Sunday, 25 December 2016

Menerima Yang Barus vs. Melepaskan Yang Berlalu


Seseorang yang datang bukan untuk menjadi pengganti mereka yang telah hilang. Sebab setiap diri berbeda. Kenangan yang seorang lukiskan di hati kita tak kan mampu tersalin oleh seorang yang lain, sekalipun mungkin orang yang datang lebih baik dari orang yang telah hilang. Itu sebabnya menerima yang baru sama beratnya dengan melepaskan yang berlalu.
"Kangen Ibuk!"

-Megaza

Monday, 28 November 2016

Energi Patah Hati



Beberapa di antara kita ada yang bertahan hidup dari energi patah hati. Sebab rasa sakitnya mampu mengonversikan luka menjadi asa, mengalihkan frustasi menjadi ambisi. Menciptakan kekuatan untuk mewujudkan pengharapan, membuktikan.
_Megaza

Perjalanan Rindu

Rinduku gemericik air
Maka aku hanyut bersama alir
Meliak-liuk searah sungai

Aku mengarus deras
Aku menciut menyusup lubang
Aku pecah menabrak terjal
Aku terjun menukik tajam
Aku terbelah di persimpangan
Seterusnya terejawantah


Hingga aku sampai pada muaraku, samudera
Menyatu lagi bersama aku

Mimpi Remang-Remang

Temaram
Sinar lembut sang rembulan
Melukis tenteram ke penjuru alam
Sabitnya melengkung senyum bungkam
Menatap puluhan mimpi remang-remang
Terbang di sayap angin petang


Kebelahan mana mimpi remang-remang melayang
Asal ia tak jadi padam
Sebab dingin malam mencekam
Biar terang di siang membuatnya jadi benderang

Janji Jumanji

Ini pernyataan teka-teki,
Dibungkus lewat puisi,
Dikobarkan lewat orasi,
Dengan kalimat berapi-api,
atau yang menarik hati,
Agar banyak yang simpati,
Tapi hasilnya belum pasti.
Bisa saja putar arah kemana saja nanti, 

Tujuannya masih tersembunyi,
Puisinya ditafsir sendiri.
Emang apasih?
Itu lho ... janji-janji.

Facebook


Aduhai ...
Fajar menggelar!
Waktunya pasang topeng anggun digelar!
Update!


Aduhai ...
Mentari merebak seujung tombak!
Geraknya cepat sebelum sang Tuan berlagak!
Update!

Aduhai ...
Panas menyeruak, nafas memburu!
Hiruk-pikuk jalanan sumpek jadi satu!
Update!

Aduhai ...
Luruh peluh berderai!
Dikejarnya waktu pun tak sampai!
Awas singa Tuan menyeringai!
Jadilah gaji sebulan, setengah dicerai!
Update!
Aduhai ...

Diseret langkah kaki malas!
Tagihan hutang bikin lemas!
Pasang status bilang ikhlas!
Update!

Aduhai ...
Senja di timur menengadah!
Niat ke Masjid pasang wajah!
Mampir di beranda ngajak ibadah!
Barulah sadar waktu habis bilang "dadah! ... "

Facebook


Aduhai ...
Fajar menggelar!
Waktunya pasang topeng anggun digelar!
Update!


Aduhai ...
Mentari merebak seujung tombak!
Geraknya cepat sebelum sang Tuan berlagak!
Update!

Aduhai ...
Panas menyeruak, nafas memburu!
Hiruk-pikuk jalanan sumpek jadi satu!
Update!

Aduhai ...
Luruh peluh berderai!
Dikejarnya waktu pun tak sampai!
Awas singa Tuan menyeringai!
Jadilah gaji sebulan, setengah dicerai!
Update!

Aduhai ...
Diseret langkah kaki malas!
Tagihan hutang bikin lemas!
Pasang status bilang ikhlas!
Update!

