Monday, 28 November 2016
Perjalanan Rindu
Rinduku gemericik air
Maka aku hanyut bersama alir
Meliak-liuk searah sungai
Aku mengarus deras
Aku menciut menyusup lubang
Aku pecah menabrak terjal
Aku terjun menukik tajam
Aku terbelah di persimpangan
Seterusnya terejawantah
Hingga aku sampai pada muaraku, samudera
Menyatu lagi bersama aku
Maka aku hanyut bersama alir
Meliak-liuk searah sungai
Aku mengarus deras
Aku menciut menyusup lubang
Aku pecah menabrak terjal
Aku terjun menukik tajam
Aku terbelah di persimpangan
Seterusnya terejawantah
Hingga aku sampai pada muaraku, samudera
Menyatu lagi bersama aku
Mimpi Remang-Remang
Temaram
Sinar lembut sang rembulan
Melukis tenteram ke penjuru alam
Sabitnya melengkung senyum bungkam
Menatap puluhan mimpi remang-remang
Terbang di sayap angin petang
Kebelahan mana mimpi remang-remang melayang
Asal ia tak jadi padam
Sebab dingin malam mencekam
Biar terang di siang membuatnya jadi benderang
Sinar lembut sang rembulan
Melukis tenteram ke penjuru alam
Sabitnya melengkung senyum bungkam
Menatap puluhan mimpi remang-remang
Terbang di sayap angin petang
Kebelahan mana mimpi remang-remang melayang
Asal ia tak jadi padam
Sebab dingin malam mencekam
Biar terang di siang membuatnya jadi benderang
Janji Jumanji
Ini pernyataan teka-teki,
Dibungkus lewat puisi,
Dikobarkan lewat orasi,
Dengan kalimat berapi-api,
atau yang menarik hati,
Agar banyak yang simpati,
Tapi hasilnya belum pasti.
Bisa saja putar arah kemana saja nanti,
Tujuannya masih tersembunyi,
Puisinya ditafsir sendiri.
Emang apasih?
Itu lho ... janji-janji.
Dibungkus lewat puisi,
Dikobarkan lewat orasi,
Dengan kalimat berapi-api,
atau yang menarik hati,
Agar banyak yang simpati,
Tapi hasilnya belum pasti.
Bisa saja putar arah kemana saja nanti,
Tujuannya masih tersembunyi,
Puisinya ditafsir sendiri.
Emang apasih?
Itu lho ... janji-janji.
Aduhai ...
Fajar menggelar!
Waktunya pasang topeng anggun digelar!
Update!
Aduhai ...
Mentari merebak seujung tombak!
Geraknya cepat sebelum sang Tuan berlagak!
Update!
Aduhai ...
Panas menyeruak, nafas memburu!
Hiruk-pikuk jalanan sumpek jadi satu!
Update!
Aduhai ...
Luruh peluh berderai!
Dikejarnya waktu pun tak sampai!
Awas singa Tuan menyeringai!
Jadilah gaji sebulan, setengah dicerai!
Update!
Aduhai ...
Diseret langkah kaki malas!
Tagihan hutang bikin lemas!
Pasang status bilang ikhlas!
Update!
Aduhai ...
Senja di timur menengadah!
Niat ke Masjid pasang wajah!
Mampir di beranda ngajak ibadah!
Barulah sadar waktu habis bilang "dadah! ... "
Aduhai ...
Fajar menggelar!
Waktunya pasang topeng anggun digelar!
Update!
Aduhai ...
Mentari merebak seujung tombak!
Geraknya cepat sebelum sang Tuan berlagak!
Update!
Aduhai ...
Panas menyeruak, nafas memburu!
Hiruk-pikuk jalanan sumpek jadi satu!
Update!
Aduhai ...
Luruh peluh berderai!
Dikejarnya waktu pun tak sampai!
Awas singa Tuan menyeringai!
Jadilah gaji sebulan, setengah dicerai!
Update!
Aduhai ...
Diseret langkah kaki malas!
Tagihan hutang bikin lemas!
Pasang status bilang ikhlas!
Update!
Aduhai ...
Senja di timur menengadah!
Niat ke Masjid pasang wajah!
