"Jadi nanti mau ngumpul di mana, nih?"
"terserah"
"kamu mau makan apa?"
"terserah".
"Iya atau enggak, nih?"
"terserah"
Haaaiiisssshh
😪
Dulu, sering banget njawab 'terserah' kalau dikasih pilihan semacam di atas. Tapi giliran nanya balik dan di kasih jawaban 'terserah' kok rasanya gemes, ya?
Ehehe. Mau nggak mau akhirnya jadi ngaca, deh.
Nggak tau sih, makin berumur rasanya pengen lebih efisiensi waktu aja. :)
Mungkin dengan kasih referensi opini yg jelas kita bisa saling meringankan dan lebih hemat waktu. Kalau iya, kita next. Kalau enggak, kita cari jalan lain.
Yang jadi masalah kadang kata 'terserah' nya itu abal-abal.
"Kalau nanti ke warung seblak, gimana? "
"ihhhhh.... Aku nggak doyan!"
"katanya terserah? 😐"
Hahahahahhahaha. Siapa yang kayak gini, cung! ☝🏽
Akhirnya perlahan sy coba ubah sikap.
"Terus mau di mana?"
Kalau rasanya nggak tau pasti, paling tidak sy akan deskripsikan.
"Pengen di tempat yang tenang, terbuka, adem. Enak buat mikir. Enak buat kerja, bla bla bla. Kalau di sini, gimana?"
Jadi sy mencoba untuk memberi referensi opiniku. Walaupun ruang pendapat orang lain dan takdir itu tetep wajib di kasih tempat.
Kalau misal ngasih jawaban 'terserah' berarti saya bertanggung jawab untuk menerima keputusan apapun.
Semisal soal makanan. Karena emang dasarnya, sy tidak pilih-pilih makanan, kata terserah ini kadang masih suka keceplosan.
"Terserah"
Hahaha kasian temanku jadi bingung. Masalah sy mau makan apa aja dia harus mikirin. Wkwkwk walau emang kalau soal makanan emang terserah, sih, bisa makan apa aja. Jadi, biasanya aku bakal bilang
"kamu mau makan apa? Aku samain menunya kayak punyamu, ya. Aku omnivora, kok" 😅
Iya. Jadi begitulah.
Kalau kata mbak Tris,
Ku tahu yang ku mau.
Ku kejar yang ku mau.
Ku saring pendapatmu.
Ku terima yang dikehendakiNya

No comments:
Post a Comment