Friday, 18 March 2016

SOMETHING WE CALL "LOVE"


I just checked my facebook, & randomly saw one of my friend’s status. it’s written like this:
“cintai orang yang benar-benar mencintaimu, daripada mencintai orang yang kau cintai..”
Teman yang menulis status ini, memilih untuk hidup bersama orang yang benar-benar mencintai dia, karena dengan hidup bersama orang itu, dia tidak akan pernah merasa tidak dihargai, tidak akan pernah merasa ditinggalkan, tidak akan pernah merasa sendirian.
I called this option as a SAFE OPTIONS.
If you want to be happy, guys, look up for this kind of person..
But what about the other choice that i called a BRAVE OPTIONS?
Adalah untuk hidup dalam mencintai, mencintai dengan sepenuh hati, memberikan yang terbaik, dengan senang hati mengorbankan diri.
I gave two thumbs up for person who wants to live a life with brave options.
Mereka adalah para manusia berjiwa besar,
para manusia yang hidup untuk melayani manusia yang lainnya.
Manusia yang hidup untuk menghidupi yang lainnya.
Find it hard to find????
Guys open your eyes!
This person live surround you, ada ataupun tidak ada, orang yang mendedikasikan hidup mereka untuk orang lain akan selalu hadir kapanpun dan dimanapun.
this person is might be really close to you..
really..
this person is YOUR MOTHER!
my mother,
our mother!!
a MOTHER!

See?
No matter how far we are,
No matter how wicked we are,
Tidak peduli betapa kurang ajarnya kita..
Tidak peduli betapa tak pedulinya kita..
She’ll always be there.
Berapa banyak dari kita yang sengaja mematikan handphone saat ibu kita menelepon?
Berapa banyak dari kita yang tidak peduli dengan jam malam padahal ibu kita sedang menunggu di rumah?
Berapa banyak dari kita yang mengerti kegundahan seorang ibu saat kita belum juga pulang di tengah malam?
Berapa banyak darr kita yang membentak ibu dengan suara keras?
Berapa banyak dari kita yang mengacuhkan ibu dengan sengaja?
Berapa banyak dari kita yang menggerutu akan segala perhatian ibu yang sedikit berlebihan?
Berapa banyak dari kita yang MEMAHAMI BEBAN SEORANG IBU dalam keluarga?
If i had an option in life, I’ll take a brave options, just like our mother’s.
Will always love you, Mama.

Friday, 11 March 2016

A MAGIC WORD!

"Thanks for today! Ulfah Maslahah & Wahyu Apriyani
I Love You Just Because Of Allah!"


CHANGE!
Perubahan! Ternyata dalam aplikasinya tidak semudah seperti saat kita menuliskan atau memikirkan atau sekedar membicarakannya.
I really didn’t know what to say.
I’m ashamed.
Malu karena saya baru saja tersadar betapa susahnya kita sebagai manusia untuk membuat suatu perubahan yang berarti dalam hidup.
Malu karena sebuah kata “i will change” selalu cuma habis begitu saja di mulut.

I take my time to think.
dan tersadar bahwa ada sesuatu yang menghalangi perubahan itu untuk merealisasikan dirinya kepada kita.
Sebuah halangan yang paling berat daripada segalanya.
Diri Kita Sendiri.
Kita itu malu untuk mengakui bahwa kita butuh perubahan.
Kita enggan menyadari bahwa perubahan adalah hal yang kita butuhkan.
Kita terlalu sombong dengan diri kita sendiri yang kita rasa sudah paling benar.
Kita terlalu sombong untuk mengakui bahwa sebenarnya kita membutuhkan sebuah perbaikan. We need to fix our weaknesses, our minus.
Kita malu untuk mengakui bahwa kita tidak sempurna.
Padahal MEMANG KITA TIDAK SEMPURNA.

Perubahan butuh keberanian.
Keberanian untuk menghadapi apa yang ada di depan, setelah kita berubah.
Keberanian untuk meninggalkan segala hal yang nyaman di belakang.
Keberanian untuk mempelajari hal-hal baru yang kita dapatkan dari proses perubahan.
ya, dan memang, tidak semua perubahan itu baik atau membawa sesuatu yang kita harapkan.
Tetapi dengan berubah,
kita pun berkembang,
Menjadi manusia seutuhnya.
Kita maju, dan tidak tertinggal di belakang

Mereka yang tidak berubah, seperti mobil yang sedang mogok saat ingin berangkat kerja.
Stuck, membuang-buang waktu yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan penghasilan dan hasil yang menakjubkan.
Kita yang tidak mau berubah,
Akan lebih bobrok daripada anak jalanan yang memiliki keinginan melanjutkan sekolah, dan belajar di sela-sela kegiatannya mengamen.
we don’t change,
we stuck.
we stop.
and left by the world and the time.

