Tuesday, 31 July 2018

Rasa Rumit



"Bulek Nangis" begitu kataku ketika menceritakan kepada Bapak saat aku datang ke pernikahan anak perempuan Bulek di Banjarnegara.

Bapak diam sejenak.

"Alm. Ibukmu juga nangis pas mbak lela nikah." Kata Bapak beberapa saat kemudian.

Nampaknya fikiran kami sama-sama dibawa ke masa 6 tahun silam. 
Masih jelas betul bagaimana harunya alm. Ibuk melepaskan anak perempuan pertamanya.
Hampir sama seperti Bulek saat bertemu denganku.  Ia memelukku erat. mengeluarkan segala perasaan di hati yang cukup rumit melalui air mata.
Anak perempuan satu-satunya, pada hari itu resmi menggenapi separuh agamanya. Pada hari itu pula surganya beralih kepada suaminya.  Dan pada hari  itu pula perjalanan ibadah terbesar di mulai. Baktinya kepada suaminya nanti yang akan mengantarkan Bapak-Ibunya ke surga. 

Aku terdiam. Mulutku bungkam. Hanya bisa menyalurkan energi melalui pelukkan bulek yang aku balas. 

Aku memandangi putri bulekku yang usianya sekitar 4 tahun di atasku.  Lalu beberapa saat kemudian kenangan-kenangan dahulu secara acak muncul di fikiranku.
Pasang surut kehidupan rumah tangga Bapak dan Ibukku tiba-tiba terkenang. Aku semakin paham, mengapa hampir setiap Ibuk yang aku jumpai baik dipernikahan sanak famili, teman, dan lainnya matanya sembab karena menangis. Walau mungkin tangisannya disembunyikan.
Pernikahan adalah peribadahan besar, maka ujiannya pun besar.  Setiap orang tua paham betul apa-apa yang kelak akan dihadapi oleh anaknya setelah akad terikrarkan. Wajarlah bila mereka tak kuasa menahan perasaan-perasaan rumit yan membuncah dalam dadanya.

Tiba-tiba aku baper.  Bukan karena aku masih jomblo, bukan. [bersambung  ...]

No comments:

[Definisi] Selesai Dengan Diri Sendiri