Mampir di beranda ngajak ibadah!
Barulah sadar waktu habis bilang "dadah! ... "
Negeri Bawah Angin
Amboi!
Inilah tanah Zirbad, kata Persia
Lapak surgawi di bawah harum khatulistiwa
Tak perlu terbang ke negeri khayalan,
untuk berdiri di atas awan
Meranjak pelangi?
Itu bukan fatamorgana, di sini lah peraduannya
Di ufuk!
Pesona saga merah merona jingga,
tenggelam di batas cakrawala,
disapa kerlingan genit batu-batu langit,
disihir hingar binar sang rembulan, elok nian!
Hai!
Ini bukan negeri antah-berantah dalam sajak-sajak dongeng,
atau peradaban di alam bawah sadar,
inilah Zirbad Khatulistiwa!
Indonesia kata Persia
Sejauh mata memandang,
riuh gemuruh selaksa padi serupa emas dan sutera,
Harum tanah basahnya menyajikan aroma rempah,
Warna-warni kembang wangi, ayu di ambalan hijau kaki langit,
Melodi riang pun didendangkan orchestra para burung
Surya bak intan!
Tenggelam dalam beningnya samudera biru,
Mahligai pasir putih beradu riuh ombak,
Desah desau angin sejuk menerpa muka
Lihatlah!
Simbad-simbadnya pun gagah mengarungi bahtera nusantara,
Inilah tanah Zirbad!
Bumi pertiwi, Indonesia
Inilah tanah Zirbad, kata Persia
Lapak surgawi di bawah harum khatulistiwa
Tak perlu terbang ke negeri khayalan,
untuk berdiri di atas awan
Meranjak pelangi?
Itu bukan fatamorgana, di sini lah peraduannya
Di ufuk!
Pesona saga merah merona jingga,
tenggelam di batas cakrawala,
disapa kerlingan genit batu-batu langit,
disihir hingar binar sang rembulan, elok nian!
Hai!
Ini bukan negeri antah-berantah dalam sajak-sajak dongeng,
atau peradaban di alam bawah sadar,
inilah Zirbad Khatulistiwa!
Indonesia kata Persia
Sejauh mata memandang,
riuh gemuruh selaksa padi serupa emas dan sutera,
Harum tanah basahnya menyajikan aroma rempah,
Warna-warni kembang wangi, ayu di ambalan hijau kaki langit,
Melodi riang pun didendangkan orchestra para burung
Surya bak intan!
Tenggelam dalam beningnya samudera biru,
Mahligai pasir putih beradu riuh ombak,
Desah desau angin sejuk menerpa muka
Lihatlah!
Simbad-simbadnya pun gagah mengarungi bahtera nusantara,
Inilah tanah Zirbad!
Bumi pertiwi, Indonesia
Kedamaian
Adalah ranjau yang mereka taburkan di seluruh setapak ini,
melukis bercak derita yang tak kian memudar,
Tiadalah sedikitpun kemanusian,
nilainya sengaja dibinasakan
Bersabarlah, sahabatku!
Engkau adalah laskar pilihan Tuhan,
kemenanganmu atas ujian ini adalah janjiNya sendiri
Duka laramu akan lekas berpaling,
kepahitan akan bertemu jua ujungnya
Bilakah waktunya tiba,
kedamaian pasti kembali
melukis bercak derita yang tak kian memudar,
Tiadalah sedikitpun kemanusian,
nilainya sengaja dibinasakan
Bersabarlah, sahabatku!
Engkau adalah laskar pilihan Tuhan,
kemenanganmu atas ujian ini adalah janjiNya sendiri
Duka laramu akan lekas berpaling,
kepahitan akan bertemu jua ujungnya
Bilakah waktunya tiba,
kedamaian pasti kembali
Aku Memang Menyebalkan
Aku memang menyebalkan!
Selalu menuntut orang lain untuk menyamakan ukuran sepatunya dengan sepatuku!
Sementara aku tak peduli jika mereka harus tertatih-tatih,
terseok-seok dan termehek-mehek saat berjalan bersamaku!
Aku memang menyebalkan!
Selalu memaksa orang lain untuk mengikuti ambisiku!
Mendakwa sesiapa untuk menjadi prajuritku!
