Andai engkau tahu beratnya menjaga amanah. Bahkan langit-langit, bumi, dan gunung-gunung pun tidak sanggup memikulnya.
Menjalankan amanah dan menjaganya bukanlah perkara yang bisa dilakukan semudah membalik telapak tangan. Namun Ia mampu membangun amanahnya hingga sekarang ini. Namun Ia mampu memikul amanahnya hingga sampai ke jalan ini.
Kita yang kemudian menaruh ambisi besar kepadanya,
berdalih dengan alasan sebagai sebuah bentuk kepercayaan.
Kita yang lupa di mana seharusnya meletakkan sebuah pengharapan.
berdalih dengan alasan sebagai sebuah bentuk kepercayaan.
Kita yang lupa di mana seharusnya meletakkan sebuah pengharapan.
Sampai kemudian kita turut lupa bahwa ia adalah manusia biasa.
Kita yang lupa tentang fitrahnya,
bahwa setiap insan merupakan persemayaman dari segala bentuk khilaf.
Kita yang lupa tentang fitrahnya,
bahwa setiap insan merupakan persemayaman dari segala bentuk khilaf.
Atau mungkin kita yang sengaja mengingkari
karena yang lalai adalah dia?
---Dia tidak boleh lalai, nanti bagaimana jadinya kita--- Ahh, begitu egoisnya
karena yang lalai adalah dia?
---Dia tidak boleh lalai, nanti bagaimana jadinya kita--- Ahh, begitu egoisnya
Jalaran kita yang lupa dimana seharusnya menaruh sebuah hasrat, maka, rasa kecewapun melimpah ruah.
Terlebih karena manusia lebih gampang memberikan gelar keburukan tenimbang memberi gelar kebaikan.
Seribu kebaikan yang telah ia lakukan selama ini tidak menjadikannya sebagai seorang malaikat dunia. Namun satu kelalaian yang ia lakukan sudah cukup bagi kita untuk mengecapnya sebagai orang yang terkutuk, sebagai terdakwa yang pantas dihukum mati.
Begitukah hukum di dunia? satu kelalaian yang ia lakukan membuat kita melupakan seribu kebaikannya selama ini.
No comments:
Post a Comment