Aduhai ...
Senja di timur menengadah!
Niat ke Masjid pasang wajah!
Mampir di beranda ngajak ibadah!
Barulah sadar waktu habis bilang "dadah! ... "

Negeri Bawah Angin

Amboi!
Inilah tanah Zirbad, kata Persia
Lapak surgawi di bawah harum khatulistiwa
Tak perlu terbang ke negeri khayalan,
untuk berdiri di atas awan
Meranjak pelangi?
Itu bukan fatamorgana, di sini lah peraduannya


Di ufuk!
Pesona saga merah merona jingga,
tenggelam di batas cakrawala,
disapa kerlingan genit batu-batu langit,
disihir hingar binar sang rembulan, elok nian!

Hai!
Ini bukan negeri antah-berantah dalam sajak-sajak dongeng,
atau peradaban di alam bawah sadar,
inilah Zirbad Khatulistiwa!
Indonesia kata Persia

Sejauh mata memandang,
riuh gemuruh selaksa padi serupa emas dan sutera,
Harum tanah basahnya menyajikan aroma rempah,
Warna-warni kembang wangi, ayu di ambalan hijau kaki langit,
Melodi riang pun didendangkan orchestra para burung

Surya bak intan!
Tenggelam dalam beningnya samudera biru,
Mahligai pasir putih beradu riuh ombak,
Desah desau angin sejuk menerpa muka

Lihatlah!
Simbad-simbadnya pun gagah mengarungi bahtera nusantara,
Inilah tanah Zirbad!
Bumi pertiwi, Indonesia

Kedamaian

Adalah ranjau yang mereka taburkan di seluruh setapak ini,
melukis bercak derita yang tak kian memudar,
Tiadalah sedikitpun kemanusian,
nilainya sengaja dibinasakan


Bersabarlah, sahabatku!
Engkau adalah laskar pilihan Tuhan,
kemenanganmu atas ujian ini adalah janjiNya sendiri
Duka laramu akan lekas berpaling,
kepahitan akan bertemu jua ujungnya


Bilakah waktunya tiba,
kedamaian pasti kembali

Aku Memang Menyebalkan

Aku memang menyebalkan!
Selalu menuntut orang lain untuk menyamakan ukuran sepatunya dengan sepatuku!
Sementara aku tak peduli jika mereka harus tertatih-tatih,
terseok-seok dan termehek-mehek saat berjalan bersamaku!

Aku memang menyebalkan!
Selalu memaksa orang lain untuk mengikuti ambisiku!
Mendakwa sesiapa untuk menjadi prajuritku!
Berlari, memikul, terengah dan terkapar 

Namun, aku menggugat mereka untuk terus bergerak!
Tanpa peduli dengan mereka yang 
termegap-megap, lalu lenyap!

Aku memang menyebalkan!
Selalu mengklaim orang lain agar menjadi bayanganku!
Tunduk terhadap tatanan yang aku ciptakan sendiri!
Tanpa memberi celah kepada sesiapa
untuk berkata bahwa aku bukan ratu dari sesiapa!

Aku memang menyebalkan!
Selalu mendesak orang lain untuk memahami semua tentangku!
Padahal aku tak pernah menerbitkan secuilpun biografi tentang itu!
Tanpa mau tahu sesukupun dari kata 'tidak' untuk menolak!

Ahh ternyata, aku begitu menyebalkan!

Teruntuk si otoriter

Friday, 25 November 2016

Curhat

Mari kita duduk bersila, saling memandang wajah satu sama lain. Sediakan saja es pisang hijau untuk teman kita berbincang.
Jika kemarin aku lega menjadi pendengar setiamu, maka bersabarlah terhadapku untuk hari ini. Karena aku akan mengajakmu berkeliling, mencerna setiap kata yang susah payah aku rangkai.
Jika nanti pun kau masih harus tersendat dalam memahami maksudku, ku harap kau masih mau bertahan sedikit lebih lama, nanti kucarikan kata yang lain, biar ku susun lagi kalimat yang baru.
Jangan lupa, aku adalah seorang yang tak baik dalam mengungkapkan maksud hati.
Oleh sebabnya aku tak mudah bercerita, bingung sendirian ketika harus curhat.
Jadi, lapangkanlah hatimu, bersabarlah padaku.

