Thursday, 21 April 2016

Dia yang Lalai dan Kita yang Lupa

Andai engkau tahu beratnya menjaga amanah. Bahkan langit-langit, bumi, dan gunung-gunung pun tidak sanggup memikulnya.
Menjalankan amanah dan menjaganya bukanlah perkara yang bisa dilakukan semudah membalik telapak tangan. Namun Ia mampu membangun amanahnya hingga sekarang ini. Namun Ia mampu memikul amanahnya hingga sampai ke jalan ini.

Kita yang kemudian menaruh ambisi besar kepadanya,
berdalih dengan alasan sebagai sebuah bentuk kepercayaan. 
Kita yang lupa di mana seharusnya meletakkan sebuah pengharapan.
Sampai kemudian kita turut lupa bahwa ia adalah manusia biasa.
Kita yang lupa tentang fitrahnya,
bahwa setiap insan merupakan persemayaman dari segala bentuk khilaf.
Atau mungkin kita yang sengaja mengingkari 
karena yang lalai adalah dia?
 ---Dia tidak boleh lalai, nanti bagaimana jadinya kita--- Ahh, begitu egoisnya

Jalaran kita yang lupa dimana seharusnya menaruh sebuah hasrat, maka, rasa kecewapun melimpah ruah.
Terlebih karena manusia lebih gampang memberikan gelar keburukan tenimbang memberi gelar kebaikan.

Seribu kebaikan yang telah ia lakukan selama ini tidak menjadikannya sebagai seorang malaikat dunia. Namun satu kelalaian yang ia lakukan sudah cukup bagi kita untuk mengecapnya sebagai orang yang terkutuk, sebagai terdakwa yang pantas dihukum mati.

Begitukah hukum di dunia? satu kelalaian yang ia lakukan membuat kita melupakan seribu kebaikannya selama ini.

Friday, 8 April 2016

Sepenggal Refleksi Ujian Nasional

Finally, salah satu fase ujian dalam hidupmu telah terlewati. Sebelumnya, kulihat dirimu begitu serius untuk menghadapinya. Hingga kamu rela pergi pagi pulang petang, kamu terlihat lebih sibuk dari  seorang karyawan kantoran. Sampai-sampai rumah kau jadikan seperti hotel, hanya untuk numpang tidur.

Seluruh waktumu kau gunakan untuk mengutak-utik berbagi jenis soal. Di sekolah, di tempat les, di angkutan, bahkan waktumu yang hanya sedikit di rumah masih kau gunakan untuk memecahkan pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat terjawab. Ranselmu penuh dengan buku-buku materi dan latihan, bawaanmu melebihi seorang pendaki, berat, namun tetap kau pikul ke manapun perginya. Kamu benar benar telah berjuang!
Semoga kau mendapatkan apa yang selayaknya kau dapatkan.
Kulihat dari kalian, ada yang mati-matian demi bisa naik panggung, mendapatkan angka sempurna, ada juga yang demi bisa lulus saja alhamdulillah.

Namun, Ku harap kau tak membatasi arti sebuah keberhasilan dengan angka-angka yang nanti akan kau dapatkan. Don't  limit the meaning of a success! Bahkan sekarang pun Ku lihat dirimu telah berhasil. Bukankah sudah begitu banyak nilai yang telah kau dapatkan dari rangkaian peristiwa Ujian Nasional ini. Ahh! UN memang  memberikan banyak pelajaran yang sayang untuk dilewatkan begitu saja.

One of the most interesting things! Adalah bagaimana UN bisa membangun kualitas hubungan antara dirimu dan orang-orang di kelasmu. Entah karena merasa satu perjuangan, kau yang dulu tak pernah punya banyak teman, bahkan orang-orang yang satu kelas denganmu.  Selamat! Kau telah berhasil mendapatkan mereka sebagai keluarga baru. Karena mereka kau tak perlu merasa berat, kau tak harus merasa berjuang sendiri. Mereka yang menyemangatimu ketika ghirahmu yang membara perlahan mulai padam. Mereka yang telah mengulurkan tangannya ketika kamu merasa kesulitan. Kuharap jalinan keluarga yang telah kau dapatkan itu tak ikut berakhir setelah upacara kelulusanmu nanti. Jagalah, suatu hari nanti kau pasti  merindukannya.

Di waktu yang sama Ujian Nasional ini telah berhasil menjembatani dirimu untuk lebih dekat dengan Tuhanmu. Mungkin karena UN ini kamu bisa merasakan betapa manisnya sepertiga malam terakhir.  Kamu bisa merasakan betapa leganya hati saat menguras air mata hanya di depanNya. Betapa kau sekarang sadar, hanya kepada Tuhan kita dapat menaruh pengharapan. Selamat! Sekalai lagi kamu telah berhasil mendapatkan satu nilai yang begitu berarti. Semoga kau tak menyudahinya seiring berakhirnya Ujian Nasional ini.

[Definisi] Selesai Dengan Diri Sendiri