Pagi ini beberapa chat masuk. Serentak mengatakan
"Maaf, mbak. Hari ini aku nggak bisa jadi bantu" kurang lebih begitu kalimatnya.
Disusul dengan alasan masing-masing yang saat itu belum dapat kuterima.
Aku hanya membaca pesan-pesan itu. Perasaanku sedang tak menentu. Tak bijak rasanya ketika harus menanggapinya dalam keadaan hati yg tak stabil.
Seketika pikiranku ambyar. Beberapa jadwal yang saling berkejaran menuntut untuk diselesaikan.
Waktu yang sudah diatur sedemikian rupa, jadi kacau tak karuan.
Belum lagi grup yang satu ribut karena kurang orang.
Satu makhluk di depanku juga sudah mulai mecucu dan berkomat-kamit
karena sadar bahwa semua tak lagi sesuai rencana.
Ahh.. Pelupuk mataku berembun.
Dalam keadaan seperti ini rasanya mengutuk semua orang boleh jadi dapat memuaskan amarah.
Memojokkan, memberi tekanan, menyalahkan, seharusnya aku mempunyai kewenangan untuk melakukan hal yang sama.
Aku berlalu. Ku netralkan perasaan dan mulai berfikir, bahwa aku akan mengerjakan yang aku bisa. Memberikan ikhtiar terbaikku saja.
Meski sempat ada cemas, bagaimana bila nanti aku jadi mc sendiri, jadi pembicara sendiri, ngasih snack sendiri, dokumentasi sendiri, ke sana ke mari sendiri. Dll.
Rasa-rasanya....
Namun, tiba-tiba terlintas di fikiranku ...
"Bagaimana bila kamu pun sama?"
harus menyelesaikan amanahmu seorang diri, sehingga mau tak mau membatalkan kesepakatan yang sudah kita sepakati.
"Bagaimana bila kamu pun sama?"
Harus berjuang seorang diri, karena satu dan lain hal yang di luar kendali.
"Bagaimana bila kamu pun sama?"
Astaghfirullah... Laa hawla walaa quwwata illaa billah.
Aku melangkah. Kali ini langkahku terasa lebih ringan. Hatiku pun mulai lapang. Dan pertolongan Allah berdatangan saat kita mengembalikan semua padaNya.
No comments:
Post a Comment