Sunday, 23 September 2018

Cukup itu Lebih dari Cukup



Salah satu cara saya quality time dengan Bapak saya adalah dengan mengajak Bapak makan di luar. Siang itu,  Bapak nawarin untuk makan di Bakso langganan favoritnya.  And.. Yummyy! Sejak saat itu saya jadi ikut-ikutan suka makan bakso di sana.  Tapi sekarang, saya lupa kapan terakhir kali saya makan di tempat itu.  Bertahun-tahun jualan bakso,  ketika saya mau mampir untuk makan di sana, selalu saja kehabisan, selalu saja sudah tutup.  Pikirku, kenapa nggak buat lebih banyak bahan bakso saja, sih? biar lebih banyak untungnya?.

Hal yang sama terjadi ketika saya bertemu dengan seorang penjual tempe di desa binaan.  Si Ibuk ini jualan tempenya selalu habis setiap hari. Ketika ditawarkan untuk menscale up usahanya, merekrut tenaga kerja, memperbesar jumlah produksi dan meluaskan pasar, si Ibuk bilang,

"alhamdulillah  mbak, segini saja sudah cukup. Kami tak ingin terlalu berlebihan."

 Hmmm...  Saya merenung.  Sepertinya ini memang value yang  mereka pegang.   'Cukup' itu sendiri bagi mereka lebih dari cukup. Saya menghargai itu.  Terlepas dari opini, ketika si Ibuk penjual tempe itu bila bisa memscale up usahanya, maka ia akan membuka lapangan pekerjaan baru bagi orang lain, dan memberi lebih banyak manfaat, tidak hanya untuk keluarga tetapi tetangga-tetangganya, itu value yang lain.

*****

Eh..  Tapi alhamdulillah sih, sekarang si Ibuk ini perlahan udah mau dibina buat semakin menumbuhkan usaha tempenya.  Hehe. Sudah ada tetangga yang direkrut jadi karyawan juga. :)
Yang terpenting ada value yg ibuk penjual ini bawa ketika ia mau menscale up usahanya.

[Definisi] Selesai Dengan Diri Sendiri