Tuesday, 27 November 2018

Selangkah Menjejak ke Surga



Pernah nggak kamu ngalamin hal ini?
Di mana kamu merencanakan  suatu agenda kebaikan, tapi karena kamu bingung minta ijinnya, takut dimarahin, malu bilang sama orang tua, akhirnya rencana kebaikanmu itu kamu cancel dan kamu lepaskan begitu saja?

Padahal kebaikan itu bukan hanya untuk dirimu, tapi boleh jadi sarana untuk lebih mendekatkan orang tua ke surganya Allah. :(

Pernah nggak? Apa sering? #heu

Ssstt..  Dulu, saya pernah mengalami hal demikian.  Mandeg melakukan rencana kebaikan karena terbentur oleh ijin orang tua.
Akhirnya, setelah sadar bahwa hal seperti ini tak boleh dipasrahkan terus menerus, jadilah saya coba untuk cari solusi. Setidaknya saya telah berusaha agar selangkah saya menjejak ke surga tidak hilang begitu saja.

Begini cara saya...

Saya mulai dengan lebih peka terhadap respon-respon yang diberikan orang tua ketika kita sedang ngobrol dengan mereka.
Semisal, belum selesai menjelaskan, ortu lebih dulu sering menanggapi dan akhirnya maksud yang ingin kita sampaikan jadi tidak terdelivery dengan baik.
Maka saya coba cari akal jika hal demikian nanti terjadi kembali.
Semisal dengan mengingatkan,

"Pak, Bu.  Mega belum selesai menjelaskan.  Ijinin buat menjelaskannya sampai akhir ya, minta tolong untuk didengarkan  dulu dengan baik. Boleh nggak? :)"  atau dengan versi keseharian.

Pastikan kita memperhatikan adab-adab berkomunikasi, ya.
Berkata dengan kata yang menyenangkan dan mudah untuk dipahami orang tua kita. Bahasa yg baik. Menatap lawan bicara kita.  Dan salurkan pula energi yg ingin kita sampaikan.  (Misal, kamu ingin menyampaikan maksud baik, ya, salurkan energi positifmu).
Kalau orang tua kita sedang bicara dan sebaliknya, pastikan fokus kita buat mereka.  Hentikan sejenak aktivitas-aktivitas lainnya seperti scrolling wa dll.

Selanjutnya adalah saya memakai rumus ini :
1. Kita tahu yang kita mau.
2. Kita kejar yang kita mau.
3. Kita berikan ruang dan filter pendapat orang lain.
4. Kita berikan ruang untuk takdir atau ketetapanNya.
Empat hal tersebut satu paket.  Jadi, tidak untuk ditinggalkan salah satunya.
So, yuk cek penjelasannya satu-satu.

Point pertama.
Kita tahu yang kita mau.
Ini hal mendasar yang perlu kamu cek berulang-ulang sebelum dikomunikasikan dengan orang tua.

Kenapa kamu mau ini? Kenapa tidak yg lain saja? Bahkan, kenapa harus yang ini? Gimana caranya?

Persiapakan penjelasan terbaik. Jangan sampai ketika ditanya balik, kamu sendiri bingung.  Ahh ketauan deh kalau kita kurang matang dalam memutuskan  dan memperhitungkan.

Btw, saya juga pernah gagal di point pertama. Udah sering di skak mat karena terburu-buru bilang sebelum di persiapkan penjelasannya matang-matang.  Akhirnya cuma bisa diam. - - " Tapi its oke. Di kesempatan yang lain, saya akan berusaha bergaining sekali lagi.

Nah, kita meluncur ke point yang ke dua.
Kejar yang kita mau
Ini point yang cukup nano-nano.
Kita harus bersiap atas segala kemungkinan. Dan hanya ada 3 kemungkinan di sini.
Tiga kemungkinan tersebut adalah :
1. Yes
2. No
3. Oke kita kompromi.

Nah, kalau udah yes, orang tua ridho, insyaa Allah tinggal jalan ya.  Tinggal gimana kita menghadapi kemungkinan ke 2 dan ke 3.

FYI, mengkomunikasikan kebaikan tidak pernah menjanjikan bahwa jalannya akan mulus. Perjalanan saya mengkomunikasikan berbagai keputusan dengan orang tua yang menurut saya itu baik, banyak yang kemudian harus dilalui
degan air mata. Heu

Ora popo, jangan gugup ketika belum apa-apa ortu sudah bilang NO!
Kalem aja, dan arahkan untuk beralih ke kemungkinan yg ke 3, yaitu: Yuk, kita kompromi.

Coba ingat-ingat lagi rumus di awal :
1. Tau yang kita mau
2. kejar yang kita mau (kita komunikasikan dengan penjelasan terbaik yang sudah kita siapkan)
3. Filter pendapat orang lain (Nah, di sini waktunya kamu bergaining. Minta alasan atau pertimbangan orang tua mengapa mereka berkata tidak, kali aja memang ada benarnya) selanjutnya adalah
4. Terima ketetapanNya.  Yes! Tugas kita hanya  ikhtiar, soal hasil, mutlak urusan Allah. :)


Monday, 19 November 2018

Mencintaimu dengan Sederhana


Saya telah belajar dari kehilangan.
Bahwa selayaknya, kita hanya boleh mencintai sesuatu dengan sederhana. Dengan cukup.
Hadir sesuai kebutuhan dan memberi jarak sesuai kebutuhan.
Sehingga tak kan ada bahagia yang berlebih.

Tak perlu memberi cinta yang berlimpah-limpah.  Membuat ia tak bisa berpaling dari kita. Cukup mencintainya dengan sederhana.
Sehingga tak kan ada rasa sakit yang teramat ketika pada akhirnya pertemuan kita telah sampai pada batas ujungnya. Yaitu Perpisahan.

Puisi Aku Ingin - Karya Sapardi Djoko Damono. (yg katanya diciptakan ketika sdang patah hati)

[Definisi] Selesai Dengan Diri Sendiri