Jangan pernah berubah saat sesuatu memaksa kita untuk berubah.
Jangan menunggu untuk kehilangan hal berharga terlebih dahulu agar bisa berubah.
Karena Anda tahu pasti, penyesalan di akhir tidak pernah berguna.

Thursday, 10 March 2016

OBSESI

"Seberapa yakinkah kita bahwa obsesi kita dapat mengantarkan kita pada keberartian, pada kepuasan batin sebagai seorang hamba yang briman. dan puncaknya pada pengharapan kita akan surga Allah."

Obsesi yang kita bangun seharusnya dimuarakan untuk mengharap ridho Allah, surga dan ampunannya. Untuk itu kita perlu menimbang ulang dan memetakan obsesi kita.
  • Seberapa Dekat ia dengan Kewajiban.  

           Sebab, seperti kata salafus shalih "Tidak akan diterima amal sunnah kecuali setelah ditunaikanya amalan yang wajib". Namun, jangan khawatir tidak mendapat tempat untuk mengaktualisasika diri. Ada begitu banyak pekerjaan yang wajib secara dzatnya.Ada pula yang menjadi wajib karena ia syarat tertunaikannya kewajiban yang lain. Dengan ukuran ini setiap pekerjaan di sektor apapun , juga setiap peran di sisi apapun selama itu halal memiliki kadarnya tersendiri dari segi kedekatannya dengan kewajiban.
  • Seberapa Luas ia dalam Memberi Manfaat.

          Semakin banyak orang yang bisa mengambil manfaat dari peran itu, tentu makin baik. ini selaras dengan sabda Rasulullah ahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling memberi manfaat bagi manusia lain. Mafaat yang luas , bisa juga terkait dengan seberapa banyak populasi orang yang dapat mengambil manfaat dari peran tersebut. Ini benar-benar obsesi yang menarik untuk dipikirkan oleh seorang muslim. Pada setiap pilihan obsesi orang bisa merasakan betapa bila bisa memberi manfaat pada lebih banyak orang , maka akan jadi kebahaiaan tersendiri yang tidak akan ia rasakan bila memberi manfaat pada sedikit orang.
  • Seberapa Strategis ia Sebagai Fungsi.


          Sebuah peran yang ingin kita ambil  untuk mewdahi obsesi-obsesi kita layak dilihat dari seberapa strategis peran itu sebaai fungsi. Peran-peran strategis membutuhkan keahlian dan kapasitas yang tidak biasa-biasa saja. peran-peran strategis ini adalah tempat berlabuhya orang-orang besar.
Nabi Musa semula tidak ingin melayani tantangan Firngaun untuk membuktikan adanya Tuhan yang benar. Namun begitu Firngaun setuju untuk melakukan tanding dengan disaksikan ribuan rakyatnya, Musa setuju. Sebab, diitu ada peran yang sangat strategis untuk menyampaikan kebenaran bagi orang-orang Bani Israil.
  • Seberpa Awet ia Secara Usia


         Inilah yang sering kita sebut sebagai amal jariah. ini wadah yang cocok bagi mereka yang berobsesi untuk menanamkan kebaikan tidak hanya untuk dirinya namun juga untuk orang lain. tidak pula hanya bermanfaat ketika ia masih hidup juga tetap bermanfaat ketika ia telah mati. hal itu karena obsesi kita menjadi warisan bagi generasi kita selanjutnya. sehingga generasi kita selanjutnya yang akan melanjutkan.
  • Seberapa Kuat ia Memberi Kepuasan Terhadap Jiwa
        Mungkin hal ini terkesan subjektif atau bersifat selera, namun hal itu bukan merupakan suatu hal yang di larang. hal itu dapat kita bingkai dalam rangka berlomba-lomba dalam kebaikan dan memohon balasan Allah. Umar bin Abdul Aziz betapa ia memiliki jiwa yang obsesif, bila telah mencapai suatu prestasi ia ingin mencapai prestasi yang lebih tinggi lagi. Begitu selanjutnya hingga obsesi yang tersisa hanya satu yaitu masuk surga.

Bila telah terpilih maka selanjutnya gapailah osesi terus dan terus hingga hanya kematian yang bisa menghentikan.

[Definisi] Selesai Dengan Diri Sendiri