Thursday, 30 August 2018

Saya Senang Berkereta Api


Beberapa kali saya mendapatkan pertanyaan yang sama, seperti saat saya mengobrol dengan seseorang. 

"Mbaknya Trainer, kok sering naik kereta api?"
*&$%#@?  
"Loh, apa hubungannya, Pak? hehehe"
Ternyata si Bapak ini kemarin baru saja naik kereta api untuk yang pertama kali sak keluarga. Wah, hehehe jangan-jangan gara-gara sering liat statusku pas lagi di kereta ya, Pak? Ketahuan banget deh suka apdet status.

Tapi emang bener sih, satu tahun terakhir ini dari yang semula lebih sering naik motor kalau keluar kota sekarang memilih untuk naik kereta. Mungkin karena sudah semakin berumur, udah kayak embah-embah yang masuk anginan kalau kena udara dikit. Dulu sih pertimbangannya agar mobilitas lebih mudah kalau naik motor. Tapi sekarang kan udah ada Bang Ojol. hehehe

Bagi saya pribadi sih, kereta adalah tempat peristirahatan yang sederhana. Apalagi kalau sehabis ada aktivitas kejar tayang. Perjalanan di kereta bisa jadi tempat unik, nyaman, dan waktu efektif untuk tidur.😅

Puluhan bahkan ratusan orang beristirahat dalam luas ruang yang cukup jembar. Massal bergerak di satu titik, tapi disisi lain, privat di tumpuan kursi masing-masing. 

Satu sama lain mengobrol, beberapa diantaranya terlelap, ada yang tak mau ketinggalan untuk cekrak-cekrek dan apdet status, mainan ponsel, mengerjakan pekerjaan baik suka atau terpaksa, memikirkan sesuatu, melamunkan seseorang yang di sayang, atau mempertanyakan dirinya sendiri. -- di mana kereta ini akan singgah? ke mana hati ini akan berlabuh? apa tujuan hidup yang sedang aku kejar?
 (wahh.. naik kereta ternyata ribed, ya, Meg. wkwkwk) 

Bagi saya, ruang terbuka, kendaraan umum, orang massal, adalah sumber ilmu yang sangat luas. Ada  sedemikian banyak pembelajaran yang bisa kita dapat. Baik saat itu atau nanti-nanti kalau sudah lewat. Dari anak-anak, kakek-kakek, orang tua, pemuda.Yang keliatan kaya, atau sederhana,yang seperti orang kantoran, atau pekerja lepas, yang bersama keluarga, ada berjalan sendirian. Yang bercerita atau khusyuk dalam diam. Di masjid, di lapangan, di pasar bahkan toilet umum. Masing-masing menyajikan pelajaran yang berbeda.

Sangat menyenangkan belajar dari mereka.

Semua yang datang akan kembali pulang. Entah setelah itu hilang atau terabadikan dalam kenangan.




Friday, 24 August 2018

Menjadi Manusia(wi)




Dulu sy mendikte diri supaya tidak boleh ngeluh.  Karena beranggapan itu adalah sifat orang yang lemah.
Berulangkali saya memberi sugesti yang berlawanan dengan apa yg saya rasakan.

Setiap sedih dateng, respon saya,
"iyalah sedih. Dirasa, sih!" 
kalau cape,
"iyalah cape. Dirasa, sih!"

Berfikir bahwa masih banyak orang yg jauh lebih besar masalahnya. Saya terus menjalani hidup dengan konsep yang saya ciptakan sendiri. Setiap hari. Seperti robot. Tanpa rasa.

Tapi..  makin lama njalaninya rasanya makin berat.

Hingga pada suatu saat, saya capek!
Secape-capenya! Boleh jadi rasa cape yang saya rasakan adalah akumulasi dari rasa cape yang selama ini coba saya sembunyikan. Barangkali dalam kata lain, rasa cape yang saya tunda kehadirannya.

Baru setelah itu saya sadar. Saya bukan berusaha positif. Tapi denial, mencoba kabur dari sedih. Dan terlalu mengecilkan masalah sendiri.
Efeknya? Saya jadi sebel ndengerin orang lain ngeluh!

