"Seberapa
yakinkah kita bahwa obsesi kita dapat mengantarkan kita pada
keberartian, pada kepuasan batin sebagai seorang hamba yang briman. dan
puncaknya pada pengharapan kita akan surga Allah."
Obsesi yang kita bangun seharusnya dimuarakan untuk mengharap ridho Allah, surga dan ampunannya. Untuk itu kita perlu menimbang ulang dan memetakan obsesi kita.
- Seberapa Dekat ia dengan Kewajiban.
Sebab, seperti kata salafus shalih "Tidak akan diterima amal sunnah kecuali setelah ditunaikanya amalan yang wajib".
Namun, jangan khawatir tidak mendapat tempat untuk mengaktualisasika
diri. Ada begitu banyak pekerjaan yang wajib secara dzatnya.Ada pula
yang menjadi wajib karena ia syarat tertunaikannya kewajiban yang lain.
Dengan ukuran ini setiap pekerjaan di sektor apapun , juga setiap peran
di sisi apapun selama itu halal memiliki kadarnya tersendiri dari segi
kedekatannya dengan kewajiban.
- Seberapa Luas ia dalam Memberi Manfaat.
Semakin
banyak orang yang bisa mengambil manfaat dari peran itu, tentu makin
baik. ini selaras dengan sabda Rasulullah ahwa sebaik-baik manusia
adalah yang paling memberi manfaat bagi manusia lain. Mafaat yang luas ,
bisa juga terkait dengan seberapa banyak populasi orang yang dapat
mengambil manfaat dari peran tersebut. Ini benar-benar obsesi yang
menarik untuk dipikirkan oleh seorang muslim. Pada setiap pilihan obsesi
orang bisa merasakan betapa bila bisa memberi manfaat pada lebih banyak
orang , maka akan jadi kebahaiaan tersendiri yang tidak akan ia rasakan
bila memberi manfaat pada sedikit orang.
- Seberapa Strategis ia Sebagai Fungsi.
Sebuah peran yang ingin kita ambil untuk mewdahi obsesi-obsesi kita
layak dilihat dari seberapa strategis peran itu sebaai fungsi.
Peran-peran strategis membutuhkan keahlian dan kapasitas yang tidak
biasa-biasa saja. peran-peran strategis ini adalah tempat berlabuhya
orang-orang besar.
Nabi Musa semula tidak ingin melayani tantangan
Firngaun untuk membuktikan adanya Tuhan yang benar. Namun begitu
Firngaun setuju untuk melakukan tanding dengan disaksikan ribuan
rakyatnya, Musa setuju. Sebab, diitu ada peran yang sangat strategis
untuk menyampaikan kebenaran bagi orang-orang Bani Israil.
- Seberpa Awet ia Secara Usia
Inilah yang sering kita sebut sebagai amal jariah. ini wadah yang cocok
bagi mereka yang berobsesi untuk menanamkan kebaikan tidak hanya untuk
dirinya namun juga untuk orang lain. tidak pula hanya bermanfaat ketika
ia masih hidup juga tetap bermanfaat ketika ia telah mati. hal itu
karena obsesi kita menjadi warisan bagi generasi kita selanjutnya.
sehingga generasi kita selanjutnya yang akan melanjutkan.
- Seberapa Kuat ia Memberi Kepuasan Terhadap Jiwa
Mungkin
hal ini terkesan subjektif atau bersifat selera, namun hal itu bukan
merupakan suatu hal yang di larang. hal itu dapat kita bingkai dalam
rangka berlomba-lomba dalam kebaikan dan memohon balasan Allah. Umar bin
Abdul Aziz betapa ia memiliki jiwa yang obsesif, bila telah mencapai
suatu prestasi ia ingin mencapai prestasi yang lebih tinggi lagi. Begitu
selanjutnya hingga obsesi yang tersisa hanya satu yaitu masuk surga.
Bila telah terpilih maka selanjutnya gapailah osesi terus dan terus hingga hanya kematian yang bisa menghentikan.





No comments:
Post a Comment