena perspektif orang lain mengatakan bahwa seharusnya mereka yang berjilbab lebar adalah orang yang tidak boleh melakukan kesalahan ini itu. Tidak begini dan tidak begitu. Nggak boleh  kayak gini dan kayak gitu. 
Yaa.. Kita sih seneng yak kalau emang bisa begitu.  Tapi gimana yak? Kita juga manusia biasa yang senantiasa berniat untuk berproses.  Bukan emaknya malaikat. #heu 😅

Sebagai orang ndesa, kayaknya sekup perkenalan saya enggak sempit-sempit amat.  Walau mungkin, tetap saja tidak seluas teman-teman di lingkaran keseharian saya yang lain. I mean, ada banyak jenis manusia yang saya sebut sebagai kenalan.
Saya tidak mengeksklusifkan diri dan tidak hanya mau kenal dengan orang yang hanya punya standard tertentu.
Kalau boleh dibilang sepertinya dari yang jenis punk atau preman sampai yanv cadaran, hampir semua ada.
Daaaan...  It's  amazing to know them

Banyak yang penampilannya biasa-biasa aja, enggak akhey ukhtey -look-a-like- banget lah, yak. Tapi super juara kalau udah soal akhlaq. Empatinya jossh gandos! Solutif bingiit. Dan  pikirannya melek!!!

Sebaliknya, ada yang imejnya religious sangat, semua simbol pakaian, hijab, dll : islamis banget. Pengetahuan agamanya baday! Tapi belum bisa gotong royong sama tetangga. Masih suka ngomongin orang, lebay, grusa-grusu.  Yoo ngono2 kuwi.

So, mana yang lebih baik?!

Pandangku, yang lebih baik adalah siapa saja yang tak henti untuk terus memperbaiki diri.
Setiap hari, ia tak jemu untuk selalu berknovasi dan menjadi lebih baik dari dirinya yang kemarin.

Aku sadar. Tidak ada yang sempurna di dunia ini.  Ada yang lebih di sebelah sini, sedang di sebalah yang lain masih pincang.
Kita hanya bisa berikhtiar dan berproses untuk mencapai kualitas dan versi terbaik dari diri kita.

Barangkali, kita bisa saling belajar. Yang akhlaqnya baik bisa mulai memperkuat diri dengan memperbaiki kualitas ibadah. Sebaliknya, yang ritual ibadahnya kenceng bisa memperindah diri dengan senantiasa perbaiki akhlaq.

Karena, bukankah setiap orang punya wilayah strugglenya masing-masing? Iya nggak sih? 😬

---------------

Ùƒَلا Ø¥ِÙ†َّ الإنْسَانَ Ù„َÙŠَØ·ْغَÙ‰ * Ø£َÙ†ْ رَآهُ اسْتَغْÙ†َÙ‰

”Ketahuilah ! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,karena melihat dirinya serba cukup” [QS. Al-‘Alaq : 6-7].

No comments:

[Definisi] Selesai Dengan Diri Sendiri