Pagi ini datang lagi pertanyaan dari seorang teman. Seperti gambar di atas. Chat itu saya screenshoot dan saya lempar pertanyaannya untuk publik melalui status WA. Dan hasilnya ada tiga jenis respon yang masuk, yaitu :
1. Tanya balik 😑
2. Dikejar Saja. 🔥 Jawaban ini lebih banyak datang dari mereka yang posisinya masih sekolah atau kuliah. Idealismenya masih josh! 👊🏽
3. "Sing penting ikhtiar, tapi jalannya ya ikut arus lah, Meg. Sambil melihat kode Alam". 😆 - Latifah. Respon sejenis datang dari yang sudah mulai kerja, #heu :). Mungkin mereka sudah sedikit merasakan babak belurnya menjalani kehidupan. Sehingga perlahan ada yang mulai pasrah, bergaining dengan alam, ada juga statement menyerah. 🙂
So, let me share pandangan saya mengenai hal yan satu ini.
Ngomongin soal cita-cita emang nggak pernah ngebosenin, yak. 😄
Ia adalah barisan doa-doa yang membuat kita semakin percaya bahwa kita hanya hamba biasa yang sepenuhnya hanya bisa bergantung sama Tuhan. Bahkan kemampuan kita berusaha pun datangnya dari Tuhan. :)
Jadi, sebenarnya, pembatas cita-cita dan realita itu hanya dua :
1. Ikhtiar
2. Takdir Tuhan.
Pandangku, aturan main seseorang yang berani memiliki cita-cita hanya ada 2 :
Pertama. Kita bisa bercita-cita setinggi langit, tapi untuk membuatnya menjadi nyata tidak bisa dengan seenak jidad duduk di tempat.
Kedua. Kita boleh jadi sudah sangat keras berikhtiar, tapi jangan melupakan bahwa Tuhan sudah menggariskan takdir terbaikNya untuk kita.
Itu saja aturan mainnya. Hehehe
Kalau dalam Al Quran tugas kita kan yang penting kan berproses, ya. Eksekusinya kita serahkan ke Allah.
Jadi, kalau kita berani buat bercita-cita, Dua aturan main tadi satu paket. Tidak bisa ditinggalkan salah satunya.
"Haa njuk, terus piwe?" respon teman saya.
Nek pandangku, Sebenarnya yang terpenting dari cita-cita itu kan esensinya, ya. Bukan sekadar menjadi apa? Tapi mengapa? Dan untuk apa?
Misal (ngawang aja ini contohnya) : Aku pengen jadi Reporter.
Kenapa? Karena reporter adalah profesi paling strategist untuk mengungkap fakta-fakta dan kebenaran, biar tidak ada kebenaran yg ditutup-tutupi, dsb. dsb. #heu 😅
Tugasku emang berikhtiar piwe carane dadi reporter. Tapi jangan melupakan esensi dari mengapa dan untuk apa kita ingin jadi reporter tadi.
Kita kan masih bisa menyampaikan kebenaran walau nggak jadi reporter kan ya? Jadi menurutku justru esensi ini yang perlu terus kita kawal dan kita kejar, gimana caranya agar esensi dari cita-cita tadi bisa tetap kita dapat walau kita belum bisa menjadi seperti yg kita inginkan. #heu 😅
Misal lainnya mungkin : Kenapa aku kudu jadi orang kaya. Kenapa kudu jadi pengusaha. Kenapa harus bangun sekolah. Wkwkwk dsb. dsb. Silakan ditanyakan pada diri sendiri.
Kini, dengan sedikit demi sedikit informasi yang masuk, merangkai cita-cita tak sesederhana karena saya ingin menjadi. Meski pada kenyataannya, ketika ada sharing session tentang impian dan harapan, hampir selalu cita-cita saya yang sepertinya paling sederhana, tak pernah seambisius lingkaran pertemanan saya. Dan pada dasarnya segala jenis cita-cita itu sangat sederhana bagi Allah.
Nah, jadi bukan karena itu. Tapi bagaimana kita bisa mengarahkan cita-cita kita dalam rangka untuk memenuhi tugas-tugas yang Allah kasih ke kita. 😊
Iya, Allah menciptakan manusia kan pasti ada alasannya? Pasti ada Misi yang musti kita laksanakan? 😊 iya kan?
Sampai di sini dulu. Kita berikan jeda untuk bertanya dengan diri sendiri.
Itu sih kalau menurutku.
Ini 4 rumus yg jadi SOPku : hehe
1. Tau yang kita mau (apa, mengapa, untuk apa?).
2. Kejar yang kita mau
3. Beri ruang pendapat orang lain dan filter
4. Beri ruang untuk taqdir Tuhan.
'
Jadilah engkau seorang sekailpun kakinya di bawah gunung, tetapi cita-citanya di atas bintang tsuraya dan zuha

No comments:
Post a Comment