Friday, 21 October 2016

Raindrops, Music and Peace



Beberapa hari terakhir siang berumur lebih panjang. Meski jam dindingku menunjuk pukul 17.28 dan hujan turun cukup deras, namun, susana tetap terlihat terang. Aku duduk memandang ke luar. Menyaksikan hujan yang dengan riang menciumi rumput dan dedaunan. Sementara  Saujana dengan Suci Sekeping Hatinya menemaniku dari balik layar monitor. And you know what? Suddenly I feel, being happy can be that simple. Even just like this, in this current state, in this moment, saya menemukan kedamaian. Maha Baik Tuhan yang menjadikan kebahagian bahkan dengan cara yang sederhana pun tetap bisa kita rasakan.

Thursday, 20 October 2016

'Ia' Pada Waktunya


Ia adalah keniscayaan. Bahwa pada suatu masa, kita akan singgah dalam sebuah persemayaman dengan interval yang cukup panjang. Hanya saja, sang Ruang & sang Waktu benar-benar menjaga kerahasiaanya dengan baik. Jika engkau sedang menunggu, tunggulah! Ia pasti akan menjemputmu.
It's just a matter of time!

Thursday, 22 September 2016

Menepi


Tidak apa-apa jika kau ingin menepi. Mencari tempat paling ufuk di jagat ini. Menikmati sepi, mengasihi sendiri. Sesekali jiwa ini memang perlu menenangkan diri. Bersembunyi dari hiruk-pikuknya amanah, mencampakkan lelah, melepaskan resah. 
Menguatkan lagi sendi-sendi yang mulai ringkih

Satu Hal Yang Mendekatkan Jarak


Aku dan kamu itu berpasangan. Namun jangan lupa bila perjumpaan kita satu paket dengan perpisahannya. Seperti halnya aku adalah amanah bagimu, kamu pun adalah amanah bagiku.
Aku dan kamu hanyalah titipan untuk masing-masing diri kita. Ada masanya pertemuan kita akan dijeda untuk sementara waktu. Dan pada masanya titipan itu kembali diambil untuk selamanya.
Namun satu hal yang tak berbeda di antara keduanya. Ia adalah hal yang selalu mendekatkan jarak antara kita. Baik saat kita sudah dekat maupun tak terjangkau. Ialah doa.

Jejak Rindu


Rinduku padamu tak membuat hati ini terasa sempit, sehingga tak perlu tersendat-sendat menarik nafas atau termehek-mehek menahan perih. Dan tak butuh tersedu-sedu karena sembilu. Hanya, rinduku padamu membuatku tersipu-sipu, senyam-senyum, sendirian. Terima kasih untuk jejak rindu yang kau tinggalkan. Ia selalu indah untuk dikenang.

Wednesday, 14 September 2016

Dear Diary



Kamu tahu, Dik, mengapa kita perlu mengabadikan moment-moment dalam hidup kita?

Suatu masa nanti, saat kita bingung ke mana langkah ini akan diarahkan, ketika hati terasa kering, buntu mencari benih-benih semangat, dan pikun akan tujuan awal, maka, kita mempunyai tempat untuk berbalik. Pulang.

Sebagai kamar untuk menumpu segala penat. Sebagai wadah untuk menjeda payah. Sebagai kitab untuk sekali lagi kita selami.

Ijinkan jiwa kita mencium harum kenangan, saat ghirah kita sedang berkibar raya. Mencadangkan energi, biar sekali lagi tak kehabisan stok.

Mari dibuka lagi lembaran-lembaran lalu. Bertegur sapa dengan jiwa kita yang penuh akan gelora kala dulu.