"yaelaa..  gitu aja capek!"

Saya membandingkan dg masalah sendiri dan merasa seharusnya sy yg paling berhak mengeluh.

Ternyata setelah mengecilkan masalah sendiri tanpa sadar saya juga mengecilkan masalah orang lain.Hingga akhirnya saya ingin tobat saja. Saya ingin jadi manusia saja. 

Gagal ya sedih, berhasil ya seneng, cape ya ngeluh.

Ppfft...  Ternyata rasanya enteng menjadi manusia yang manusiawi.
(*asal tidak berlebihan. Yang berlebihan nggak baik buat kesehatan)

Dan buanglah sampah pada tempatnya. 

Eh, maksudnya mengeluhlah ke orang yang tepat!

Saya penasaran, bagaimana rasanya mengeluh di sosmed.  Akhirnya saya coba. Beberapa kali saya coba. Berharap ada yang respon, bilang semangat, ngasih solusi, tapi nyatanya ndak ada.  Malah mungkin mereka illfeel (soalnya likersnya makin dikit)  😂

Jadi sebenarnya apa ya yang dicari? Saya tidak bermaksud menghakimi yang sering curhat di medsos. Cuma pengen tahu aja kenapa?  Apakah lantas ada perasaan lega dan masalah selesai?
Siapa tau ada insight lain. Jadi..  Sebenernya saya juga sedang curhat.  😂

Setelah fase drama (lebay), denial, normal, barangkali juga teman-teman menemui fase
"yo wes lah! Pasrah!"
😂😂😂

source  : nkcthi

Makhluk 'Terserah'


"Jadi nanti mau ngumpul di mana, nih?"
"terserah"
"kamu mau makan apa?"
"terserah". 
"Iya atau enggak, nih?"
"terserah"


Haaaiiisssshh
 😪

Dulu, sering banget njawab 'terserah' kalau dikasih pilihan semacam di atas.  Tapi giliran nanya balik dan di kasih jawaban 'terserah' kok rasanya gemes, ya?
Ehehe. Mau nggak mau akhirnya jadi ngaca, deh.

Nggak tau sih, makin berumur rasanya pengen lebih efisiensi waktu aja.  :)
Mungkin dengan kasih referensi opini yg jelas kita bisa saling meringankan dan lebih hemat waktu.  Kalau iya, kita next. Kalau enggak, kita cari jalan lain. 

Yang jadi masalah kadang kata 'terserah' nya itu abal-abal. 

"Kalau nanti ke warung seblak, gimana? "
"ihhhhh....  Aku nggak doyan!"
"katanya terserah? 😐"


Hahahahahhahaha.  Siapa yang kayak gini, cung! ☝🏽

Akhirnya perlahan sy coba ubah sikap. 
"Terus mau di mana?"
Kalau rasanya nggak tau pasti, paling tidak  sy akan deskripsikan. 
"Pengen di tempat yang tenang, terbuka, adem. Enak buat mikir.  Enak buat kerja, bla bla bla. Kalau di sini, gimana?"

Jadi sy mencoba untuk memberi referensi opiniku. Walaupun ruang pendapat orang lain dan takdir itu tetep wajib di kasih tempat. 
Kalau misal ngasih jawaban 'terserah' berarti saya bertanggung jawab untuk menerima keputusan apapun. 

Semisal soal makanan.  Karena emang dasarnya, sy tidak pilih-pilih makanan, kata terserah ini kadang masih suka keceplosan. 
"Terserah"
Hahaha kasian temanku jadi bingung.  Masalah sy mau makan apa aja dia harus mikirin.  Wkwkwk walau emang kalau soal makanan emang  terserah, sih, bisa makan apa aja.  Jadi, biasanya aku bakal bilang
"kamu mau makan apa? Aku samain menunya kayak punyamu, ya. Aku omnivora, kok" 😅

Iya.  Jadi begitulah. 
Kalau kata mbak Tris,
Ku tahu yang ku mau.
Ku kejar yang ku mau.
Ku saring pendapatmu.
Ku terima yang dikehendakiNya

[Definisi] Selesai Dengan Diri Sendiri