Tuesday, 21 November 2023

[Definisi] Selesai Dengan Diri Sendiri

Ditulis Pada 13/08/2019
"Gimana mau menyelesaikan permasalahan umat, kalau kamu masih riweuh sama diri sendiri?"
Begitu [mantan] mas'ul saya ngomong sambil cekikikan. Namun, tanpa ia tahu, kalimatnya telah membuat hati saya terhimpit sesak.
Lain kesempatan, seorang adik menemui saya, meminta saya untuk mengisi salah satu majelis di sekolahnya.

        "Ya, Mba ya. Please. Sharing sama adek-adek di sekolah" pintanya.

Saya menghela nafas, menolak langsung permintaannya. Alasan klasik. Merasa tak pantas, merasa tak cukup ilmu, merasa belum selesai dengan diri sendiri hingga rasanya tak pantas jika harus menyelesaikan permasalahan oranglain. Adik itu berlalu, saya melihat gurat sesal di wajahnya. Tapi justru saat itu malah saya yang paling merasa menyesal dengan keadaan diri saya.
Lalu hari berikutnya, giliran Murobbi saya yang ngasih taklimat buat ngisi majelis. Saya menampik.

        "Ya nggak mungkin,lah, Mbak. Mbak kan yang paling paham gimana aku. Aku kan belum selesai dengan diriku sendiri."

        "Loh, emang selesai dengan diri sendiri iku parameternya apa sih?" tanya Murobbi saya.

Saya terdiam, pertanyaan Murobbi saya berulang kali terngiang. Membuahkan kesadaran bahwa selama ini ketidakpahaman diri mengenai -Parameter & Konsep Selesai Dengan Diri Sendiri- membuat semua jadi terasa buram. Lalu muncullah berderet-deret pertanyaan,
Jadi, apa saya harus lanjutkan melangkah atau balik arah? Apa saya di titik minus, nol atau siap untuk melejitkan diri? Kalau parameternya sudah terceklist semua, langkah bijak apa yg seharusnya saya ambil?

Seakan tak mengijnkan saya untuk sejenak kabur, pertanyaan-pertanyaan itu terus memaksa diri agar segera mencari tahu jawabannya. Rasanya ruang hati ini makin terasa sempit, nafas makin termegap-megap, kepala penuh dan pening luar biasa. Hingga seperti tak ada lagi tempat yang lebih nyaman di dunia ini selain menyungkurkan kepala dalam sujud-sujud yang panjang. Dan usai shalat malam itu, saya teringat tentang garputala yang pernah diceritakan kepadaku. Disitulah point penting yang menjadi titik tolak kesadaran:

 أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ  
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.(QS Al-Ankabut 2-3) 


Demikianlah firman Allah. Saat kita selesai dengan diri sendiri, bukan lantas kita menjadi manusia utuh yang sempurna -Bukan-. Selesai dengan diri sendiri bukan maksudnya jalan kita menjadi mulus bagaikan jalan tol -Bukan-. Selesai dengan diri sendiri bukan tamat dan happily ever after, kata Mbak Kar. Sebab, setelah itu kita akan terus diuji... akan terus diuji... akan terus diuji...

Setelah kita menyadari dengan sepenuh hati, Siapa diri kita? Asalnya dari mana? Apa istimewanya kita dibanding makhluk lain? Kita punya apa aja? Kenapa kita diciptakan? Yang bener mana, kita tuh sempurna atau nggak? Kita harus merasa lemah atau merasa kuat sih? Kita boleh saja mengatakan bahwa kita telah beriman.

Namun, definisi selesai dengan diri sendiri di sini adalah titik kesadaran bahwa orang-orang yang telah mengenal dirinya dan penciptanya, semestinya 'bersiap-siap'. Karena sebenarnya, perjalanan mereka di mulai dari bersiap-siap itu. Sebab, ujian demi ujian akan datang untuk menaikkan level keimanannya dan untuk membuktikan apakah mereka termasuk orang yang benar dalam perkataannya [menganggap diri mereka beriman].




Monday, 20 November 2023

Menghadapi Futur : Cara Membersihkan Hati yang Kotor

    Futur itu adalah fase yang pasti akan menimpa diri. Kita perlu memahami diri kita, tentang ritual apa, hal apa, yang kiranya dapat membantu kita untuk menemukan kembali kejernihan hati. Menemukan  kekuatan yang mampu mendorong agar kita  dapat kembali bangkit. Selain lima obat hati, saya sendiri  adalah membaca buku dan menyimak shirah nabawi. Dua ritual kunci yang sangat berpengaruh untuk membantu saya dapat bangkit dari fase futur. Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa Billah.

Belum lama ini. Menarik sekali, tiba-tiba saya dipertemukan dengan penjelasan Q.S Al Baqarah : 129.