Saturday, 10 September 2016

Kita Berpura-Pura


Kita yang melihat dan menutup mata, kita yang mendengar dan menyumbat telinga,kita yang tahu namun tak angkat suara. Mungkin hati kita telah jatuh dan tertinggal di suatu tempat.

Friday, 9 September 2016

Kejutan


Ada hal yang ditunggu, namun tak kunjung berlabuh. Ada yang diharapkan, namun tak juga kesampaian. Pula ada yang tak terduga Allah datang tiba-tiba.
-Megaza

Pasrah Hati



Ada yang musti dibuat patah hati berkali-kali. Supaya ia menyerah dan memasrahkan hati.
Terkadang, keyakinan kita bukan tercipta dari rasa percaya pada yang kuasa, sebaliknya, dari congkaknya hati kita.
-Megaza

Energi Patah Hati


Beberapa di antara kita ada yang bertahan hidup dari energi patah hati. Sebab rasa sakitnya mampu mengonversikan luka menjadi asa, mengalihkan frustasi menjadi ambisi. Menciptakan kekuatan untuk mewujudkan pengharapan, membuktikan.
_Megaza

Friday, 2 September 2016

Lepas Terbenam Musim Panen Padi, Terbitlah Musim Layang-Layang.



Hingga sekarang aku tak pernah bosan menyukai layang-layang. Meski seingatku, tak sekalipun sejak dahulu kecil aku mampu membuatnya hilir mudik di angkasa, seperti halnya milik yang lain. 

Setiap kali abangku berhasil membuat layang-layangnya terlihat perkasa di udara, aku selalu tak sabar untuk menggantikannya sebagai pemegang kendali. Alhasil, layang-layang yang sebelumnya terlihat gagah mengangkasa, tak lama kemudiang surut dan layu. Ahrrrgg.. entahlah apa yang salah., jengkel sekali rasanya, rasa iri pun tak lepas menggelitiki hati. 

Meski begitu, aku tak langsung melipir dibuatnya. Pesona layang-layang dan euforia para tuannya selalu mampu membuat aku ikut anjrut-anjrut kegirangan. Aku tetap bahagia meski hanya sebagai penonton setia, dan turut berduka saat mendapati layangang abangku tak mampu mengudara -- mungkin ini perasaan anak kecil yang masih polos, gampang terbawa suasana dan sukanya ikut-ikutan-- 

Mengejar layang-layang? sedari pertama aku sudah bertanya-tanya, kenapa sih, mereka senang sekali mengejar layang-layang putus? Toh, layangannya rusak dan tak dapat diterbangkan lagi. Ahh.. sudahlah. Bagiku, bukan layang-layangnya, tapi berlari-lari di atas batang jerami sisa panen padi musim ini, salah satu hal yang aku sukai. Sesekali aura kompetisi turut menghinggapi hati para pengejarnya. Menambah meriah suasana senja kala itu.

Tuesday, 3 May 2016

Bagaimanakah Mencintai Ilmu? [ Refleksi Hari Pendidikan Nasional ]



Sekarang aku mengerti bahwa cinta tidak semata-mata hadir karena terbiasa. Jika memang demikian, 6 tahun, 9 tahun, 12 tahun, bahkan puluhan tahun kita menyandang gelar sebagai pelajar, adalah waktu yang lebih dari cukup untuk membuat kita jatuh cinta kepada ilmu.

Realitanya, pergi ke sekolah atau kampus hanya menjadi bagian dari rutinitas saja. Bahkan tidak sedikit yang menjadikan tujuan ke sekolah hanya untuk mendapatkan jatah sangu harian.
Dari hasil nonton bareng Tausiyah Cinta kemarin, saya kembali di ingatkan bahwa memang benar segala sesuatu perlu diusahakan. Termasuk rasa cinta pun ia perlu ditumbuhkan.
Tak berbeda dengan cinta kepada ilmu, ia perlu di tanam di hati, di rawat baik-baik agar dapat bersemi dalam selaksa jiwa.


