Tuesday, 14 November 2023

Semenjak Belajar Islamic Psychology, Terpaksa 'Meninggalkan Musik'

Lingkaran terdekat saya pasti tau kalau saya hobi nyanyi dan suka banget musik. Diakui atau enggak, suara  saya lumayan kan gaes? lumayan bagus. But sometimes, lumayan bikin pusing pendengar. 😂

Dulu saya pernah melihat-lihat pola behavior saat belajar selama SD hingga SMA. Sampai pada kesimpulan, "jika saya belajar dengan menggunakan musik, saya bakal happy dan hasilnya lebih maksimal." Dengan kesimpulan tersebut saya melakukan hal yang berulang selama bertahun-tahun.

Hingga suatu hari, saat di kelas islamic psychology kami melakukan bedah kasus dengan berdialog. Waktu itu saya hanya berperan sebagai participant saja. Kelompok lain yang melakukan dialog dengan dosen . Saat ini saya belum bisa mengkomunikasikan dengan gamblang apa yang terjadi saat dialog berlangsung, namun dialog tersebut membuat saya masuk ke dalam sebuah keyakinan "Benar, bahwa kebathilan tak akan mampu bercampur dengan kebaikan".

Selain itu, dialog tersebut menggambarkan kepada saya betapa mengerikannya ilmu psikologi jika kita  salah memahami fundamental dan bagaimana perpectiv islam di dalamnya. Bahayanya bahkan hingga bisa mencemari aqidah diriku sendiri atau orang lain yang terinfluence. Itu sebabnya, mengapa  saat ini lebih banyak psikolog ateis di dunia ini.

Maka, pada saat itu, saya memutuskan untuk tak memainkan musik apapun saat saya belajar. Ada rasa khawatir jika sesuatu yang saya dengarkan tersisip nilai maksiyat, maka akan melunturi kemurnian pemahaman yang seharusnya saya dapatkan ketika belajar.

"Tapi ajaibnya, jika dahulu ketika belajar sambil mendengarkan musik saya mampu bertahan dalam waktu yang lama, kini saat beralih ke  metode deep learning tanpa dicampuri dengan musik, saya bahkan bisa mencapai ketahanan fokus yang berkali-kali lipat lebih lama. Biidznillah.."

Saat ini, saya memang tidak sepenuhnya meninggalkan musik, saya masih suka update lagu terbaru, memainkannya di waktu senggang. Menyanyi saat tidak ada siapa-siapa. Tapi sebisa mungkin, ketika sedang belajar ilmu diniyah, termasuk islamic psychology ini aku berusaha untuk menghindarinya. Seakan ada perasaan sungkan yang sama seperti saat ketika terdengar bacaan Al Qur'an, lalu kita pastikan tidak ada suara-suara lain yang mengganggu. Atau perasaan sungkan yang hadir ketika ada yang sedang shalat,  lalu kamu menyingkirkan semua hal yang bisa mengganggu kekhusyukannya.

Ternyata selama ini aku adalah manusia yang terperangkap dalam sebuah gua dalam theory Plato’s “Allegory of the Cave” (380 BCE). 

No comments:

[Definisi] Selesai Dengan Diri Sendiri