Berlari, memikul, terengah dan terkapar
Namun, aku menggugat mereka untuk terus bergerak!
Tanpa peduli dengan mereka yang termegap-megap, lalu lenyap!
Selalu menuntut orang lain untuk menyamakan ukuran sepatunya dengan sepatuku!
Sementara aku tak peduli jika mereka harus tertatih-tatih,
terseok-seok dan termehek-mehek saat berjalan bersamaku!
Aku memang menyebalkan!
Selalu memaksa orang lain untuk mengikuti ambisiku!
Mendakwa sesiapa untuk menjadi prajuritku!
Berlari, memikul, terengah dan terkapar
Namun, aku menggugat mereka untuk terus bergerak!
Tanpa peduli dengan mereka yang termegap-megap, lalu lenyap!
Aku memang menyebalkan!
Selalu mengklaim orang lain agar menjadi bayanganku!
Tunduk terhadap tatanan yang aku ciptakan sendiri!
Tanpa memberi celah kepada sesiapa
untuk berkata bahwa aku bukan ratu dari sesiapa!
Aku memang menyebalkan!
Selalu mendesak orang lain untuk memahami semua tentangku!
Padahal aku tak pernah menerbitkan secuilpun biografi tentang itu!
Tanpa mau tahu sesukupun dari kata 'tidak' untuk menolak!
Ahh ternyata, aku begitu menyebalkan!
Teruntuk si otoriter
Selalu mengklaim orang lain agar menjadi bayanganku!
Tunduk terhadap tatanan yang aku ciptakan sendiri!
Tanpa memberi celah kepada sesiapa
untuk berkata bahwa aku bukan ratu dari sesiapa!
Aku memang menyebalkan!
Selalu mendesak orang lain untuk memahami semua tentangku!
Padahal aku tak pernah menerbitkan secuilpun biografi tentang itu!
Tanpa mau tahu sesukupun dari kata 'tidak' untuk menolak!
Ahh ternyata, aku begitu menyebalkan!
Teruntuk si otoriter
Friday, 25 November 2016
Curhat
Mari kita duduk bersila, saling memandang wajah satu sama lain. Sediakan
saja es pisang hijau untuk teman kita berbincang.
Jika kemarin aku lega menjadi pendengar setiamu, maka bersabarlah terhadapku untuk hari ini. Karena aku akan mengajakmu berkeliling, mencerna setiap kata yang susah payah aku rangkai.
Jika nanti pun kau masih harus tersendat dalam memahami maksudku, ku harap kau masih mau bertahan sedikit lebih lama, nanti kucarikan kata yang lain, biar ku susun lagi kalimat yang baru.
Jangan lupa, aku adalah seorang yang tak baik dalam mengungkapkan maksud hati.
Oleh sebabnya aku tak mudah bercerita, bingung sendirian ketika harus curhat.
Jadi, lapangkanlah hatimu, bersabarlah padaku.
Jika kemarin aku lega menjadi pendengar setiamu, maka bersabarlah terhadapku untuk hari ini. Karena aku akan mengajakmu berkeliling, mencerna setiap kata yang susah payah aku rangkai.
Jika nanti pun kau masih harus tersendat dalam memahami maksudku, ku harap kau masih mau bertahan sedikit lebih lama, nanti kucarikan kata yang lain, biar ku susun lagi kalimat yang baru.
Jangan lupa, aku adalah seorang yang tak baik dalam mengungkapkan maksud hati.
Oleh sebabnya aku tak mudah bercerita, bingung sendirian ketika harus curhat.
Jadi, lapangkanlah hatimu, bersabarlah padaku.
Subscribe to:
Comments (Atom)
-
Aduhai ... Fajar menggelar! Waktunya pasang topeng anggun digelar! Update! Aduhai ... Mentari merebak seujung tombak! Geraknya cepa...
-
" Seberapa yakinkah kita bahwa obsesi kita dapat mengantarkan kita pada keberartian, pada kepuasan batin sebagai seorang hamba yang...
-
Ada hal yang ditunggu, namun tak kunjung berlabuh. Ada yang diharapkan, namun tak juga kesampaian. Pula ada yang tak terduga Allah dat...