Jika kita menyadari bahwa ilmu bisa merubah sengsara menjadi bahagia, menuntun dari gelap menuju cahaya, membuat yang bingung menjadi tau, mengobati luka menjadi tawa, menangkis segala hal buruk sebelum ia datang untuk menyiksa kita dan sejuta alasan salim lainnya, harusnya tak ada alasan bagi kita untuk melarikan diri dari ilmu. 

Tumbuhkanlah rasa cintamu! Cintailah Ilmu! maka kamu akan mendapatkan ketentraman hidup.

Selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional

Thursday, 21 April 2016

Dia yang Lalai dan Kita yang Lupa

Andai engkau tahu beratnya menjaga amanah. Bahkan langit-langit, bumi, dan gunung-gunung pun tidak sanggup memikulnya.
Menjalankan amanah dan menjaganya bukanlah perkara yang bisa dilakukan semudah membalik telapak tangan. Namun Ia mampu membangun amanahnya hingga sekarang ini. Namun Ia mampu memikul amanahnya hingga sampai ke jalan ini.

Kita yang kemudian menaruh ambisi besar kepadanya,
berdalih dengan alasan sebagai sebuah bentuk kepercayaan. 
Kita yang lupa di mana seharusnya meletakkan sebuah pengharapan.
Sampai kemudian kita turut lupa bahwa ia adalah manusia biasa.
Kita yang lupa tentang fitrahnya,
bahwa setiap insan merupakan persemayaman dari segala bentuk khilaf.
Atau mungkin kita yang sengaja mengingkari 
karena yang lalai adalah dia?
 ---Dia tidak boleh lalai, nanti bagaimana jadinya kita--- Ahh, begitu egoisnya

Jalaran kita yang lupa dimana seharusnya menaruh sebuah hasrat, maka, rasa kecewapun melimpah ruah.
Terlebih karena manusia lebih gampang memberikan gelar keburukan tenimbang memberi gelar kebaikan.

Seribu kebaikan yang telah ia lakukan selama ini tidak menjadikannya sebagai seorang malaikat dunia. Namun satu kelalaian yang ia lakukan sudah cukup bagi kita untuk mengecapnya sebagai orang yang terkutuk, sebagai terdakwa yang pantas dihukum mati.

Begitukah hukum di dunia? satu kelalaian yang ia lakukan membuat kita melupakan seribu kebaikannya selama ini.

Friday, 8 April 2016

Sepenggal Refleksi Ujian Nasional

Finally, salah satu fase ujian dalam hidupmu telah terlewati. Sebelumnya, kulihat dirimu begitu serius untuk menghadapinya. Hingga kamu rela pergi pagi pulang petang, kamu terlihat lebih sibuk dari  seorang karyawan kantoran. Sampai-sampai rumah kau jadikan seperti hotel, hanya untuk numpang tidur.

Seluruh waktumu kau gunakan untuk mengutak-utik berbagi jenis soal. Di sekolah, di tempat les, di angkutan, bahkan waktumu yang hanya sedikit di rumah masih kau gunakan untuk memecahkan pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat terjawab. Ranselmu penuh dengan buku-buku materi dan latihan, bawaanmu melebihi seorang pendaki, berat, namun tetap kau pikul ke manapun perginya. Kamu benar benar telah berjuang!
Semoga kau mendapatkan apa yang selayaknya kau dapatkan.
Kulihat dari kalian, ada yang mati-matian demi bisa naik panggung, mendapatkan angka sempurna, ada juga yang demi bisa lulus saja alhamdulillah.

Namun, Ku harap kau tak membatasi arti sebuah keberhasilan dengan angka-angka yang nanti akan kau dapatkan. Don't  limit the meaning of a success! Bahkan sekarang pun Ku lihat dirimu telah berhasil. Bukankah sudah begitu banyak nilai yang telah kau dapatkan dari rangkaian peristiwa Ujian Nasional ini. Ahh! UN memang  memberikan banyak pelajaran yang sayang untuk dilewatkan begitu saja.

