Tuesday, 25 December 2018

Kebaikan Seorang Pengkhilaf




Dalam kaca mata seorang pengkhilaf seperti saya, bersedekah akan lebih mudah ketimbang dengan benar-benar bersyukur secara utuh.  Meskipun keduanya sensible esensinya mungkin sama.

Dalam kaca mata seorang pengkhilaf seperti saya, segala kebaikan yang nampak akan jauh lebih mudah di lakukan dari pada melakukannya dalam kerahasiaan. 

Kebaikan seperti bersedekah, memberi ke tetangga, membantu kerabat, mendengarkan keluh kesah orang lain adalah jenis kebaikan yang nampak. Boleh jadi kesemua itu sudah menjadi rutinan hal yang di lakukan.
Tapi siapa tahu? Bahwa melakukannya dalam kerahasiaan adalah kepayahan. Menyembunyikannya dari tangan yang lain itulah yang paling sulit.

Dalam kaca mat pengkhilaf seperti saya, kebaikan rahasia yang paling sulit untuk di lakukan.
Seperti bersyukur secara utuh, atas semua yang dimiliki atau tidak, yang kita dapat atau belum, yang telah datang atau yang sudah menghilang.
Seperti ridho atas segala sesuatu yang telah terjadi, yang tengah terjadi, dan yang akan terjadi.  Ridho atas segala takdir yang tetap maupun yang tetap bisa di rubah.
Kebaikan seperti memaafkan orang lain meski tak diminta. Mengikhlaskan hutang seseorang. Menghapus kecewa dalam diri.
Kebaikan seperti menahan perasaan amarah, sedih bahkan bahagia yang terlalu membuncah. Atau kebaikan seperti tak berprasangka kepada orang lain. Adalah jenis kebaikan yang sulit untuk dilakukan.

Padahal, sebuah kebaikan akan lebih bernilai jika tak hanya lahir kita yang melakukannya . Tetapi juga batin kita.
#ntms

Friday, 14 December 2018

MENG-UPAH DIRI



Salah satu bentuk upah terbaik yang bisa engkau hadiahkan untuk dirimu sendiri adalah : dengan memastikan bahwa dirimu hari ini lebih baik dari hari yang lalu.

Sederhana saja, seperti dengan memastikan bahwa kamu menjaga dirimu lebih baik dari kemarin adalah salah satu bentuk apresiasi yang sangat berarti.

Tak perlu yang muluk-muluk. Mulai dari hal simpel seperti memastikan bahwa pagi ini kamu tak melewatkan sarapan pagi. Minum air putih yang cukup. Atau dengan memberi jarak
diri baik-baik dari segala rupa micin.

Tak perlu terlalu keras terhadap diri. Pastikan saja bahwa kamu telah memberi cinta yang layak untukmu sendiri. Karena saat engkau mampu memberikan kebahagiaan untuk dirimu, engkau pun akan lebih mampu memberikan cinta terbaik untuk sekelilingmu. Termasuk keluargamu.

Sejatinya, aku tak pernah benar-benar sedang bersaing dengan dirimu. Melainkan aku sedang berlomba dengan diriku yang kemarin. 

Sunday, 9 December 2018

Temali Cinta Keluarga Ibrahm [Episode I]



