Saturday, 31 August 2019

Bagaimana Menuai Hikmah?



Pernah kejadian kayak gini? Saat kamu membaca berulang sebuah tulisan, mereplay lagi sebuah podcast, memutar untuk yang entah ke sekian sebuah video, namun rasanya susah sekali untuk dapat memahami maksudnya.  Boro-boro memetik hikmah, merangkai intinya saja kepayahan.

Di waktu yang sama, ada juga seseorang yang hanya mendengar sekelibat saja, hatinya bergetar, air matanya mengalir. Dia dengan mudah menuai pelajaran. Hemmm.. rasanya ingin sekali kita meminjam kaca mata miliknya.  Betapa mudah orang itu mengambil hikmah suatu peristiwa.

Tahukah? jika hari ini seseorang dapat memetik suatu hikmah, maka sesungguhnya dia sedang memperoleh harta karun. Ya, suatu hal yang mungkin tak banyak orang dengan mudah bisa mendapatkannya.

Maka beruntunglah orang itu. Karena hikmah itu langsung Allah yang kasih.  Allah sendiri yang membuka batinnya agar ia mampu mengambil sebuah pelajaran dari suatu syariat yang dikontemplasikan dengan kehidupannya sekarang, sehingga ia bisa segera berbenah dan istiqomah dalam beriman.

"Allah akan memganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki.  Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah tersebut, ia benar-benar telah dianugerahi kebaikan yang tak terhingga.  (Al Baqarah : 269)

Ternyata hikmah yang kita peroleh bukan karena epiknya karya seseorang, bukan karena diksi tingkat dewa sebuah tulisan, bukan pula karena suara yang begitu mempesona atau mahirnya seseorang dalam berbicara. Sebab persoalan tentang mentransfer hikmah, itu sudah ranahnya Allah. Allah langsung yang mengetuk pintu hati manusia dan memasukkan hikmah itu ke dalamnya.

Tapi, kira-kira siapa saja sih yang paling luas kemungkinannya untuk memperoleh hikmah? 

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan hikmah.” (Qs Ali Imran [3]:164)

Karena hikmah miliknya Allah, dan Allah sendiri yang kasih, maka terus menerus pdkt sama Allah itu wajib. Karena itu, barang siapa yang beriman kepada Allah Swt dan ajaran-ajaran para nabi serta hidup dengan takwa dan iman maka Allah Swt akan membukakan gerbang-gerbang hikmah baginya sebagai tebusan atas iman dan amal saleh yang dikerjakan.


Tuesday, 13 August 2019

Niat Berubah Kita


Saat kita menghisab diri kita, membuat ruang kontemplasi dan menumbuhkan kesadaran untuk memperbaiki diri : Pastikan bukan karena kita ingin menyenangkan hati orang lain. Atau karena ingin disukai oleh banyak manusia.

Namun, karena kita sayang diri kita sendiri.

Sepenuh hati kita memperbaiki diri karena lillahi ta'ala. Sebab kita ingin berikhtiar meneladani akhlaq Baginda.

***
Makasih ya, Naa, buat remindernya.

Majelis Ilmu



Kamu tahu ? ada banyak hal yang bisa engkau dapatkan saat engkau di dalam sebuah majelis ilmu. Yang barangkali tak engkau dapatkan saat engkau membaca buku atau otodidak.
Ialah iman yang bertambah.

Sebab iman perlu sebuah pengkondisian.

Monday, 5 August 2019

TOXIC!

Yang bikin kita lelah, terkadang bukan beban dari pekerjaan kita.
Tapi dari energi-energi negative yg ada di sekeliling kita.

Sesepele kata/ kalimat :
"yaudahlah"
"sudah, jangan tinggi2"
"Jangan ngoyo" 
"sok pahlawan" dsb.

Informasi seseorang terkadang malah dijadikan untuk menjudges niat seseorang,
"Dia mah gitu orangnya"

Padahal, untuk memahami, bukankah akan lebih bijak dengan bertanya? Bukan dengan melabeli.

Kamu tahu? Ada sebuah ritual unik di salah satu sudut belahan bumi kita ini.
Yaitu jika mereka ingin menebang pohon-pohon raksasa yg sudah tua di sebuah hutan, mereka tak menebangnya dengan alat2 seperti gergaji dsb.  Tapi mereka berkumpul, mengelilingi pohon tua itu, lalu membacakan ritual yang maknanya adalah kata-kata umpatan atau sejenisnya.
Tunggu saja beberapa hari. Pohon megah itu perlahan layu, mati, bahkan tumbang.

TOXIC!
Tanpa sadar kalimat-kalimat itu sudah menjadi racun bagi hati seseorang.  Seseorang yang semula ingin melakukan yang terbaik dari dirinya, perlahan semangatnya layu. Barangkali menjadi tidak peduli.  Dengan enteng reaksi mereka,
"Gitu aja baper..."

Kita, semoga tidak begitu :)

[Definisi] Selesai Dengan Diri Sendiri