One of the most interesting things! Adalah bagaimana UN bisa membangun kualitas hubungan antara dirimu dan orang-orang di kelasmu. Entah karena merasa satu perjuangan, kau yang dulu tak pernah punya banyak teman, bahkan orang-orang yang satu kelas denganmu.  Selamat! Kau telah berhasil mendapatkan mereka sebagai keluarga baru. Karena mereka kau tak perlu merasa berat, kau tak harus merasa berjuang sendiri. Mereka yang menyemangatimu ketika ghirahmu yang membara perlahan mulai padam. Mereka yang telah mengulurkan tangannya ketika kamu merasa kesulitan. Kuharap jalinan keluarga yang telah kau dapatkan itu tak ikut berakhir setelah upacara kelulusanmu nanti. Jagalah, suatu hari nanti kau pasti  merindukannya.

Di waktu yang sama Ujian Nasional ini telah berhasil menjembatani dirimu untuk lebih dekat dengan Tuhanmu. Mungkin karena UN ini kamu bisa merasakan betapa manisnya sepertiga malam terakhir.  Kamu bisa merasakan betapa leganya hati saat menguras air mata hanya di depanNya. Betapa kau sekarang sadar, hanya kepada Tuhan kita dapat menaruh pengharapan. Selamat! Sekalai lagi kamu telah berhasil mendapatkan satu nilai yang begitu berarti. Semoga kau tak menyudahinya seiring berakhirnya Ujian Nasional ini.

Friday, 18 March 2016

SOMETHING WE CALL "LOVE"


I just checked my facebook, & randomly saw one of my friend’s status. it’s written like this:
“cintai orang yang benar-benar mencintaimu, daripada mencintai orang yang kau cintai..”
Teman yang menulis status ini, memilih untuk hidup bersama orang yang benar-benar mencintai dia, karena dengan hidup bersama orang itu, dia tidak akan pernah merasa tidak dihargai, tidak akan pernah merasa ditinggalkan, tidak akan pernah merasa sendirian.
I called this option as a SAFE OPTIONS.
If you want to be happy, guys, look up for this kind of person..
But what about the other choice that i called a BRAVE OPTIONS?
Adalah untuk hidup dalam mencintai, mencintai dengan sepenuh hati, memberikan yang terbaik, dengan senang hati mengorbankan diri.
I gave two thumbs up for person who wants to live a life with brave options.
Mereka adalah para manusia berjiwa besar,
para manusia yang hidup untuk melayani manusia yang lainnya.
Manusia yang hidup untuk menghidupi yang lainnya.
Find it hard to find????
Guys open your eyes!
This person live surround you, ada ataupun tidak ada, orang yang mendedikasikan hidup mereka untuk orang lain akan selalu hadir kapanpun dan dimanapun.
this person is might be really close to you..
really..
this person is YOUR MOTHER!
my mother,
our mother!!
a MOTHER!

See?
No matter how far we are,
No matter how wicked we are,
Tidak peduli betapa kurang ajarnya kita..
Tidak peduli betapa tak pedulinya kita..
She’ll always be there.
Berapa banyak dari kita yang sengaja mematikan handphone saat ibu kita menelepon?
Berapa banyak dari kita yang tidak peduli dengan jam malam padahal ibu kita sedang menunggu di rumah?
Berapa banyak dari kita yang mengerti kegundahan seorang ibu saat kita belum juga pulang di tengah malam?
Berapa banyak darr kita yang membentak ibu dengan suara keras?
Berapa banyak dari kita yang mengacuhkan ibu dengan sengaja?
Berapa banyak dari kita yang menggerutu akan segala perhatian ibu yang sedikit berlebihan?
Berapa banyak dari kita yang MEMAHAMI BEBAN SEORANG IBU dalam keluarga?
If i had an option in life, I’ll take a brave options, just like our mother’s.
Will always love you, Mama.

Friday, 11 March 2016

A MAGIC WORD!