Namrud dan Babilonia
Angin siang itu berhembus, menyapu rata semenanjung arab yang meranggas, membawa kabar berita dari timur, tentang tangga menuju langit yang dibangun dengan tujuan untuk menemui Tuhannya Ibrahim. Kabar itu tersiar panas, sepanas Jazirah Arab di siang hari yang gundul itu, tak ada yang mampu menahan laju anginnya yang membara di tanah tandus nan gersang, ia melesat dengan iringan suara bising dari palu, bodem, linggis, yang saling beradu jotos sepanjang waktu. Sementara angin itu sendiri bersumber dari nafas penderitaan, nafas yang termehek-mehek dari budak-budak nestapa yang seribu tahun usianya hanya untuk membangun tangga menuju langit itu.
Ialah Namrud Bin Kan'an. Tirani raksasa dari Babilonia. Kerajaan yang pernah menguasai sebagian besar wilayah Asia Barat danTimur Tengah, sekiranya di 2000 tahun SM.
Maha besar Allah yang telah menganugerahi Namrud dengan kecerdasan yang adiluhung. Raja yang telah dianugerahi dengan daya intelektual yang tinggi dan menjadi ahli dalam berbagai bidang seperti arsitektur, matematika dan ilmu falak. Disamping itu, Namrud mahir dalam perhitungan matematika dalam konstruksi bangunan-bangunan besar, jembatan, kuil, istana dan bendungan. Antara lain kontribusinya adalah konstruksi sistem saluran irigasi di lembah Tigris dan Euphrates.
Namun kecerdasan yang dianugerahkan oleh Tuhannya tak pernah ia gunakan untuk bersyukur kepada sang pemberi. Bahkan dengan angkuh ia menyangkal peringatan yang dibawa oleh Ibrahim, dengan ilmu falaq yang ia kuasai ia mempengaruhi pemikiran rakyatnya dan mengaku dirinyalah sebagai Tuhan yang paling agung. Dengan kecerdasan adiluhungnya ia membangun bangunan-bangunan megah untuk membuat takjub siapapun. Dan rakyatnya yang jahiliyah dengan begidik sembah sujud kepada si Namrud.
Maka kehidupan di Babilonia kala itu begitu bak dengan huru-hara. Manusia menghambakan diri kepada manusia. Memuja kesemenaan dan berhala. Tunduk kepada syahwat dan gemerlap duniawi. Yang melarat makin sekarat, yang serakah makin membuncah. Ah, tak akan kau temui tangan yang saling menguatkan, bahu yang saling menopang, semua orang beringas. Saling memangsa satu sama lain.
Duhai Raja Namrud yang terlampau sombong! Untuk menantang dan ingin menemui Tuhannya Ibrahim, dengan kecanggihan arsitektur yang ia miliki, Namrud mendirikan sebuah tangga menuju langit, tangga spiral yang mengelilingi menara babel yang dibangunnya begitu megah. Bangunan pencakar langit pertama di dunia. Puncaknya hilang diantara rerimbunan awan. Tak ada sepasang mata yang mampu menjangkau puncak menara, pandangannya menggantung, gelap, melayang seperti pandangan mata para budak pembuatnya yang tak jelas kemana arah kehidupannya. 
Maka saat rakyat Babilonia siang itu dimabuk kepayang oleh keserakahan dan gemerlap duniawi, Tuhannya Ibrahim dengan semudah mengucapkan huruf "Kaf' meruntuhkan kiamat dari puncak menara langit itu. Semuanya berduyun rangsek ke bumi. Mungkinkah pembangunan menara Babel ini salah alamat? Bukannya menuju kahyangan namun ia menyundul neraka? Sehingga kiamat meruntuhkan istanah dalam sekali hirupan nafas yang begitu pendek. Sependek nafas yang terengap-engap dari para budak nestapa yang membangunnya.
Duhai Namrud, Tirani Raksasa Babilonia, ingatlah, masih ada yang Maha Perkasa di alam semesta ini. Bukankah Tuhan melalui Ibrahim telah memberikan banyak peringatan?
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintah (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan : "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," Orang itu berkata, "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata, "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang - orang yang zalim." (QS. Al-Baqarah [2] : 258).
Duhai Namrud, Tirani Raksasa Babilonia, ingatlah, masih ada yang Maha Perkasa di alam semesta ini. Bukankah Tuhan melalui Ibrahim telah memberikan peringatan?
Bersambung... 

Thursday, 6 December 2018




If, if, if. 
If itu temannya setan. 

Keluarga Biasa



"Meg, Gw pindah rumah"
Sebuah chat masuk.  Seperti biasa, pengantar topiknya lugas dan tanpa basa-basi.  Chat itu datang dari seseorang yang saya kenal pertama kali saat bekerja di salah satu stasiun radio.

Sudah tertebak kemana topik chat siang ini akan berlayar.  Seputaran kerumahtanggaan, finansial, dan kawan-kawannya.

Pertanyaan klasik pun saya ajukan.
"Pindah ke mana, Say?"

Kami larut dalam obrolan siang ini.  Tanpa perlu wawancara serius, teman saya yang satu ini akan mengalir dengan sendiri untuk menceritakan tanpa perlu keluar dari teritori privasi.

"Alhamdulillah.  Mayan deket dari kota dan terjangkau ya, Saay" begitu responku.

Tak selang beberapa lama chat itu terbalas. 
"Kata Mas Bojo, yang penting dekat dengan masjid atau mushola, Ga."

Masyaa Allah, Barokallohu fiik. Batinku.

Saya cukup kenal baik dengan istri dan suaminya.
Mereka orang-orang biasa, dengan penampilan biasa.
Bukan seseorang yang akhey-ukhtey look-like-banget yang lengket dengan simbol-simbol islamis. Jilbabny biasa. Pakaiannya biasa. Meski kadang rok masih sekip dan lebih sering pakai jeans.
Namun, keduanya istimewa. Sebab, mereka adalah sepasang suami-istri biasa yang sama-sama bertekad untuk menjadi lebih baik. Meski perlahan tapi terlihat pasti.

Seperti bagaimana mereka  sangat menjaga shalat mereka untuk istiqamah dikerjakan di awal waktu.
Sedang suaminya juga berusaha keras untuk mendirikan shalatnya yang lima berjamaah di masjid. Hal ini pun berdampak  saat mereka memustuskan untuk mencari tempat tinggal baru.

Angin sakinah tengah menaungi keluarga ini.
Saya cukup sadar akan revolusi yang terjadi pada diri teman saya yg satu ini.  Gadis sumatra yang dulu cukup liar pikirannya, sehingga membuat ia terlihat memiliki kepribadian yang keras dan tak mudah untuk dipatuhkan, kini, semenjak menikah, ia bertransformasi menjadi perempuan yang begitu lunak.

Saya kira bukan karena lidah suaminya yang dingin.  Tapi karena prinsip luar biasa dari keluarga biasa ini: untuk sama-sama menjadi lebih baik setiap harinya dan ingin menggapai ridho Allah swt.
Barokallohu fiikum

[Definisi] Selesai Dengan Diri Sendiri