Rabbanā wab'aṡ fīhim rasụlam min-hum yatlụ 'alaihim āyātika wa yu'allimuhumul-kitāba wal-ḥikmata wa yuzakkīhim, innaka antal-'azīzul-ḥakīm

" .... yang akan (1) membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan (2) mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan (3) Al-Hikmah  serta => mensucikan mereka. ..."

 

Ternyata belajar (Qur'an) dan menggali hikmah (sunnah), memang menjadi salah satu cara untuk 'mensucikan mereka'.  Maksud dari kalimat 'mensucikan mereka' di sini adalah membersihkan hati (purification, tazkiyah).

Hal ini sejalan dengan mengapa membaca buku dan menyimak shirah itu dapat membantu kita bangkit dari futur. Karena melalui ilmu dan kisah-kisah tersebut kita sedang disirami dengan cahaya hikmah yang dapat membersihakan hati.

Futur itu adalah tanda dari hati yang menjadi keruh. Entah karena rasa marah, iri, kecewa, bohong, kompetisi dan cinta dunia dll. Hal-hal yang membuat hati kita yang sebelumnya Allah ciptakan sebening cristal menjadi kian kotor, bertambah kotor, semakin kotor dan menjadi hitam.

Maka, purification atau tazkiyah adalah ritual yang perlu  senantiasa kita lakukan. Allah sudah pandu kita bagaimana melakukan purification atau tazkiyah tersebut, salah satunya melalui Q.S Al-Baqarah ayat 129.

Maasyaa Allah, Tabaarakallah.

Tuesday, 14 November 2023

Semenjak Belajar Islamic Psychology, Terpaksa 'Meninggalkan Musik'

Lingkaran terdekat saya pasti tau kalau saya hobi nyanyi dan suka banget musik. Diakui atau enggak, suara  saya lumayan kan gaes? lumayan bagus. But sometimes, lumayan bikin pusing pendengar. 😂

Dulu saya pernah melihat-lihat pola behavior saat belajar selama SD hingga SMA. Sampai pada kesimpulan, "jika saya belajar dengan menggunakan musik, saya bakal happy dan hasilnya lebih maksimal." Dengan kesimpulan tersebut saya melakukan hal yang berulang selama bertahun-tahun.

Hingga suatu hari, saat di kelas islamic psychology kami melakukan bedah kasus dengan berdialog. Waktu itu saya hanya berperan sebagai participant saja. Kelompok lain yang melakukan dialog dengan dosen . Saat ini saya belum bisa mengkomunikasikan dengan gamblang apa yang terjadi saat dialog berlangsung, namun dialog tersebut membuat saya masuk ke dalam sebuah keyakinan "Benar, bahwa kebathilan tak akan mampu bercampur dengan kebaikan".

Selain itu, dialog tersebut menggambarkan kepada saya betapa mengerikannya ilmu psikologi jika kita  salah memahami fundamental dan bagaimana perpectiv islam di dalamnya. Bahayanya bahkan hingga bisa mencemari aqidah diriku sendiri atau orang lain yang terinfluence. Itu sebabnya, mengapa  saat ini lebih banyak psikolog ateis di dunia ini.

Maka, pada saat itu, saya memutuskan untuk tak memainkan musik apapun saat saya belajar. Ada rasa khawatir jika sesuatu yang saya dengarkan tersisip nilai maksiyat, maka akan melunturi kemurnian pemahaman yang seharusnya saya dapatkan ketika belajar.

"Tapi ajaibnya, jika dahulu ketika belajar sambil mendengarkan musik saya mampu bertahan dalam waktu yang lama, kini saat beralih ke  metode deep learning tanpa dicampuri dengan musik, saya bahkan bisa mencapai ketahanan fokus yang berkali-kali lipat lebih lama. Biidznillah.."

Saat ini, saya memang tidak sepenuhnya meninggalkan musik, saya masih suka update lagu terbaru, memainkannya di waktu senggang. Menyanyi saat tidak ada siapa-siapa. Tapi sebisa mungkin, ketika sedang belajar ilmu diniyah, termasuk islamic psychology ini aku berusaha untuk menghindarinya. Seakan ada perasaan sungkan yang sama seperti saat ketika terdengar bacaan Al Qur'an, lalu kita pastikan tidak ada suara-suara lain yang mengganggu. Atau perasaan sungkan yang hadir ketika ada yang sedang shalat,  lalu kamu menyingkirkan semua hal yang bisa mengganggu kekhusyukannya.

Ternyata selama ini aku adalah manusia yang terperangkap dalam sebuah gua dalam theory Plato’s “Allegory of the Cave” (380 BCE). 

[Definisi] Selesai Dengan Diri Sendiri