"Thanks for today! Ulfah Maslahah & Wahyu Apriyani
I Love You Just Because Of Allah!"


CHANGE!
Perubahan! Ternyata dalam aplikasinya tidak semudah seperti saat kita menuliskan atau memikirkan atau sekedar membicarakannya.
I really didn’t know what to say.
I’m ashamed.
Malu karena saya baru saja tersadar betapa susahnya kita sebagai manusia untuk membuat suatu perubahan yang berarti dalam hidup.
Malu karena sebuah kata “i will change” selalu cuma habis begitu saja di mulut.

I take my time to think.
dan tersadar bahwa ada sesuatu yang menghalangi perubahan itu untuk merealisasikan dirinya kepada kita.
Sebuah halangan yang paling berat daripada segalanya.
Diri Kita Sendiri.
Kita itu malu untuk mengakui bahwa kita butuh perubahan.
Kita enggan menyadari bahwa perubahan adalah hal yang kita butuhkan.
Kita terlalu sombong dengan diri kita sendiri yang kita rasa sudah paling benar.
Kita terlalu sombong untuk mengakui bahwa sebenarnya kita membutuhkan sebuah perbaikan. We need to fix our weaknesses, our minus.
Kita malu untuk mengakui bahwa kita tidak sempurna.
Padahal MEMANG KITA TIDAK SEMPURNA.

Perubahan butuh keberanian.
Keberanian untuk menghadapi apa yang ada di depan, setelah kita berubah.
Keberanian untuk meninggalkan segala hal yang nyaman di belakang.
Keberanian untuk mempelajari hal-hal baru yang kita dapatkan dari proses perubahan.
ya, dan memang, tidak semua perubahan itu baik atau membawa sesuatu yang kita harapkan.
Tetapi dengan berubah,
kita pun berkembang,
Menjadi manusia seutuhnya.
Kita maju, dan tidak tertinggal di belakang

Mereka yang tidak berubah, seperti mobil yang sedang mogok saat ingin berangkat kerja.
Stuck, membuang-buang waktu yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan penghasilan dan hasil yang menakjubkan.
Kita yang tidak mau berubah,
Akan lebih bobrok daripada anak jalanan yang memiliki keinginan melanjutkan sekolah, dan belajar di sela-sela kegiatannya mengamen.
we don’t change,
we stuck.
we stop.
and left by the world and the time.

Jangan pernah berubah saat sesuatu memaksa kita untuk berubah.
Jangan menunggu untuk kehilangan hal berharga terlebih dahulu agar bisa berubah.
Karena Anda tahu pasti, penyesalan di akhir tidak pernah berguna.

Thursday, 10 March 2016

OBSESI

"Seberapa yakinkah kita bahwa obsesi kita dapat mengantarkan kita pada keberartian, pada kepuasan batin sebagai seorang hamba yang briman. dan puncaknya pada pengharapan kita akan surga Allah."

Obsesi yang kita bangun seharusnya dimuarakan untuk mengharap ridho Allah, surga dan ampunannya. Untuk itu kita perlu menimbang ulang dan memetakan obsesi kita.
  • Seberapa Dekat ia dengan Kewajiban.  

           Sebab, seperti kata salafus shalih "Tidak akan diterima amal sunnah kecuali setelah ditunaikanya amalan yang wajib". Namun, jangan khawatir tidak mendapat tempat untuk mengaktualisasika diri. Ada begitu banyak pekerjaan yang wajib secara dzatnya.Ada pula yang menjadi wajib karena ia syarat tertunaikannya kewajiban yang lain. Dengan ukuran ini setiap pekerjaan di sektor apapun , juga setiap peran di sisi apapun selama itu halal memiliki kadarnya tersendiri dari segi kedekatannya dengan kewajiban.
  • Seberapa Luas ia dalam Memberi Manfaat.

          Semakin banyak orang yang bisa mengambil manfaat dari peran itu, tentu makin baik. ini selaras dengan sabda Rasulullah ahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling memberi manfaat bagi manusia lain. Mafaat yang luas , bisa juga terkait dengan seberapa banyak populasi orang yang dapat mengambil manfaat dari peran tersebut. Ini benar-benar obsesi yang menarik untuk dipikirkan oleh seorang muslim. Pada setiap pilihan obsesi orang bisa merasakan betapa bila bisa memberi manfaat pada lebih banyak orang , maka akan jadi kebahaiaan tersendiri yang tidak akan ia rasakan bila memberi manfaat pada sedikit orang.
  • Seberapa Strategis ia Sebagai Fungsi.


          Sebuah peran yang ingin kita ambil  untuk mewdahi obsesi-obsesi kita layak dilihat dari seberapa strategis peran itu sebaai fungsi. Peran-peran strategis membutuhkan keahlian dan kapasitas yang tidak biasa-biasa saja. peran-peran strategis ini adalah tempat berlabuhya orang-orang besar.
Nabi Musa semula tidak ingin melayani tantangan Firngaun untuk membuktikan adanya Tuhan yang benar. Namun begitu Firngaun setuju untuk melakukan tanding dengan disaksikan ribuan rakyatnya, Musa setuju. Sebab, diitu ada peran yang sangat strategis untuk menyampaikan kebenaran bagi orang-orang Bani Israil.
  • Seberpa Awet ia Secara Usia


         Inilah yang sering kita sebut sebagai amal jariah. ini wadah yang cocok bagi mereka yang berobsesi untuk menanamkan kebaikan tidak hanya untuk dirinya namun juga untuk orang lain. tidak pula hanya bermanfaat ketika ia masih hidup juga tetap bermanfaat ketika ia telah mati. hal itu karena obsesi kita menjadi warisan bagi generasi kita selanjutnya. sehingga generasi kita selanjutnya yang akan melanjutkan.
  • Seberapa Kuat ia Memberi Kepuasan Terhadap Jiwa
        Mungkin hal ini terkesan subjektif atau bersifat selera, namun hal itu bukan merupakan suatu hal yang di larang. hal itu dapat kita bingkai dalam rangka berlomba-lomba dalam kebaikan dan memohon balasan Allah. Umar bin Abdul Aziz betapa ia memiliki jiwa yang obsesif, bila telah mencapai suatu prestasi ia ingin mencapai prestasi yang lebih tinggi lagi. Begitu selanjutnya hingga obsesi yang tersisa hanya satu yaitu masuk surga.

Bila telah terpilih maka selanjutnya gapailah osesi terus dan terus hingga hanya kematian yang bisa menghentikan.

Wednesday, 3 February 2016

Kado Malam Tahun Baru

Bolehkah kudapatkan hadiah malam tahun baru?
aku hanya ingin melihat langit yang syahdu tanpa petasan yang memburu.
Jadi biarkan ia natural memesona dengan bintang-bintang yang saling menyapa,
tanpa harus melemparinya dengan kembang api yang membuatnya terlihat istimewa,
Ia sudah cukup menawan dengan senyuman sang rembulan.

Dapatkah kudapatkan hadiah malam tahun baru?
Aku tak ingin suara terompet dan sirine yang terdengar begitu meriah.
Cukup suara angin malam dan kerikan para jangkrik yang terdengar khidmat dan serempak. 

Tak perlu juga sorak sorai gempita tahun baru. 
Aku lebih mencintai suara gemericik air yang merdu.

Boleh kudapatkan hadiah malam tahun baru?
Aku, bersamamu, dan juga mereka, tak perlulah mengikuti hura-hura tahun baru.
Dari pada uang terhambur aku lebih ingin kita bertafakur,
Merenungi perjalanan setahun terakhir yang telah kita lewati,
dan memanjatkan pengharapan untuk tahun depan.

Tenimbang merasakan riang gempita sorak soray tahun baru,
aku lebih ingin menikmati tangis yang haru saat bermunajat kepadaNya

[Definisi] Selesai Dengan Diri Sendiri